Trans Studio

Saya bersyukur pada Tuhan saya diberi kesempatan bekerja di Trans Studio. Sebuah perusahaan kreatif yang sedang mengembangkan sayapnya di bidang taman hiburan indoor. Masih panjang perjalanan saya di studio ini. Tapi saya harap, pelajaran demi pelajaran yang berharga dapat saya alami selama waktu-waktu ini. Bergantung pada Tuhan.

Pekerjaan Mulia

Setiap orang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Itulah salah satu wujud tanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga kepada orang-orang di sekitar. Namun setiap orang punya alasan dan motivasi yang berbeda dalam memilih suatu pekerjaan atau perusahaan. Bisa alasan materi, passion, nasionalisme, atau bahkan alasan sosial.

Pada umumnya orang-orang akan memilih pekerjaan yang menjanjikan income besar dan fasilitas ekstra. Siapa yang tidak mau, hal itu sangat bisa dimaklumi dan manusiawi. Karena manusia memiliki kekuatiran akan masa depannya dan ketika ia bisa memperoleh jaminan untuk hidup berkecukupan dan nyaman, hal tersebut membawa ketenangan dan kelegaan tersendiri.

Belum lagi ditambah dengan pride yang diperoleh jika dapat bergabung di salah satu perusahaan hebat. Kebesaran perusahaan tersebut ternyata membawa pengaruh secara langsung kepada kebesaran nama baik pribadi juga. Lalu masyarakat akan memandangnya dengan tatapan berbeda dan memberi cap “orang sukses”.

Saya mulai sedikit ragu dengan tulisan saya. Pemahaman saya tentang kesuksesan itu sendiri pun masih blur. Orang tua-orang tua jaman dulu sih merumuskan kesuksesan dengan formula yang sederhana saja, orang sukses = kerja mapan + harta berlimpah + keluarga baik-baik.

Lalu bagaimana dengan kasus ini. Di tempat saya bekerja, ada seorang satpam usia paruh baya. Saya hampir tidak pernah melihat beliau cemberut dan mengeluh. Selalu tersenyum dan menyapa, di pagi hari maupun di siang hari bahkan sampai di jam pulang kantor. Beliau sudah bekerja di sini dalam waktu yang cukup lama. Beliau makan siang setelah seluruh karyawan selesai makan siang. Dan beliau dengan setia menjaga di depan pintu kantor dari pagi hingga malam, di saat karyawan-karyawan lain sudah pulang.  Mungkin gajinya tidak seberapa dan entah bagaimana hari tuanya nanti. Tapi saya salut dan respek dengan bapak ini. Saya menghormati dia dengan loyalitas dan keceriaannya. Menurut saya, beliau sudah mencapai kesuksesan dalam pekerjaannya. Beliau sudah melakukan suatu pekerjaan mulia, bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk melayani banyak orang.

Kemuliaan suatu pekerjaan seharusnya tidak diukur dari seberapa besar gaji yang diperoleh, seberapa megah gedung kantor, atau seberapa bergengsi nama perusahaan tempat bekerja. Tetapi kemuliaan suatu pekerjaan bergantung pada orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan itu, dengan motivasi dan kesediaan bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri, namun untuk melayani sesama.

Jangan sampai anda merasa menyesal di kemudian hari karena kesuksesan anda (berdasarkan definisi orang tua jaman dulu), menyisakan rasa hambar di dalam hati karena anda lupa melakukan satu elemen penting dalam bekerja, yaitu melayani sesama.

Kolaborasi kembali aktif! 🙂

Tulisan : Dwi Ratih Perbawati Hutapea (http://dwihutapea.wordpress.com)

Ilustrasi : Tigor Boraspati Sidauruk (http://marikarikatur.tumblr.com)