Menjadi Orang Tua yang Ekspresif?

Sudah 27 bulan lamanya (sejak istri mengandung 9 bulan + usia putri saya sekarang, 18 bulan), saya menjalani peran sebagai orang tua. Ada satu hal penting yang saya pelajari dari interaksi dan waktu yang dilewati bersamanya.

Tidak lain adalah bagaimana saya yang introvert dan cenderung tidak terlalu ekspresif ini, sedang dibentuk dan diajar untuk mau menjadi lebih ekspresif yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti kemampuan untuk tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan.

Ya. Tiap interaksi saya dengan putri saya, kini, haruslah lebih ekspresif. Saya harus mampu menampilkan gestur, gerakan, sikap, atau tingkah laku yang ekspresif, khususnya saat sedang bermain dengannya. Ini adalah sebuah kata kunci baru dalam perjalanan saya sebagai orang tua.

EKSPRESIF. 

Saya tidak perlu malu, saya tidak perlu jaim (jaga image) apabila di dekatnya. Saya bisa menjadi apa adanya saya. Bermain, menari, melakukan gerakan-gerakan lucu dan kadang tak terduga, mengeluarkan suara-suara aneh, hingga ekspresi wajah yang cenderung cartoony. Semua demi memperkuat bonding dan keintiman yang murni dengan sang buah hati. Ia akan melihat apa adanya saya. Tidak tertutup-tutupi. Inilah saya yang konyol, kocak, kaku, cartoony, bahkan garing (membuat lelucon yang kadang tidak lucu) di hadapannya.

Sketch_28_2_2018

“Apakah berarti orang tua yang tidak terlalu ekspresif bisa dikatakan tidak dekat dengan anaknya?”

Bukan demikian. Tentu saya percaya, kata ekspresif tidak serta merta menjadi rumusan yang berlaku baku dan wajib bagi semua orang tua. Tapi ini berlaku bagi saya. Kami berdua jadi lebih menikmati waktu bersama. Waktu membaca buku anak jadi lebih berwarna, lebih ceria, lebih hidup, lebih menyenangkan.

Membaca dengan intonasi yang dinamis, playful, bahkan diselingi bunyi-bunyian tertentu (misal: hewan kucing – meong, atau mobil – ngeeng, hingga traktor – dududududuk), akan membuat aktivitas membaca lebih seru! Tidak monoton.

Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana menjaga mood dan situasi hati untuk tetap konsisten menampilkan ekspresi yang hidup, semangat, dan menyenangkan bersamanya, ketika saya baru saja menghadapi hari yang berat (lalu lintas hectic, atau deadline pekerjaan kantor yang tidak terduga). Ini adalah tantangan setiap harinya.

Tapi, menjadi ekspresif adalah satu komitmen baru saya dalam menjalani peran sebagai bapak. Saya percaya, dengan menjadi orang tua yang ekspresif, jujur dalam menampilkan citra diri di hadapan anak, termasuk ketidaksempurnaan dan apa adanya diri saya, hubungan diantara kami akan semakin erat, dekat, dan mesra.

Biarlah masing-masing kita, sebagai orang tua, mampu lebih kreatif mengembangkan cara-cara untuk menjalin hubungan yang kuat dengan putra-putri kita. Semua tidak akan sia-sia.

Advertisements

Perjalanan menjadi orang tua selama 7 bulan ini

Tak terasa, sudah 7 bulan kami diberi kepercayaan Tuhan menjadi orang tua bagi anak pertama kami, Tabitha. Bersyukur untuk semua ini!

Meski seharusnya hal ini bukanlah alasan mengapa saya tidak lagi sering mengupdate blog ini (baik lewat tulisan maupun gambar), tapi memang, kapasitas dalam membagi waktu keluarga dan pribadi (update blog) tetap begitu menantang untuk dijalani.

Tapi semoga ke depan, bisa mulai konsisten lagi mengupdate blog, meski hanya sesuatu yang sederhana.

Selama bulan-bulan tersebut, satu hal krusial yang menjadi poin penting dalam kami menjalankan peran sebagai orang tua (yang keduanya bekerja) dengan segala keberhasilan dan kegagalan – memang masih awal (menuju 5 tahun pernikahan dan anak yang usia 7 bulan), tapi sudah mencoba mengevaluasinya secara reguler – adalah betapa pentingnya arti komunikasi di antara sang suami dan istri tersebut.

Komunikasi ini meliputi segala hal, dari hal paling sederhana dalam kehidupan berkeluarga, sampai aspek penting dalam menentukan arah dan langkah ke depannya.

Kehadiran sang buah hati tidak boleh menjadi alasan ‘kurangnya kualitas hubungan dan komunikasi’ di antara suami dan istri. Jikalau anak diijinkan menjadi ‘sekat’ bagi hubungan yang seharusnya terus intens antara sang bapak dan ibu, maka, kalau saya amati, sebenarnya kita sedang menyiapkan bom waktu dalam kehidupan berumahtangga.

Kesediaan menyediakan waktu untuk mendengarkan, curhat, sharing, ngobrol, atau membagikan update masing-masing di tengah rutinitas bekerja sambil merawat dan mengasuh anak memang sangatlah menantang. Bersyukur ada orang tua istri yang juga membantu mengasuh anak.

Sangat menantang? Bagaimana tidak? Sudah lelah bekerja seharian, apakah masih ada kapasitas untuk sharing dan komunikasi? Belum lagi suara kita (orang dewasa) bisa membangunkan waktu tidur si anak. Jadi betapa langkanya kesempatan berkomunikasi bagi suami dan istri.

Namun, saat kami mulai menyepakati untuk tetap menyediakan waktu berkomunikasi (dari hal sepele sampai penting) setiap harinya, bisa di pagi hari saat menunggu kereta istri datang, atau di saat prime time di ruang tv (tanpa menghidupkan tv), maka bonding dan kesehatian di antara kami tetap terjaga – ini yang saya amati.

Membesarkan anak tidaklah mudah. Bukan pekerjaan satu pihak saja. Ini melibatkan kedua belah pihak, suami dan istri secara berkesinambungan, intens, kontinyu, dan tidak ada saling melempar tanggung jawab, ditambah anggota keluarga lain yang terlibat di dalamnya (orang tua, saudara, dll). Keberhasilan si anak, adalah keberhasilan kedua orang tua. Ini kerja sama. Ini aktivitas “saling”. Saling back-up, saling support, saling mengisi, saling menopang, saling mengingatkan, saling berbagi informasi berguna, dan saling-saling lainnya.

Jadi, dua poin utama ini: komunikasi dan kerja sama yang menjadi highlight saya dalam terus belajar menjalankan peran sebagai bapak dan suami di keluarga.

Oh, saya hampir melupakan satu poin lainnya yang tidak kalah penting. Justru (ternyata) ini yang paling penting. Hal itu adalah..

“Peran Tuhan sebagai Pusat di sebuah rumah tangga (keluarga).”

Apa maksudnya?

Saat dua orang dewasa, suami istri, yang penuh kelemahan dan kekurangan, yang jauh dari kata sempurna ini akan berusaha membesarkan seorang manusia baru, tentu tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil melakukannya. Bagaimana bisa menjadi penghasil manusia – bukan dimaksudkan sebagai pabrik produksi anak, tapi lebih pada seorang yang bertanggungjawab menghasilkan generasi muda berikutnya dalam kehidupan – yang baik jika pada dasarnya, sang suami dan istri adalah dua manusia yang juga sangat banyak kekurangan (kelalaian, kekurangsigapan, ketidakadaan pengalaman, egois, keras hati, cuek, dll)? Maka, disinilah maksud pentingnya menjadikan Tuhan Pusat dalam keluarga.

Semua dari Tuhan dan sesungguhnya dikaruniakan Tuhan.

Jadi, betapapun kesanggupan orang tua kelak dalam membesarkan anak, tidak ada celah untuk suami dan istri dalam meninggikan diri dan mengklaim, “keberhasilan ini adalah karena kehebatan/ kecakapan saya sebagai orang tua” dan seterusnya. Sikap ini bisa menjauhkan dan mengecilkan peran Tuhan yang (sesungguhnya) sangat besar dalam kehidupan keluarga, dan dalam pertumbuhan si anak. Dan ini adalah suatu sikap yang keliru.

Pada akhirnya, semoga keluarga ini bisa terus berjalan ke arah yang diinginkan Yang Maha Kuasa. Berperan di dunia ini sesuai apa yang digariskan-Nya, dan terutama, meninggalkan generasi penerus yang takut akan Tuhan dan mencintai sesama. Karena, betapa berbahagianya orang tua yang mengetahui bahwa anak-anaknya hidup dalam kebenaran.

Terimakasih sudah membaca!