Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!

Advertisements

Komparasi

Komparasi atau membanding-bandingkan, merupakan suatu hal yang sering terjadi di antara hubungan sesama manusia. Entahkah orang muda, orang tua, laki-laki, atau perempuan, semua ‘rentan dan gampang tergoda’ untuk melakukannya.

Apakah komparasi atau membanding-bandingkan berarti salah dan berdosa?

Terlalu jauh jika kita terburu-buru menilainya demikian. Tetapi, sejauh pengamatan saya selama ini, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seringkali malah mengarah ke hal negatif dan bukannya membangun (konstruktif). Tetapi ini kembali pada tiap individu dalam menyikapi kebiasaan komparasi ini.

Jika komparasi dengan orang lain menjadi amunisi bagi seseorang untuk berkembang dan berusaha agar menjadi lebih baik, maka, ini masuk dalam kategori positif. Tapi, jika komparasi yang dilakukan justru membuat seseorang merasa selalu kurang, minder, tidak melihat hal baik dalam diri, dan sulit bersyukur, maka, ini sudah menjadi hal negatif dalam hidup seseorang.

Komparasi sendiri banyak saya dengar dari berbagai topik pembicaraan sehari-hari, di segala tingkatan usia, dan di segala fase kehidupan. Tanpa sadar, habit ini bahkan sudah dimulai sejak usia dini di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, seorang anak yang tinggal di sebuah komplek perumahan, menyadari bahwa tetangganya sudah punya suatu fasilitas (mainan/ handphone/ kendaraan) yang baru, dimana ia tidak memilikinya. Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang “lebih punya”, akan menimbulkan rasa iri, cemburu, dan mulai tidak bersyukur. Dengan segera, si anak tadi mendatangi orang tuanya, dan mengadukan soal “betapa ia menginginkan apa yang tetangganya miliki.” Sang orang tua pun jika tidak cukup bijak, akan segera memenuhinya, demi supaya menghentikan kerewelan anaknya. Padahal yang sebenarnya, jika anak itu – di usia mudanya – sudah memiliki fasilitas tadi, ternyata malah tidak baik dan membahayakan. Ini hanya satu contoh.

Di dunia pekerjaan juga tidak berbeda. Menjadi tidak penting seberapa besar gaji Anda,  jikalau kita selalu membandingkan apa yang sudah kita terima dengan orang lain yang (ternyata) “lebih” dari kita. Baik itu gaji, fasilitas, kesempatan, dan lainnya. Kita akan merasa diri “selalu kurang” dan lupa bahwa sebenarnya apa yang kita sudah terima, kita miliki ini adalah sebuah kebaikan demi kebaikan yang datangnya dari Atas.

Sebagai orang tua bagi putri saya yang berusia 14 bulan, Tabitha, saya juga terus belajar mengenai hal ini. Bagaimana bisa menjaga hati dan motivasi yang benar agar tidak terjerumus ke dalam habit ‘membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain’. Hidup bertetangga misalnya, dengan mudah kita bisa mengetahui perkembangan apa saja yang anak tetangga sudah lewati, sementara anak kita belum. Atau justru jatuh ke dalam kesombongan yang tidak penting karena mengetahui anak sendiri sudah unggul dalam hal motorik dari anak orang lain. Dan seterusnya.

Mengapa membandingkan?

Mengapa hal ini menjadi lumrah di kehidupan antar manusia?

Apakah hal ini sehat atau justru kontra-produktif?

Di sebuah pertemuan ibu-ibu, yang sudah memiliki cucu, mereka berbagi kisah dan update kehidupan mereka. Satu topik yang ‘tak terhindarkan untuk dibahas’ adalah update cucu-cucu mereka. “Hai, Jeng, cucumu sudah bisa apa?”, atau “Eh, cucuku sudah makin pinter deh, dia sudah bisa lari, padahal usia baru X bulan. Kalau cucumu sudah bisa apa?”, dan seterusnya.

Tidaklah salah jika kita ingin berbangga dan mensyukuri tiap perkembangan anak/ cucu/ orang yang kita sayangi. Tetapi, mulai menjadi sesuatu yang berbahaya, jikalau ini digunakan untuk meninggikan diri atau merasa diri lebih dari orang lain.

Sebagai seorang pekerja kreatif di negara yang sedang berkembang industri kreatifnya, saya juga tidak luput dari jebakan ‘komparasi’ ini. Bagaimana dengan mudahnya saya merasa tidak bisa mengejar pencapaian (kualitas, karya, teknik, teknologi, kesempatan-kesempatan) pekerja-pekerja kreatif di negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang memang sudah lebih unggul dalam kemajuan industri kreatif nya (animasi, theme park, dan video game) dibandingkan Indonesia.

Tapi, jika saya hanya berkubang dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa minder hingga tidak bersyukur dan tidak melakukan sesuatu, maka  segala hal menjadi tidak berguna. Menjadi sia-sia.

Daripada mengambil sisi negatif dari suatu komparasi, lebih baik fokus di hal positif. “Bagaimana aku bisa belajar dari orang ini agar bisa menggambar lebih baik?, “Wah, artist ini sudah begitu menguasai teknik ini, bagaimana cara agar aku bisa mengikuti caranya untuk perbaikan karya-karyaku berikutnya?”, dan seterusnya.

Komparasi, membanding-bandingkan, dan ‘melihat rumput tetangga yang lebih hijau’ tidaklah salah. Tetapi, bagaimana bisa tetap sadar bahwa apa yang sudah kita terima dan miliki, sesungguhnya merupakan suatu kebaikan Tuhan dan bekal untuk kita berkembang menjadi lebih baik. Dan mampu menyerap, belajar, dan memperbaiki diri setelah melihat orang-orang hebat di luar sana. Bukannya malah menjadi minder, malas berbuat sesuatu, pasrah, menyerah sebelum berperang, tidak bersyukur dan memupuk iri hati.

Selamat menyerap inspirasi dari segala hal, dan menggunakannya untuk membawa diri menuju level yang lebih tinggi! Thanks for visiting, friends!

ilustrasi komparasi

Diffused Neutral Light Study

Tiga hari terakhir, saya belajar bagaimana melukis (digital) image dan referensi foto maupun real life, dengan memperhatikan elemen pencahayaan yang sangat penting. Diffused Neutral Light.

Saya terinspirasi bagaimana artist ternama, ex-conceptor Disney Pixar, yaitu Robert Kondo dan Dice Tsutsumi (Tonko House studio) mampu menerjemahkan suatu scene yang kompleks (pencahayaan dan teknis lainnya), ke dalam suatu lukisan still life yang simpel, tapi tetap mampu menangkap mood, lengkap dengan diffused neutral light nya.

Alhasil inilah apa yang bisa saya hasilkan. Sebagai studi still life perdana lagi sejak masa kuliah 14 tahun lalu (yaiks!! Aku sudah semakin tua!), saya cukup puas. Karena ini bukan tentang hasil nya saja, apakah mirip atau mendekati hasil serealistis di foto referensi. Tapi terpenting adalah proses dan pembelajaran teknik yang jadi semakin kaya.

Studi 1 – Interior – Alat-alat baking di dapur

 

Studi 2 – Interior – Pojokan meja kantor

 

Studi 3 – Exterior – Cafe dari random internet photo

 

Keseimbangan Hidup

Pembelajaran dan refleksi diri saya belakangan ini adalah mengenai keseimbangan hidup.

Apakah saya sudah sungguh-sungguh berusaha mengejar keseimbangan hidup? Atau terjebak dalam rutinitas tanpa makna? Terlalu fokus di satu aspek hidup hingga mengabaikan, bahkan mengorbankan aspek hidup lainnya?

ilustrasi keseimbangan hidup

Saya terus berusaha menyeimbangkan tiap aspek kehidupan pribadi saya. Dan saya mendapati, saya masih amat kurang dalam banyak hal.

Aspek hubungan (menurut saya) memegang prioritas terpenting. Baik hubungan saya dengan Sang Pencipta, yang masih harus terus di-maintain meski sesibuk apapun, (karena ini pusat dan inti dari segala sesuatu), lalu hubungan dengan istri juga anak. Betapa penting dan krusialnya untuk selalu berusaha menyediakan waktu bagi mereka. Bukan waktu sisa, tapi quality time yang intim dan terbuka.

Baru-baru ini kami berdua (saya dan istri) sengaja mencari waktu nge-date berdua saja, agar jiwa, hati, dan pikiran ini kembali disegarkan dan disatukan setelah melalui bulan demi bulan tantangan di pekerjaan dan dunia parenting. Menyadari pentingnya hal ini, saya yakin, Tabitha pun kelak akan turut bahagia dan senang mendapati bapak dan ibunya terus mesra seiring pertumbuhannya.

Bermain dengan anak juga waktu yang amat penting. Bukan cuma “hadir secara fisik”, tapi juga “hadir secara hati, mental, dan jiwa”. Sungguh menikmati momen yang ada, meninggalkan sejenak distraksi akibat gadget dan hobi. Masih suatu yang menantang bagi saya.

Belum lagi kehidupan sosial. Bercengkrama dengan teman kantor (bukan melulu soal pekerjaan, tapi soal hidup, hobi, kesenangan, dll). Juga belajar hidup bertetangga. Terlibat dalam komunitas yang positif dan membangun. Sangat menarik untuk bisa sharing dan saling membantu satu sama lain sebagai makhluk sosial di tengah masyarakat yang beragam ini.

Dalam aspek pekerjaan, saya terus berusaha berkarya, berlatih, berkreasi, berimajinasi sesuai profesi saya sebagai concept artist (digital artist). Dalam aplikasinya, hal ini amat menuntut waktu, tenaga, dan pikiran agar karya yang dihasilkan semakin baik dan mampu menjadi solusi suatu permasalahan desain yang ada (baik di kantor maupun project pribadi). Tidak jarang saya jadi begadang karenanya.

Di tengah kesibukan pekerjaan, muncullah aspek kesehatan yang belakangan ini, saya terus coba beri porsi khusus. Yaitu dengan bermain ping pong rutin di jam istirahat kantor. Ping pong merupakan olahraga yang jika diseriusi, bisa menghasilkan keringat dan membakar kalori dalam jumlah yang lumayan besar. Saya cukup beruntung, kantor saya menyediakan fasilitas ini. Saya tinggal memaksimalkannya.

Betapa pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Di era yang serba cepat dan instant ini, semoga kita bisa makin bijak dalam membagi waktu yang ada, agar dapat memprioritaskan aspek hidup yang terpenting, sambil tetap menjaga aspek hidup lainnya, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Selamat mengejar keseimbangan hidup! Terimakasih telah mengunjungi artblog ini!

 

 

 

 

 

 

Hidup adalah anugerah

Sketch_4_3_2018_tribute_to_davide_astori

Di tiap malam weekend, seluruh penggila sepakbola di dunia tengah bersiap untuk menyaksikan tayangan pertandingan sepakbola klub favoritnya. Berbagai liga dunia, dari Liga Spanyol, Liga Inggris, sampai liga-liga eropa lainnya telah melangsungkan pertandingan-pertandingan yang menarik untuk disaksikan.

Salah satunya liga Italia Seri-A, salah satu liga terbaik di dunia ini juga turut menyelenggarakan pertandingan rutin seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, semua berjalan rutin, pertandingan besar, pertandingan reguler, semua tim bersiap untuk berusaha meraih hasil maksimal demi mengejar prestasi terbaik di musim kompetisi 2017/2018 ini.

Tapi, bak petir di siang bolong, sebuah kabar duka datang menyergap salah satu liga paling populer di dunia ini, saat dikabarkan oleh media setempat, bahwa kapten tim sekaligus pemain kunci tim bernama Fiorentina – salah satu klub besar di Liga Italia yang sempat memiliki penyerang terbaik dunia beberapa tahun lalu, yaitu Gabriel Batistuta –  yaitu Davide Astori (31 tahun), bek tangguh timnas Italia ini telah ditemukan tak bernyawa saat sedang tidur terlelap menjelang beberapa jam sebelum pertandingan melawan Udinese. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan serangan jantung.

Sontak saja, seluruh tim Fiorentina, dan terutama keluarga pasti shock dan terkejut dengan berita mendadak ini. Seorang atlit profesional yang pastinya bugar dan memiliki pola hidup sehat, ditemukan meninggal dunia saat sedang tidur? Seperti hal yang mustahil untuk terjadi, tapi memang demikianlah berita yang disampaikan.

Alhasil, jajaran petinggi organisasi yang mengatur jalannya pertandingan di Liga Italia Seri-A memutuskan untuk membatalkan semua jadwal pertandingan yang seharusnya digelar pada sabtu – senin ini, demi menghormati dan menunjukkan simpati dan belasungkawanya pada keluarga pemain, tim, dan seluruh pendukung. Sikap yang luar biasa, dan menunjukkan betapa sepakbola bukan sekadar tayangan hiburan, tetapi juga membuktikan betapa berharganya tiap individu yang terlibat di dunia sepakbola itu sendiri. Semua turut berduka. Semua turut bersedih atas tragedi mengejutkan ini.

Saya sendiri bukanlah pendukung Fiorentina. Saya Interisti (sebutan untuk pendukung klub Inter Milan) sejati sejak 1998 lalu. Tapi, rasa belasungkawa dan apresiasi pada almarhum Davide Astori patut ditunjukkan. Karena, dia tetaplah seorang manusia yang memiliki keluarga dan kehidupannya. Sketsa ini adalah ungkapan rasa belasungkawa saya pada beliau. Semoga inspirasinya melalui profesionalisme dan kualitas di lapangan tetap dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.

Pelajarannya: Hidup tidak pernah dalam kendali kita, manusia yang sangat lemah ini dan tak mampu memprediksi masa depan. Memang manusia bisa berusaha, merencana, dan membuat berbagai tujuan hidupnya.

Tapi, hidup yang kita miliki ini hanya anugerah dari Yang Maha Kuasa. Selagi mampu hidup, mari mengisi hari-hari yang ada dengan hal-hal yang positif, berpengaruh baik bagi sekitar, dan mampu membangun sesama dan lingkungan menjadi lebih baik.

Ciao Davide! Tuhan memberi kekuatan dan ketabahan bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.

Perjalanan menjadi orang tua selama 7 bulan ini

Tak terasa, sudah 7 bulan kami diberi kepercayaan Tuhan menjadi orang tua bagi anak pertama kami, Tabitha. Bersyukur untuk semua ini!

Meski seharusnya hal ini bukanlah alasan mengapa saya tidak lagi sering mengupdate blog ini (baik lewat tulisan maupun gambar), tapi memang, kapasitas dalam membagi waktu keluarga dan pribadi (update blog) tetap begitu menantang untuk dijalani.

Tapi semoga ke depan, bisa mulai konsisten lagi mengupdate blog, meski hanya sesuatu yang sederhana.

Selama bulan-bulan tersebut, satu hal krusial yang menjadi poin penting dalam kami menjalankan peran sebagai orang tua (yang keduanya bekerja) dengan segala keberhasilan dan kegagalan – memang masih awal (menuju 5 tahun pernikahan dan anak yang usia 7 bulan), tapi sudah mencoba mengevaluasinya secara reguler – adalah betapa pentingnya arti komunikasi di antara sang suami dan istri tersebut.

Komunikasi ini meliputi segala hal, dari hal paling sederhana dalam kehidupan berkeluarga, sampai aspek penting dalam menentukan arah dan langkah ke depannya.

Kehadiran sang buah hati tidak boleh menjadi alasan ‘kurangnya kualitas hubungan dan komunikasi’ di antara suami dan istri. Jikalau anak diijinkan menjadi ‘sekat’ bagi hubungan yang seharusnya terus intens antara sang bapak dan ibu, maka, kalau saya amati, sebenarnya kita sedang menyiapkan bom waktu dalam kehidupan berumahtangga.

Kesediaan menyediakan waktu untuk mendengarkan, curhat, sharing, ngobrol, atau membagikan update masing-masing di tengah rutinitas bekerja sambil merawat dan mengasuh anak memang sangatlah menantang. Bersyukur ada orang tua istri yang juga membantu mengasuh anak.

Sangat menantang? Bagaimana tidak? Sudah lelah bekerja seharian, apakah masih ada kapasitas untuk sharing dan komunikasi? Belum lagi suara kita (orang dewasa) bisa membangunkan waktu tidur si anak. Jadi betapa langkanya kesempatan berkomunikasi bagi suami dan istri.

Namun, saat kami mulai menyepakati untuk tetap menyediakan waktu berkomunikasi (dari hal sepele sampai penting) setiap harinya, bisa di pagi hari saat menunggu kereta istri datang, atau di saat prime time di ruang tv (tanpa menghidupkan tv), maka bonding dan kesehatian di antara kami tetap terjaga – ini yang saya amati.

Membesarkan anak tidaklah mudah. Bukan pekerjaan satu pihak saja. Ini melibatkan kedua belah pihak, suami dan istri secara berkesinambungan, intens, kontinyu, dan tidak ada saling melempar tanggung jawab, ditambah anggota keluarga lain yang terlibat di dalamnya (orang tua, saudara, dll). Keberhasilan si anak, adalah keberhasilan kedua orang tua. Ini kerja sama. Ini aktivitas “saling”. Saling back-up, saling support, saling mengisi, saling menopang, saling mengingatkan, saling berbagi informasi berguna, dan saling-saling lainnya.

Jadi, dua poin utama ini: komunikasi dan kerja sama yang menjadi highlight saya dalam terus belajar menjalankan peran sebagai bapak dan suami di keluarga.

Oh, saya hampir melupakan satu poin lainnya yang tidak kalah penting. Justru (ternyata) ini yang paling penting. Hal itu adalah..

“Peran Tuhan sebagai Pusat di sebuah rumah tangga (keluarga).”

Apa maksudnya?

Saat dua orang dewasa, suami istri, yang penuh kelemahan dan kekurangan, yang jauh dari kata sempurna ini akan berusaha membesarkan seorang manusia baru, tentu tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil melakukannya. Bagaimana bisa menjadi penghasil manusia – bukan dimaksudkan sebagai pabrik produksi anak, tapi lebih pada seorang yang bertanggungjawab menghasilkan generasi muda berikutnya dalam kehidupan – yang baik jika pada dasarnya, sang suami dan istri adalah dua manusia yang juga sangat banyak kekurangan (kelalaian, kekurangsigapan, ketidakadaan pengalaman, egois, keras hati, cuek, dll)? Maka, disinilah maksud pentingnya menjadikan Tuhan Pusat dalam keluarga.

Semua dari Tuhan dan sesungguhnya dikaruniakan Tuhan.

Jadi, betapapun kesanggupan orang tua kelak dalam membesarkan anak, tidak ada celah untuk suami dan istri dalam meninggikan diri dan mengklaim, “keberhasilan ini adalah karena kehebatan/ kecakapan saya sebagai orang tua” dan seterusnya. Sikap ini bisa menjauhkan dan mengecilkan peran Tuhan yang (sesungguhnya) sangat besar dalam kehidupan keluarga, dan dalam pertumbuhan si anak. Dan ini adalah suatu sikap yang keliru.

Pada akhirnya, semoga keluarga ini bisa terus berjalan ke arah yang diinginkan Yang Maha Kuasa. Berperan di dunia ini sesuai apa yang digariskan-Nya, dan terutama, meninggalkan generasi penerus yang takut akan Tuhan dan mencintai sesama. Karena, betapa berbahagianya orang tua yang mengetahui bahwa anak-anaknya hidup dalam kebenaran.

Terimakasih sudah membaca!

 

 

 

 

Hidup adalah…

Apa pengertian hidup di mata seorang Tigor? Terdapat beberapa penjelasan untuk pertanyaan ini. Dan semua merupakan definisi yang muncul dari kesadaran akan kebenaran bahwa hidup adalah…

1. Anug’rah / grace => sebuah kesadaran yang tidak bisa dipungkiri, bahwa hidup ini semata-mata merupakan pemberian. Pemberian dari Tuhan. Sesederhana itu. Ya, baik sadar maupun tidak sadar, baik setuju maupun tidak setuju, hidup saya yang boleh saya jalani hingga memasuki usia ke 22 tahun ini adalah anug’rah dari Tuhan. Arti dari anug’rah sendiri adalah “sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk diberikan pada seseorang, namun tetap diberikan, bukan karena seseorang itu ‘layak’ menerimanya, tetapi karena si pemberi memandang layak untuk memberikannya.”

gods-grace2

Melihat bagaimana kehidupan masa lalu saya dahulu, semakin menambah alasan saya untuk terus mengajukan pertanyaan ini, “Mengapa saya? Mengapa saya yang Kau beri anug’rah ini?”. Tentu, pertanyaan ini saya ajukan pada sesosok yang telah membawa saya ke titik dimana saya berada sekarang dalam kehidupan saya. Tuhan. Pencipta Surga dan Bumi. Mengapa Dia mau ‘repot-repot’ mengurusi kehidupan saya? Sederhana. Karena Dia Pencipta saya, dan saya ciptaan-Nya. Dan Pencipta sangat mengasihi ciptaan-Nya, dan memiliki kerinduan supaya ciptaan-Nya itu juga mengasihi Dia yang menciptakannya.

Akhir-akhir ini semakin dan semakin dibuat mengerti bahwa segala sesuatunya adalah anug’rah. Menyadarkan saya bahwa tidak ada, ya, tidak ada satu hal pun yang patut saya banggakan, sombongkan, dan megahkan demikian rupa, seolah semua adalah hasil kerja keras saya. Karena, lagi-lagi semua sesungguhnya adalah pemberian Dia. Tiap keberhasilan, tiap kesuksesan, kelancaran, keadaan baik, dan bentuk raihan positif lainnya dalam hidup saya, adalah pemberian Dia. Tidak mudah untuk menyetujui kebenaran ini pada mulanya, tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata dengan memahami kebenaran ini dan menerimanya, semakin menambah semangat hidup saya, karena Sosok yang jauh lebih tinggi dan kokoh (bahkan kekal), yang memegang kehidupan saya, bukan saya sendiri, karena saya adalah sosok yang rapuh dan amat rentan.

Diberikan keadaan fisik yang demikian rupa, lahir di sebuah keluarga dengan latar belakang tertentu, dikaruniakan talenta A dan B, diijinkan mengenal orang-orang luar biasa dalam hidup, dapat menempuh studi sampai jenjang perguruan tinggi, dan menjalin hubungan yang baik dengan seseorang. Ya, semua adalah pemberian Tuhan. Semua adalah anug’rah Tuhan.

            “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” (Yoh 3:27)

Dengan kebenaran firman Tuhan itulah, saya semakin sadar, tidak ada yang perlu saya sombongkan begitu rupa dalam hidup ini. All is because His grace, His amazing grace.

Bisa diberi kesempatan menikmati persahabatan dengan seseorang, lewat interaksi-interaksi yang boleh terjadi, percakapan, obrolan ringan, bahkan sedikit lelucon di dalamnya, membukakan terus mata saya akan kebenaran ini : “Tuhan sudah sangat baik, bahkan terlalu baik dalam hidup saya. Siapa saya sehingga Ia mengaruniakan kesempatan bisa mengenal orang istimewa ini sampai sejauh ini?”. Tuhan sudah terlalu baik bagi saya.

2. Memberi / giving=> hidup juga berbicara banyak tentang memberi. Pengertian kedua dari hidup menurut saya. Diperkuat dengan pernyataan Rick Warren (penulis buku “the Purpose Driven Life“), bahwa hidup adalah memberi. Saya pribadi amat setuju dengan pernyataan ini. Bahkan sesungguhnya, hidup yang benar-benar dikatakan hidup adalah saat kita belajar memberi lebih banyak, dan bukan mengambil lebih banyak.

Butuh contoh dari bentuk hidup yang dikatakan ‘hidup adalah memberi’? Bahkan inilah contoh terbesar yang pernah ada dalam sejarah hidup umat manusia. Tuhan saya. Tuhan yang saya imani, Yesus. Dia adalah contoh yang saya bicarakan di sini. Yesus, Sang Teladan Hidup adalah Memberi.the_teacher__complete_version_by_aramismarron

Apa yang Ia beri? Hidup-Nya. Butuh penjelasan lebih mendalam? Ya, Dia memberi hidup-Nya. Bagi siapa? Bagi seluruh umat manusia. Apakah kita layak menerima pengorbanan-Nya yang merupakan jembatan kita bisa datang ‘lagi’ kepada Tuhan setelah dosa yang kita perbuat? Sesungguhnya tidak pernah layak. Kebenaran ini membawa kita lagi pada pengertian yang telah dibahas sebelumnya. Segala sesuatu adalah anug’rah Tuhan.

              “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)

Tidak ada cara lain untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna daripada kehidupan yang memberi. Memberi, saya pribadi percaya, tidak hanya berbicara tentang memberi nyawa saja. Itu benar. Tetapi juga berbicara tentang memberi dalam bentuk lain. Dan memberi tidak bisa dilepaskan dari apa yang dikenal dengan kasih.

Salah satu pengertian tentang kasih yang paling saya sukai adalah :

Kasih sejati bukan tentang mengambil sebanyak-banyaknya dari orang lain untuk keuntungan kita, tetapi kasih sejati adalah tentang memberi yang terbaik bagi orang lain, dan untuk keuntungan orang tersebut.

Roma 15:2 dengan jelas menyatakan kebenaran ini,”Setiap orang di antara kita HARUS mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya“. Sekali lagi, siapa yang bisa kita jadikan teladan dalam hal ini? Kristus.

        “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri…” (Roma 15:3a). Ya, teladan kita satu-satunya, Tuhan Yesus sendiri. 

3. Bukan mengenai “aku”, tetapi mengenai “Dia”=> Pengertian terakhir dari hidup menurut saya. Adalah hidup ini bukan tentang saya, dan segala hal menyangkut kesenangan saya, ambisi terbesar saya, kehendak saya, rencana-rencana maha matang saya, atau kesukaan terbesar dalam hidup saya. Tetapi, hidup ini adalah tentang Dia.

       “…segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16, kalimat terakhir). Perhatikan kata ‘untuk Dia’ pada kalimat tersebut.

Apakah sedikitpun ada menyebut tentang ‘untuk manusia’? Tidak. Sama sekali tidak.

Segala sesuatu adalah untuk Dia. Untuk Tuhan. Untuk Sang Pencipta, Penguasa jagad alam, semesta galaksi ini.

Jika berbicara tentang segala sesuatu (kecuali dosa, yang bahkan bukan watak dari Tuhan), maka dapat diartikan bahwa :

  • langit begitu luas dan berbentuk menyerupai kapas yang disusun bergumpal-gumpal. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.
  • starfish

  • Bumi ditempatkan bersama dengan planet-planet lain di susunan galaksi. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.

galaksi

  • Nyamuk memiliki organ tubuh yang tampak transparan. Darah adalah makanan kegemarannya. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.

 

  • barak_obamaBarak Obama terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.

 

 

  • Indonesia merupakan negara dengan jumlah kepulauan terbesar di dunia. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.
  • Elang memiliki mata yang jauh lebih tajam daripada manusia sekalipun. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.bald-eagle-head

 

 

  • Bunga Bangkai memiliki bau yang tidak mengenakkan. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.
  • Saya lahir dengan nama Tigor Boraspati Sidauruk, lahir di Balikpapan, bersuku bangsa Batak. Dan tidak terlalu suka makan jeroan. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.

Jadi bisa disimpulkan seperti ini :

  • Hidup saya harus menyenangkan-Nya. Karena hidup ini bukan tentang ‘aku, aku, dan aku’. Tetapi tentang Tuhan.
  • Hobi saya harus menyenangkan-Nya. Harus bukan semata membahagiakan saya, tetapi terlebih penting adalah memuliakan Tuhan.
  • Talenta saya harus menyenangkan-Nya. Harus mampu membawa nama-Nya dimuliakan lebih lagi.
  • Harta dan fasilitas saya harus menyenangkan-Nya. Ditambah fakta bahwa semua asalnya dari Dia. Semua itu harus digunakan memuliakan nama Tuhan.
  • Tubuh saya harus menjadi persembahan yang menyenangkan-Nya. Menjaga kekudusan sesuai yang diinginkan-Nya, merupakan hal yang menyenangkan Tuhan.
  • Perjalanan studi saya harus menyenangkan-Nya. Melalui lika-liku dalam masalah akademik. Ujung-ujungnya harus memuliakan nama Tuhan.
  • Pekerjaan dan profesi saya harus menyenangkan-Nya. Sebagai apapun itu. Semua harus berujung pada kesenangan Tuhan.
  • Pelayanan saya harus menyenangkan-Nya. Bukan menjadi alat untuk membesarkan diri sendiri, tetapi membesarkan nama-Nya.
  • Kisah cinta saya harus menyenangkan-Nya. Dengan menjalaninya berfondasikan ‘kasih yang memberi’, dan bukan ‘kasih yang mengambil’.
  • heartwhen-love-meets-wisdom

  • Visi, tujuan, sasaran hidup saya harus menyenangkan-Nya. Tidak berjalan secara gegabah. Tetapi membiarkan Dia yang menjadi sutradara kehidupan saya. Sehingga ending dari semua ini adalah menyenangkan-Nya. Memuliakan kebesaran Tuhan Pencipta.
  • Jika terus dilanjutkan, saya percaya, bahkan beberapa posting pun tidak akan sanggup menampungnya.

 

Yup, hidup ini adalah anug’rah Tuhan, yang saya percaya, Dia menginginkan saya untuk menjalaninya sebagai suatu kehidupan yang memberi, bukan mengambil sebanyak-banyaknya, karena hidup ini bukan tentang saya, melainkan tentang Dia. Sosok yang paling layak untuk memegang dan berdaulat penuh atas kehidupan saya.

      (Jalani hidup dengan Diri-Nya sebagai partner  

to-follow-you-my-lordAnda. Dan Anda akan dibuat takjub akan keindahan Pribadi-Nya. Saya pastikan hal ini).