Reflect. Create. Impact

Akhirnya, saya memberanikan diri membagikan perjalanan saya dalam berlatih membuat video dan konten, dengan merilis akun Youtube saya (link disini).

Motivasi utamanya adalah untuk mendorong saya agar terus berusaha menghasilkan sesuatu (berupa video dan konten), yang semoga dari waktu ke waktu, dapat kian meningkat kualitasnya, baik dari pesan yang dibagikan, dan soal teknik dan ilmu videography. 

Saya banyak terinspirasi dari sebuah channel Youtube bernama “New Age Creator” (link). Sebuah channel video yang dibuat oleh lima orang pembuat konten, yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka komit untuk membagikan video dan pesan yang unik dari tiap orang. Sekaligus menjadi wadah belajar videomaking dan berbagi value kehidupan.

Membuat video memang menarik. Karena, jenis konten ini mampu mencakup semua hal, seperti gambar, suara, gerakan, animasi, grafis, text, sesuai mood yang ingin disampaikan kepada audience.

Mengenai slogan ‘Reflect. Create. Impact’, saya ingin menjadikan channel ini menjadi sarana saya merefleksikan pemikiran dan ide saya, lalu dituangkan dalam wujud karya, yang (semoga) bisa memberi impact positif bagi tiap orang yang berkunjung di channel saya.

Saya masih terus belajar dan semoga bisa konsisten. Semangat!

Virtual plein air study 9 Oct 2018

9 okt 183158314407

Di studi kali ini, saya coba belajar beberapa hal:

  • komposisi
  • peletakkan focal point pada gambar (tampak pada gambar di bawah)
  • value hitam putih, dengan spot terang sebagai aksen
  • mengubah scene kompleks menjadi stylized

9 okt 18_flowSaya berusaha agar rumah tersebut menjadi focal point di gambar ini. Saya sengaja mengubah beberapa bentuk dari pohon dan objek sekitar, untuk mendukung upaya ini. Flow atau aliran pada keseluruhan layout, sengaja mengarah pada rumah putih tersebut. Ini adalah salah satu cara agar mata audience segera mengetahui apa dan dimana objek utama yang ingin ditonjolkan.

Saat cinta kami harus dipisahkan karena….. cacar air!

Sekitar 3 hari lalu, Dwi sudah menunjukkan gejalanya. Demam, batuk, pilek, dan diakhiri munculnya bentol-bentol di sekujur tubuh dan wajah. Saat dipastikan oleh dokter bahwa dia kena cacar air, berbagai cara pun kami lakukan agar kondisi rumah (khususnya karena ada baby) tetap steril dan meminimalisir penularan – kami memutuskan untuk tidak perlu opname, tapi menyediakan kamar di rumah untuknya tetap “terisolasi” dari lingkungan sekitar.

Meski saya sudah terkena cacar di waktu kecil, disarankan oleh dokter, tetap waspada dan jaga jarak terhadap pengidap cacar. Bahasa kami yang adalah quality time dan sentuhan pun harus disesuaikan karena penyakit ini. Huh!

Tidak mudah buat saya dan Tabitha, harus menjaga jarak dari orang yang begitu kami kasihi, istri dan ibu. Kami berjuang agar Dwi segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

ilustrasi gara-gara cacar airCacar! Segeralah pergi dari wanita yang kami kasihi ini! Biarkan dia sembuh dan kembali menikmati kebersamaan tiap hari bersama kami yang selalu mencintainya.

*NB: sketsa dibuat di jam istirahat makan siang. Hfft..