Menjadi Manusia (lagi!)

Baru-baru ini, menikmati waktu berkualitas bersama istri, setelah anak tertidur dengan menyaksikan film dokumenter “The Social Dilemma”, di Netflix. Sebuah tayangan yang sudah lama istri saya rekomendasikan untuk ditonton. Agar bisa jadi bahan diskusi bersama. Ya. Diskusi antara suami dan istri di tengah larutnya malam.

Dan benar saja. Tepat setelah menyaksikannya, kami berdiskusi selama 2.5 jam hingga pukul 2 subuh lebih, mengenai banyak hal. Dan tanpa menyentuh sedikitpun gadget kami masing-masing. (spoiler alert!) Mulai dari isu sosial media, betapa para kreator di balik tiap platform sosial media berani jujur dan blak-blakan mengutarakan pandangannya, lalu efek dan pengaruhnya dalam kehidupan kita, hingga sampai ke bagaimana sikap tiap individu menyikapi hal tersebut. Bagaimana semua itu bisa mempengaruhi jati diri kita, sebagai umat manusia.

Manusia merupakan makhluk yang sangat spesial dan luar biasa. Dari mempelajari sejarah saja, kita sudah tahu betapa kreativitas dan gagasan manusia nyaris selalu bisa mengubah jalannya kehidupan dari abad ke abad. Termasuk sosial media. Saya pribadi, nyaris menggunakan semua platform media yang disebutkan di tayangan tersebut.

Mulai dari Twitter (untuk mendapatkan info cepat tentang Inter Milan, videogame, hingga politik!), Youtube (siapa yang tidak buka Youtube?!), Instagram (tempat menaruh karya-karya), Pinterest (sumber utama mencari inspirasi visual), dll. Hidup saya dapat dikatakan didominasi pengaruh platform-platform sosial media tersebut dari tahun ke tahun!

Yang menjadi menarik adalah semua hal tersebut tidak serta merta dapat disebut sebagai sumber utama masalah-masalah kehidupan manusia. Munculnya gerakan unsubscribe atau uninstall aplikasi-aplikasi yang dirasa memberi efek buruk pada turunnya tingkat produktivitas atau kesehatan mental manusia, hanya menjadi salah satu reaksi ekstrim dari penonton tayangan ini. Itu adalah hak mereka. Sah-sah saja.

Tetapi, kalau saya boleh secara jujur mengakui, bisa jadi, penyebab utama makin maraknya dampak negatif dari penggunaan sosial media dan semua platform tersebut ada di dalam diri kita masing-masing. Diri saya sebagai manusia. Semua itu tersimpan rapih di dalam hati dan kedalaman jiwa tiap individu.

Pengakuan. Pujian. Popularitas. Kenikmatan instant. Pemuas kebutuhan. Dan segala bentuk kehausan jiwa lainnya yang tampak bisa dipenuhi dalam rupa atraktifnya dunia sosial media. Maka, hidup sebagai orang tua yang bekerja sambil membesarkan putri berusia 3 tahun tidak akan lepas dari semua isu ini juga. Pelarian. Rehat sejenak. Itu adalah alasan-alasan manusiawi yang bisa digunakan. Yang saya pun gunakan.

Tapi, diskusi panjang kami pun sampai pada suatu kesimpulan yang dapat disepakati bersama. Semua selalu bermuara kepada insan bernama manusia. Apakah ia mau secara sadar dan berani menjadi manusia lagi seutuhnya? Diawali dengan kesediaan mengambil alih jalannya kehidupan yang sebelumnya sangat tergantung (atau diatur) oleh alat maha dahsyat bernama sosial media (juga gadget), atau secara rela dan pasrah dikendalikan sepenuhnya olehnya?

Langkah praktis kami. Memasang apps pengendali/ pemantau/ pembatas waktu menggunakan smartphone/ apps di hp kami masing-masing. Dan seperti sudah diduga sebelumnya, betapa kegagalan demi kegagalan yang kerap terjadi. Upaya kami untuk perlahan tapi pasti untuk lepas dari ketergantungan ini amat melelahkan.

Tapi, ini adalah sebuah proses. Proses yang panjang. Tapi, kami berdua sepakat malam itu, semua akan membuahkan hasil yang tidak akan pernah disesali. Bagi kami maupun anak kami kelak.

Apa yang ‘WFH’ ajarkan pada Saya

‘WFH’ mendadak menjadi hits.

Istilah yang memang sudah ada sebelumnya itu, kini mendadak trending di Indonesia. ‘WFH’ berarti ‘Work From Home’ merupakan salah satu cara yang dipakai perusahaan-perusahaan pemberi jasa, untuk mengijinkan pegawainya bekerja (layaknya di kantor, dengan jam kerja yang juga sesuai dengan aturan yang berlaku), tapi dari rumah. Ya, rumah masing-masing pegawai. Tidak diharuskan masuk ke kantor.

COVID-19 (yang hingga tulisan ini dibuatpun masih mewabah), telah membuat bukan hanya sedikit perusahaan memberlakukan ‘WFH’, tetapi sebagian besar perusahaan mau tidak mau melakukan sistem kerja ini. Khususnya di Jabodetabek. Hastag dirumahaja menjadi suatu yang biasa.

Begitu pun yang saya dan istri alami. Sampai kini, kami bahkan sudah mulai nyaman dan makin biasa dengan sistem kerja ini. Bagaimana tidak? Sudah 27 hari (termasuk weekend) saya menghabiskan waktu saya, bekerja, beraktivitas, dan lainnya, semua dari rumah. Sudah hampir 30 hari! Dahsyat.

Nah, jadi, apa yang ‘WFH’ sudah ajarkan bagi saya?

Tidaklah bijak kalau 27 hari dilewati tanpa adanya pembelajaran dan sesuatu hal positif yang bisa dipetik. Berikut ijinkan saya membagikan sedikit di antaranya (meski proses tentu masih berlangsung hingga kini!):

Mendefinisikan kembali arti menjadi orang tua yang sekaligus seorang profesional. 

Saat diharuskan tetap profesional di jam bekerja (Senin – Jumat), tetapi di waktu bersamaan, sang buah hati tentu juga makin bersemangat untuk meminta waktu dari orang tuanya untuk menemaninya main atau sekadar membalas celetukannya, karena kehadiran kita yang nyaris 24 jam (kecuali saat di kamar mandi atau me time) di dekatnya, maka, ini bisa menjadi sesuatu yang menantang.

Komitmen saya untuk tidak mengunci pintu kamar saat bekerja, memang berbuah situasi yang kadang tak dapat diduga. Dimana sang buah hati, bisa menginterupsi waktu bapaknya di depan laptop. Dan sudah pasti, rasa curiosity yang memuncak, membuatnya ingin masuk ke dunia bapaknya. 

Yang kebetulan dunia bapaknya adalah mirip dunianya juga. Membuat kartun. Dunia yang lucu. Tokoh yang kaya warna. Animasi. Ilustrasi berwarna dan menarik. Penuh imajinasi. Tentu semua hal ini makin menarik dia ingin terjun ke dalamnya. Ia pun mengeluarkan perkataan khasnya,

Apa itu bapak? (sambil menunjuk ke arah monitor laptop.. lalu beberapa detik kemudian) Bitha mau naik.”

Maksudnya mau naik ke atas pangkuan bapaknya. Mau dipangku menghadap layar laptop yang sedang aktif dan menampilkan berbagai informasi, yang kadang menarik, kadang tidak. Meski kalau ia cukup beruntung, ia bahkan melihat bapaknya sedang bekerja membuat sebuah karya. Ia selalu mendapat akses VIP melihat bagaimana bapaknya bekerja dari nol hingga hasil jadi!

Untungnya sang buah hati memang peduli pada bapaknya. Ia tahu bapaknya orang yang kalau bekerja, sepertinya fokus dan butuh konsentrasi. Ia tidak banyak melakukan hal-hal tak terduga seperti menekan tombol power (pernah sekali!), atau mengganggu waktu jam video call (karena feature mute segera diaktifkan). Saya cukup bersyukur untuk hal ini.

Alhasil, meski jam bekerja dan waktu istirahat memang ada. Tetapi bagi saya, keputusan untuk memberinya akses seluas-luasnya – asal masih dalam kadar yang tepat – untuk masuk ke dunia pekerjaan bapaknya – yang memang merupakan dunianya juga – merupakan salah satu cara yang cukup berhasil dalam meningkatkan bonding time antara bapak dan anak perempuannya.

ilustrasi_WFH

Ia akan sadar, meski bapaknya juga harus bekerja dari rumah, bukan berarti waktu bapaknya telah direnggut darinya saat tengah bekerja, melainkan, ia pun dapat masuk dan ikut menikmati proses di dalamnya. 

Bagaimana melewati waktu demi waktu tanpa menyesalinya.

Manajemen waktu menjadi sesuatu yang krusial di masa-masa WFH ini. Meski slot 8 jam sudah disimpan untuk waktu bekerja (9 pagi sampai 18 sore), tapi tentu masih menyisakan jam-jam berikutnya yang tidak kalah penting untuk digunakan dengan tepat.

Selain untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, saya juga melihat ini menjadi kesempatan bagi saya untuk tetap produktif. Bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi juga untuk pengembangan diri saya. Bagi seorang yang gemar membaca buku, waktu-waktu ini merupakan sesuatu yang istimewa.

Atau untuk mengerjakan personal work di jam setelah pekerjaan. Dan bahkan, bisa mengerjakan DIY (do-it-yourself project) untuk anak saya! Belum lagi kesempatan bagi saya untuk berlatih ‘turun tangan’ menangani kebersihan dan kerapihan rumah, bersama istri dan mertua. Bahu membahu bekerja sama menjaga keindahan dan kondisi rumah merupakan hal menarik yang bisa dilakukan.

Intinya, bagaimana kreatif dan cerdiknya kita untuk mengisi hari dengan hal seru dan positif. Sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Kesempatan bagi lahirnya kebiasaan-kebiasaan baru yang, bisa berujung sesuatu yang hebat, atau malah menuju keterpurukan!

Poin yang mirip dengan yang sebelumnya. Kali ini berhubungan dengan habit atau kebiasaan. Sudah hampir 30 hari penuh saya bekerja dari rumah. Sudah tentu waktu tersebut cukup bagi saya mengembangkan habit baru yang ingin saya miliki dalam hari-hari saya. Bahkan setelah wabah COVID-19 ini berakhir.

Berolahraga tiap pagi, menjadi sesuatu yang akhirnya bisa saya lakukan dengan leluasa. Entah jogging di komplek perumahan, atau menggunakan apps panduan exercise dari rumah. Tidak perlu ke gym. Semua saya coba lakukan. Demi keringat, demi kesehatan.

Tidak ada ketergesa-gesaan karena harus memandikan anak, sarapan, mandi dan bersiap berangkat ke kantor dalam waktu yang relatif singkat. Atau, memberi waktu untuk bermeditasi dan membangun hubungan dengan Sang Pencipta, merupakan sebuah hal yang istimewa bagi orang kantoran seperti saya.

Teknologi, membuat tidak ada lagi batasan. Kemudahan itu ada dalam kendali kita. Tinggal bagaimana memaksimalkannya.

Beberapa kali saya mendapat kesempatan bergabung di sebuah diskusi jarak jauh, via fasilitas video calling, entah dengan rekan kantor, keluarga, dan komunitas. Benar-benar tidak ada batasan. Kendala hanya di faktor kecepatan koneksi internet yang berbeda. Kadang saya yang mengalami masalah, lain waktu, rekan lain yang mengalaminya.

Semua sudah kian mudah. Tinggal bagaimana saya dapat membagi waktu yang tersedia, dan memaksimalkannya untuk tetap membangun hubungan, dan tali silahturahmi dengan kerabat, rekan kerja, atau keluarga saya. Toh, kita semua adalah makhluk-makhluk sosial!

Kalau ada makhluk yang paling senang dengan kondisi ini, nama makhluk itu pastilah: BUMI.

Ya, planet kita tercinta. Bumi tampak lebih indah. Lebih biru. Lebih hidup dari sebelumnya. Terdengar kontradiksi, tetapi memang demikianlah faktanya. Berbagai sumber menyebutkan, kondisi bumi cenderung membaik. Tingkat polusi udara di berbagai kota besar, mengalami penurunan. Sesuatu yang amat sulit terjadi jikalau tidak ada wabah COVID-19, yang mengharuskan miliaran orang harus beraktivitas dari rumah. Blessing in disguise.


Akhir kata, semoga wabah CORONAVIRUS ini bisa segera reda dan hilang sepenuhnya. Sehingga Indonesia, dan seluruh dunia, bisa kembali bergerak, beraktivitas, dan berinteraksi dengan normal seperti sedia kala (minus, polusi yang juga tetap ditekan produksinya).

Tapi, jikalau belum akan terjadi dalam waktu dekat, maka, sudah menjadi tugas kita bersama, untuk dengan bijak mencoba mengisi hari-hari yang ada dari rumah kita masing-masing, dengan tetap sehat, tetap kreatif, dan tetap semangat.

Terimakasih sudah berkunjung dan menyempatkan membaca! Stay healthy, stay positive, and God bless!

 

Dunia anak: Ekspresi dan Kebebasan

Menjadi orang tua yang berusaha menemani anak saat bermain dan melatih kemampuan motoriknya dengan menggambar dan mewarnai, mengajarkan saya suatu hal yang baru dan menyenangkan.

Hal itu adalah kebebasan dalam berekspresi. Saat melihat anak mencorat coret dengan bebas di kertas yang sudah disediakan, dia sama sekali tidak takut salah, tidak kenal batasan, tidak ada apapun yang menghalanginya dalam menuangkan kreativitasnya.

Intinya, bebas. Tak ada batasan. Tak kenal aturan.

Hal ini amat berlawanan dengan profesi saya. Sebagai orang yang harus mampu menyediakan konsep dan desain untuk kebutuhan industri animasi, saya dituntut bekerja menghasilkan karya yang memiliki aturannya tersendiri, seperti deadline tertentu, belum lagi ilmu dan pengetahuan dasar bagi seorang artist yang harus diperhatikan seperti kerapihan garis, perspektif, komposisi, appealing design, dll.

Tapi, dengan sejenak memasuki dunia kebebasan anak-anak dalam berkarya, kembali membantu saya untuk refresh, relax, santai, bebas, dan hanya menikmati kesenangan dari aktivitas menuangkan corat coret liar itu.

Ini bukan tentang selalu menghasilkan masterpiece, tapi ini tentang menikmati perjalanan menjadi seorang kreatif dalam berkarya. Layaknya seorang anak yang lugu dan polos. Yang hanya mau menuangkan apa yang ia rasakan, dengan cara yang ia suka, tanpa batasan, tanpa segala kerumitan aturan.

Belajar dari ekspresi bebas seorang anak. Sebuah inspirasi tak ternilai dalam kehidupan.

Reflect. Create. Impact

Akhirnya, saya memberanikan diri membagikan perjalanan saya dalam berlatih membuat video dan konten, dengan merilis akun Youtube saya (link disini).

Motivasi utamanya adalah untuk mendorong saya agar terus berusaha menghasilkan sesuatu (berupa video dan konten), yang semoga dari waktu ke waktu, dapat kian meningkat kualitasnya, baik dari pesan yang dibagikan, dan soal teknik dan ilmu videography. 

Saya banyak terinspirasi dari sebuah channel Youtube bernama “New Age Creator” (link). Sebuah channel video yang dibuat oleh lima orang pembuat konten, yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka komit untuk membagikan video dan pesan yang unik dari tiap orang. Sekaligus menjadi wadah belajar videomaking dan berbagi value kehidupan.

Membuat video memang menarik. Karena, jenis konten ini mampu mencakup semua hal, seperti gambar, suara, gerakan, animasi, grafis, text, sesuai mood yang ingin disampaikan kepada audience.

Mengenai slogan ‘Reflect. Create. Impact’, saya ingin menjadikan channel ini menjadi sarana saya merefleksikan pemikiran dan ide saya, lalu dituangkan dalam wujud karya, yang (semoga) bisa memberi impact positif bagi tiap orang yang berkunjung di channel saya.

Saya masih terus belajar dan semoga bisa konsisten. Semangat!

Connection before Correction

Baru-baru ini, saya berdiskusi dengan istri mengenai satu prinsip penting yang tanpa sadar, mungkin telah saya abaikan dalam relasi saya sehari-hari. Connection before correction.

Mudah untuk menegur, mengkritik, dan tergesa-gesa dalam menilai seseorang, entah itu pasangan, anak, rekan kerja, orang yang dimentor, sampai artis-artis di surat kabar, karena suatu kesalahan yang telah mereka lakukan. Kecenderungan kita tentu mudah terbawa dengan penggiringan opini yang terjadi nyaris tiap hari, tentang banyak topik, melalui berbagai media.

Mengkoreksi adalah tindakan yang menyatakan secara tidak langsung, bahwa, kita ‘lebih baik’ dari yang dikoreksi. Meski terkesan benar dan positif, tetapi, koreksi bisa jadi malah mempertegas kesan bahwa kita lebih pintar, lebih benar, lebih saleh, lebih dan lebih lainnya.

Apakah benar demikian? Apakah benar kita lebih unggul dari yang lain?

Yang lebih parah, kita menyampaikan koreksi kepada seseorang, tanpa terlebih dahulu mengedepankan faktor hubungan. Kita bahkan belum benar-benar connect dengan orang yang kita tegur. Tentu saja, orang tersebut cenderung akan defensif, tertutup, terganggu, dan menolak koreksi kita (meskipun positif, ada benarnya, dan konstruktif).

Semua dikarenakan hanya terlalu fokus mengkoreksi tanpa terlebih dulu membangun koneksi/ hubungan/ relasi (batin, hati, jiwa) dengan orang tersebut.

Bagi saya pribadi, prinsip connection before correction begitu penting dan dapat diterapkan di segala aspek dalam hubungan kita sehari-hari. Intinya, prinsip ini kembali mengingatkan manusia, untuk tidak lupa memanusiakan sesama manusia dalam hubungannya.

Jangan hanya tentang target-target. Espektasi. Goal. Objective. To-do-list. Program.

Harus berlatih lagi prinsip ini. Tidak boleh mengabaikan sisi kemanusiaan seseorang. Apa yang dipikirkannya. Apa perasaannya. Apa yang jadi keinginannya. Apa latar belakang kisahnya, dan sebagainya.

Selamat mencoba prinsip connection before correction!

connection before correction