Perenungan di Usia Baru

Tulisan ini menandai perjalanan baru saya yang kian ‘matang’. Resmi 33 tahun sudah saya hidup di bumi. Sudahkah saya memberi sumbangsih yang positif bagi sesama?

Saya menyadari, betapa cepat dan dinamisnya kehidupan itu. Seperti perumpamaan sebuah bola. Ada saat mencicipi kebahagiaan – ketika sedang di bagian atas bola; ada saat menjemput kedukaan – ketika sedang di dasar bola. Itu yang baru saja komunitas tempat saya tumbuh dan hidupi selama ini, alami.

Ada keluarga yang berduka ditinggal anggota keluarga terkasih, ada keluarga muda yang baru menyambut sang buah hati yang terkasih. Kedua peristiwa ini, terjadi hanya dalam rentang waktu 24 jam.

Ilustrasi_roda_kehidupan

Itulah hidup. Realita yang tidak bisa dihindari umat manusia. Kebahagiaan dan kedukaan bisa datang silih berganti. Begitu dinamis. Begitu real. Apakah manusia sehingga bisa (seolah) mereka-reka nafasnya? Bisa menata rapi jalur usianya? Semua ini hanya anugerah dan suatu hak istimewa dari Yang Maha Esa. Bagaimana mempertanggungjawabkan nafas hidup hari demi hari.

Semoga saya bisa mengisi kehidupan dengan hal bermakna. Sebagai manusia yang banyak kekurangan, yang ingin terus belajar dan memberi impact positif bagi sekitar.

Terimakasih Tuhan untuk usia baru ini.

 

 

Leaving a Legacy

Beberapa hari terakhir, saya sedang memikirkan secara terus-menerus satu kata berikut: “Legacy”.

Legacy bisa berarti sebuah peninggalan. Bukan sekadar berupa materi fisik. Tetapi, lebih dalam dari itu. Sebuah dampak, impact, kontribusi, atau hal berharga yang diberikan oleh seseorang kepada umat manusia, yang masih terus terasa efeknya, meskipun, orang tersebut telah tiada.

Apakah Anda pernah memikirkan tentang meninggalkan ‘legacy’ bagi orang-orang disekitar Anda? Bagi pasangan Anda? Anak Anda? Komunitas Anda? Bagi umat manusia? Apa yang kira-kira akan orang lain katakan mengenai Anda pada waktu upacara pemakaman Anda kelak?

Saya memikirkannya. Dan berharap agar meski baru sekarang memikirkannya, semua belum terlambat.

Tetapi memikirkannya berlama-lama, tidak akan membuat saya ‘telah’ meninggalkan legacy itu. Saya harus keluar dan mulai melakukannya! Membangunnya, menyiapkannya.

Membangun legacy bukan mengenai membesar-besarkan diri sendiri. Tetapi lebih kepada menyiapkan sebuah hal yang bernilai abadi bagi setiap manusia yang pernah kita jumpai semasa kita hidup. Yang semoga, peninggalan itu bermakna positif dan berkesan mendalam bagi mereka. Entah karena apa yang telah dilakukan berupa kebaikan, persahabatan, ilmu, teladan, pemberian, pengetahuan, atau talenta.

Bagi saya, membangun legacy tidaklah harus dimulai secara ambisius untuk menjangkau dunia. Saya bukanlah Mother Teresa, yang menyentuh hati jutaan manusia dengan kebaikan hatinya yang luar biasa atau Steve Jobs, yang meski telah meninggal, tetapi selalu dikagumi karya dan idenya. Saya bukanlah Elon Musk, seorang ilmuwan modern yang visioner yang siap membawa umat manusia menuju planet lain. Mereka hanya sebagian dari orang- orang luar biasa yang telah memberi impact dahsyat bagi umat manusia.

Saya hanya seorang pria, suami, bapak dari seorang anak perempuan mungil, bekerja sebagai ilustrator dan concept artist di daerah Tangerang Selatan, penggila ping pong, dan The Last of Us. Tapi, ijinkan saya merajut legacy ini, diawali dari kehidupan paling sederhana tiap harinya. Bukan hal besar. Bahkan cenderung tidaklah istimewa.

legacy

Tapi, saya percaya, tidak ada legacy yang besar, tanpa diawali kesetiaan melakukan hal-hal kecil, seperti mengasihi, mencintai, setia, bersyukur, mengampuni, memaafkan, mengaku kesalahan, belajar berbagi, mendengarkan, menolong, empati, belajar dari kegagalan, dan selalu bangkit, tidak menyerah.

Selamat membangun dan meninggalkan legacy, rekan-rekan pembaca!

 

 

 

 

 

Follower (Likes) or Growth?

Saat seseorang ‘terjun’ ke dunia nan hiruk-pikuk bernama sosial media, maka hal berikut ini seringkali menghinggapi pikiran para penggunanya. Yaitu “adanya dorongan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin likes atau follower.” Mungkin hal ini tentu tidak serta merta dialami semua pengguna sosial media. Tapi harus diakui, saya salah satu orang yang sempat mengidapnya!

Sebagai seorang kreatif yang menggunakan platform sosial media sebagai wadah untuk memperkenalkan diri melalui karya-karyanya ke dunia (via internet), maka, parameter paling mudah untuk mengetahui apakah karya yang dihasilkan sebenarnya mendapat apresiasi atau setidaknya respon dari para pengguna lain, yaitu dengan menakar berapa banyak like atau follower yang sudah kita dapat.

Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik dalam art journey sosial media saya, dimana saya sungguh mengevaluasi dan menanyakan pertanyaan kritis kepada diri saya sendiri.

Sebenarnya, untuk apa saya berkarya? Untuk apa saya memajang semua karya saya di dunia maya? Apakah sekadar mengharapkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan likes dan bertambahnya follower yang banyak? Atau sebenarnya, ada hal lebih penting dari itu semua, khususnya jika dilihat dari perspektif seorang artist yang sedang ingin terus belajar konsisten dalam berkarya dan berkembang dalam keterampilannya. Yang mengenal kata,” tidak pernah ada istilah berhenti belajar.”

Setelah merenungkannya, saya harus akui, jebakan “gila likes dan follower” tadi tanpa sadar telah menghambat dan sedikit menjadi distraksi bagi art journey saya. Semua dorongan yang kadang bisa positif tapi juga negatif ini telah memurnikan motivasi saya dalam berkarya.

“Apakah hanya mau berkarya demi meraih likes dan follower banyak? Bagaimana kalau hal itu tidak tercapai? Apakah jadi down, dan melupakan tujuan semula yaitu progres dan pertumbuhan? Bukankah progres atau growth seorang concept artist lah yang terutama? Apakah saya berkarya harus (selalu) mengikuti keinginan dari pasar? Dimanakah letak kesenangan dalam berkarya jika tuntutan-tuntutan seperti ini terus menerus menyetir kehidupan seorang artist?”

Tulisan ini berangkat dari penilaian jujur diri sendiri, melihat fenomena yang terjadi, khususnya apa yang telah saya alami belakangan ini. Sebagai seorang yang ingin terus berkembang, belajar, dan berkarya, saya harus tiba pada satu kesimpulan.

Pasar memang penting. Selera orang lain memang patut diperhatikan, tetapi bukan segalanya. Sedari awal, seni sudah seharusnya bisa dinikmati, baik oleh sang seniman itu sendiri dan oleh dunia. Sampai saat itu tiba, biarlah progres pertumbuhan seorang seniman juga harus mendapat porsi yang cukup, tanpa tergerus terus-menerus dengan tuntutan dan jebakan “likes dan follower” di dunia maya.

Selamat mengejar perkembangan dalam bidang apapun!

Ping Pong

Pada tahun 2016 lalu, kantor tempat saya berkarya mulai menyediakan satu unit fasilitas olahraga, yaitu meja ping pong di salah satu ruangnya. Tujuan utama adalah untuk memfasilitasi para karyawan dengan hiburan sekaligus alat olahraga yang diharapkan dapat meningkatkan chemistry antar pegawai, menopang gaya hidup sehat dan produktivitas dalam bekerja.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hanya butuh 2.5 tahun untuk mengubah cara pandang saya akan olah raga ini. Olah raga yang semula hanya sekadar permainan untuk senang-senang atau sekadar isi waktu, kini, sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya!

Diawali dengan rutin bermain di jam istirahat siang, meski dengan kemampuan sangat pas-pasan, tanpa modal pemahaman dan teknik bermain yang memadai (funfact: olah raga favorit saya selalu sepak bola, sebelumnya tidak pernah tertarik dengan ping pong), dan dikelilingi teman-teman yang juga awam dan pemula dengan olah raga ini, maka, seiring waktu, ketertarikan mulai muncul terhadap ping pong.

ilustrasi ping pong

Dengan modal nekad dan otodidak (belajar sendiri, tanpa pendidikan/ latihan formal), maka, tahun 2019 ini, saya sudah semakin menikmati permainan ini – meski belum bisa dikatakan mahir. Ping pong sangat adiktif dan menyenangkan! Selain itu, dengan ping pong yang reguler, saya bisa membakar kalori, mempererat pertemanan di kantor dan menjaga hidup tetap sehat.

Ini juga salah satu cara saya agar tidak terpaku duduk di depan monitor sepanjang hari selama bekerja. Lagipula, untuk hidup yang lebih sehat, kita harus terus bergerak, bukan?

Ya. Ping pong bukan lagi sekadar permainan. Ia sudah menjadi pemberi warna, pengisi hari, penyemangat, pendorong untuk tetap mengejar hidup sehat. Saya bersyukur bisa menikmati olah raga ini bersama teman-teman saya.

Apa olah raga yang teman-teman biasa lakukan di waktu senggang?

Selamat mengejar hidup sehat dan seimbang!

 

 

 

Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!