Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!

Advertisements

Keseimbangan Hidup

Pembelajaran dan refleksi diri saya belakangan ini adalah mengenai keseimbangan hidup.

Apakah saya sudah sungguh-sungguh berusaha mengejar keseimbangan hidup? Atau terjebak dalam rutinitas tanpa makna? Terlalu fokus di satu aspek hidup hingga mengabaikan, bahkan mengorbankan aspek hidup lainnya?

ilustrasi keseimbangan hidup

Saya terus berusaha menyeimbangkan tiap aspek kehidupan pribadi saya. Dan saya mendapati, saya masih amat kurang dalam banyak hal.

Aspek hubungan (menurut saya) memegang prioritas terpenting. Baik hubungan saya dengan Sang Pencipta, yang masih harus terus di-maintain meski sesibuk apapun, (karena ini pusat dan inti dari segala sesuatu), lalu hubungan dengan istri juga anak. Betapa penting dan krusialnya untuk selalu berusaha menyediakan waktu bagi mereka. Bukan waktu sisa, tapi quality time yang intim dan terbuka.

Baru-baru ini kami berdua (saya dan istri) sengaja mencari waktu nge-date berdua saja, agar jiwa, hati, dan pikiran ini kembali disegarkan dan disatukan setelah melalui bulan demi bulan tantangan di pekerjaan dan dunia parenting. Menyadari pentingnya hal ini, saya yakin, Tabitha pun kelak akan turut bahagia dan senang mendapati bapak dan ibunya terus mesra seiring pertumbuhannya.

Bermain dengan anak juga waktu yang amat penting. Bukan cuma “hadir secara fisik”, tapi juga “hadir secara hati, mental, dan jiwa”. Sungguh menikmati momen yang ada, meninggalkan sejenak distraksi akibat gadget dan hobi. Masih suatu yang menantang bagi saya.

Belum lagi kehidupan sosial. Bercengkrama dengan teman kantor (bukan melulu soal pekerjaan, tapi soal hidup, hobi, kesenangan, dll). Juga belajar hidup bertetangga. Terlibat dalam komunitas yang positif dan membangun. Sangat menarik untuk bisa sharing dan saling membantu satu sama lain sebagai makhluk sosial di tengah masyarakat yang beragam ini.

Dalam aspek pekerjaan, saya terus berusaha berkarya, berlatih, berkreasi, berimajinasi sesuai profesi saya sebagai concept artist (digital artist). Dalam aplikasinya, hal ini amat menuntut waktu, tenaga, dan pikiran agar karya yang dihasilkan semakin baik dan mampu menjadi solusi suatu permasalahan desain yang ada (baik di kantor maupun project pribadi). Tidak jarang saya jadi begadang karenanya.

Di tengah kesibukan pekerjaan, muncullah aspek kesehatan yang belakangan ini, saya terus coba beri porsi khusus. Yaitu dengan bermain ping pong rutin di jam istirahat kantor. Ping pong merupakan olahraga yang jika diseriusi, bisa menghasilkan keringat dan membakar kalori dalam jumlah yang lumayan besar. Saya cukup beruntung, kantor saya menyediakan fasilitas ini. Saya tinggal memaksimalkannya.

Betapa pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Di era yang serba cepat dan instant ini, semoga kita bisa makin bijak dalam membagi waktu yang ada, agar dapat memprioritaskan aspek hidup yang terpenting, sambil tetap menjaga aspek hidup lainnya, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Selamat mengejar keseimbangan hidup! Terimakasih telah mengunjungi artblog ini!

 

 

 

 

 

 

Belajar dari kegagalan

Siapa yang suka gagal? Siapa yang suka kegagalan?

Gagal tidaklah menjadi topik yang menarik untuk dibahas atau diangkat ke permukaan. Manusia, sebagian besar, dan sewajarnya selalu lebih tertarik membahas keberhasilan dan bukannya kegagalan. Begitupun saya. Tapi, ternyata, kalau boleh diteliti lebih dalam, kegagalan sendiri adalah sebuah proses yang luar biasa dibutuhkan dan sangat penting bagi manusia dalam rangka mengejar keberhasilan.

Seorang ilmuwan yang sudah merasakan betapa pahitnya kegagalan demi kegagalan dalam percobaannya untuk menciptakan suatu penemuan, pada akhirnya berhasil bangkit dari semua kegagalan itu dan menjadi penemu ternama dunia yang kita kenal hingga kini.

Thomas Alva Edison, penemu 1000 macam penemuan (hak paten atas namanya), setelah mencoba 10.000 kali percobaan yang gagal, barulah akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Sebuah karya yang dihasilkan melalui proses panjang jatuh-bangun 9.999 kali!

Berikut komentarnya, “Saya bukan gagal, tetapi saya belajar banyak dari 9.999 percobaan-percobaan yang saya lakukan sebelumnya sehingga saya jauh lebih pintar dan lebih berpengalaman lagi daripada sebelumnya”.

Sama halnya dengan kasus Thomas Alva Edison, kita pun dalam berbagai profesi dan keahlian yang kita miliki sekarang ini harus terus belajar. Terus mencoba. Terus bangkit apabila gagal. Terus berjuang. Terus berharap akan adanya suatu perubahan yang positif walau sebelumnya terus-menerus gagal.

Saya menikmati dunia ilustrasi, konsep desain, dan karikatur. Tak terhitung berapa kali saya mencoba belajar bereksperimen, mencoba teknik-teknik menggambar baru, teknik mewarnai dari para ahli dengan memaksimalkan fasilitas dunia maya, saat bekerja pun, karya saya masih terus dikritik, dianggap kurang, dan selalu saja ada ketidaksempurnaan. Tapi disitulah intinya.

Tak ada perkembangan yang baik tanpa merasakan sakitnya kegagalan terlebih dahulu.

Apakah sebuah kegagalan menjatuhkan nilai dan harga diri manusia?

Sebagai pria, seringkali kita tidak pernah mau dicap “gagal”. Tapi, bagi saya, setangguh apapun pria, seharusnya dia tetap memiliki hati yang besar untuk menerima kegagalan. Karena seperti Thomas Alva Edison pun, manusia-manusia yang bangkit dan mau belajar dari kegagalan pada akhirnya memiliki kualitas diri yang kuat, pantang menyerah, dan dekat dengan keberhasilan.