Digital Parenting

Sejak mengemban tanggung jawab sebagai bapak, saya baru belajar apa yang namanya ‘mengasuh anak’. Ternyata mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sangat sangat melelahkan.

Mulai dari memandikan, memakaikan baju, mengoleskan minyak, gosok gigi, menggendong dan menina-bobokan, menjemur di panas matahari, memastikan nyamuk tidak mengganggu tidur si bayi, menjaganya saat merangkak (kini berlari), menyuapi makan, dan hingga menemaninya bermain (dalam dan luar rumah) dan belajar (kognitif, motorik, linguistik, dll).

Saya memang belum pernah benar-benar ditinggal berdua saja dengan sang buah hati di rumah, karena alasan kebutuhan ASI nya masih kentara di malam hari. Tapi, dengan hanya mencicipi “sedikit” saja peran mengasuh tadi, sudah cukup membantu saya mengerti mengapa gaji seorang baby sitter amatlah besar!

Jelas sebuah pekerjaan yang menantang. Betapa saya angkat topi bagi setiap ibu-ibu di luar sana, baik ibu rumah tangga, home-schooling, maupun ibu yang bekerja sekaligus mengasuh anak. Dan tentu kontribusi para orang tua, mertua, kakek-nenek, opung, eyang yang juga merelakan waktu, energi, dan perhatian untuk mengasuh cucu kesayangan mereka. Terimakasih!

Namun, jika bicara mengenai mengasuh anak, tentu harus pula membahas ‘cara’ atau ‘metode’ seperti apa dalam menjalankan peran tersebut. Demi kebaikan dan perkembangan yang positif dari sang buah hati, tentu kita seharusnya memilih cara terbaik yang bisa kita terapkan bagi mereka.

Dan kini, di era digital dan serba canggih ini, lahirlah satu metode pengasuhan anak yang tanpa sadar sudah menjadi bagian hidup kita, tak terkecuali keluarga saya. Teknologi, internet, dan gadget adalah media yang kini sudah melekat dan tidak dapat dihindari dari hidup manusia modern.

Berbagai penelitian ternyata menyatakan penggunaan gadget yang berlebihan dan sejak usia dini pada balita dan anak-anak, bukanlah merupakan hal positif (silahkan buka video A, video B, dan video C berikut). Meski terbukti sangat meringankan beban para pengasuh (seperti saat menidurkan, membuat anak bisa tenang saat disuapi makan, atau kemudahan lainnya), secara umum, justru memiliki dampak negatif. Bahkan, kategori kecanduan gadget (internet) yang ekstrim, bisa disamakan dengan kecanduan alkohol dan rokok!

Hal negatif yang muncul seperti rentannya anak sejak dini mengalami kegelisahan (anxiety) bukannya rasa aman, mudah murung (depressed) bukannya kebahagiaan, dan stres (stress) bukannya ketenangan. Sangat ironis dan memprihatinkan mendengar fakta ini. Sebuah hal yang harus menjadi perhatian serius para orang tua di jaman sekarang ini.

Saya dan istri pun masih terus berjuang keras dalam mengasuh anak, dengan seminim mungkin pengaruh gadget, khususnya TV dan smartphone. Godaan untuk mengambil shortcut mudah itu selalu muncul. Energi yang dihabiskan untuk menemani si buah hati tanpa adanya bantuan gadget terbukti amatlah melelahkan.

Kita dituntut untuk mau repot dan capek. Harus kreatif, dan mencoba hal baru. Entah itu dengan baca buku, corat-coret, menggambar, aktivitas kerajinan tangan, menari, menyanyi, goyang-goyang tubuh, berperan sebagai kuda (juga singa), main puppet (boneka), main di halaman komplek, belajar buat es batu dan lain sebagainya.

Semua hal yang dapat meningkatkan stimulus positif dari dalam diri si anak, yang (sesungguhnya) bisa dilakukan dengan mudah melalui HP, kini, digantikan dengan aktivitas fisik. Sebuah hal yang kian menantang, mengingat rutinitas pekerjaan, pulang kantor, macet di jalan raya, atau berdesak-desakkan di kereta, telah menggerus energi kita seharian.

Tapi, mari sama-sama merenungkan sejenak, sesungguhnya apakah yang paling dibutuhkan mereka, anak-anak kita, setiap harinya, di masa kecilnya? Apa yang menjadi kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, dan hal yang paling dinanti-nantikan oleh mereka setiap harinya?

Jawaban itu tidak lain adalah diri kita, para orang tua. Bapak, ayah, ibu, mama. Bersama kitalah, anak kita (di masa kecilnya) merasa amat bahagia, dan bukan bersama gadget. Menghabiskan waktu bersama kitalah, anak kita merasa paling disayangi, bukan dengan menghabiskan berjam-jam di depan monitor gadget. 

Saya tidak anti-gadget. Saya bahkan amat menggilai gadget. Saya memiliki laptop untuk bekerja tengah malam, atau smartphone yang menjadi alat meningkatkan produktivitas saya sehari-hari, Wacom Intuos untuk berkarya, belum lagi TV, dan PS3 yang adalah bagian dari kesenangan saya. Saya jelas seorang gadget freak dan pengguna rutin gadget!

Tetapi, jika karena benda-benda mati itu, kehidupan dan perkembangan anak saya akan mengalami gangguan karena pengaruh-pengaruh negatif. Saya berkomitmen (minimal untuk diri saya sendiri), agar sedapat mungkin, jika itu tergantung pada saya, maka saya akan dengan bijak menggunakan gadget di depan anak saya, dan lebih banyak memberi diri saya baginya, secara penuh, bukan setengah hati.

Pada masa kecilnya. Untuk masa depannya.

Semoga saya, dan istri, terus bisa “hadir” secara hati, jiwa dan fisik baginya. Buah hati kesayangan, yang adalah pemberian Tuhan.

ilustrasi quality time dengan anak

 

 

 

Advertisements

Perenungan di Usia Baru

Tulisan ini menandai perjalanan baru saya yang kian ‘matang’. Resmi 33 tahun sudah saya hidup di bumi. Sudahkah saya memberi sumbangsih yang positif bagi sesama?

Saya menyadari, betapa cepat dan dinamisnya kehidupan itu. Seperti perumpamaan sebuah bola. Ada saat mencicipi kebahagiaan – ketika sedang di bagian atas bola; ada saat menjemput kedukaan – ketika sedang di dasar bola. Itu yang baru saja komunitas tempat saya tumbuh dan hidupi selama ini, alami.

Ada keluarga yang berduka ditinggal anggota keluarga terkasih, ada keluarga muda yang baru menyambut sang buah hati yang terkasih. Kedua peristiwa ini, terjadi hanya dalam rentang waktu 24 jam.

Ilustrasi_roda_kehidupan

Itulah hidup. Realita yang tidak bisa dihindari umat manusia. Kebahagiaan dan kedukaan bisa datang silih berganti. Begitu dinamis. Begitu real. Apakah manusia sehingga bisa (seolah) mereka-reka nafasnya? Bisa menata rapi jalur usianya? Semua ini hanya anugerah dan suatu hak istimewa dari Yang Maha Esa. Bagaimana mempertanggungjawabkan nafas hidup hari demi hari.

Semoga saya bisa mengisi kehidupan dengan hal bermakna. Sebagai manusia yang banyak kekurangan, yang ingin terus belajar dan memberi impact positif bagi sekitar.

Terimakasih Tuhan untuk usia baru ini.

 

 

Leaving a Legacy

Beberapa hari terakhir, saya sedang memikirkan secara terus-menerus satu kata berikut: “Legacy”.

Legacy bisa berarti sebuah peninggalan. Bukan sekadar berupa materi fisik. Tetapi, lebih dalam dari itu. Sebuah dampak, impact, kontribusi, atau hal berharga yang diberikan oleh seseorang kepada umat manusia, yang masih terus terasa efeknya, meskipun, orang tersebut telah tiada.

Apakah Anda pernah memikirkan tentang meninggalkan ‘legacy’ bagi orang-orang disekitar Anda? Bagi pasangan Anda? Anak Anda? Komunitas Anda? Bagi umat manusia? Apa yang kira-kira akan orang lain katakan mengenai Anda pada waktu upacara pemakaman Anda kelak?

Saya memikirkannya. Dan berharap agar meski baru sekarang memikirkannya, semua belum terlambat.

Tetapi memikirkannya berlama-lama, tidak akan membuat saya ‘telah’ meninggalkan legacy itu. Saya harus keluar dan mulai melakukannya! Membangunnya, menyiapkannya.

Membangun legacy bukan mengenai membesar-besarkan diri sendiri. Tetapi lebih kepada menyiapkan sebuah hal yang bernilai abadi bagi setiap manusia yang pernah kita jumpai semasa kita hidup. Yang semoga, peninggalan itu bermakna positif dan berkesan mendalam bagi mereka. Entah karena apa yang telah dilakukan berupa kebaikan, persahabatan, ilmu, teladan, pemberian, pengetahuan, atau talenta.

Bagi saya, membangun legacy tidaklah harus dimulai secara ambisius untuk menjangkau dunia. Saya bukanlah Mother Teresa, yang menyentuh hati jutaan manusia dengan kebaikan hatinya yang luar biasa atau Steve Jobs, yang meski telah meninggal, tetapi selalu dikagumi karya dan idenya. Saya bukanlah Elon Musk, seorang ilmuwan modern yang visioner yang siap membawa umat manusia menuju planet lain. Mereka hanya sebagian dari orang- orang luar biasa yang telah memberi impact dahsyat bagi umat manusia.

Saya hanya seorang pria, suami, bapak dari seorang anak perempuan mungil, bekerja sebagai ilustrator dan concept artist di daerah Tangerang Selatan, penggila ping pong, dan The Last of Us. Tapi, ijinkan saya merajut legacy ini, diawali dari kehidupan paling sederhana tiap harinya. Bukan hal besar. Bahkan cenderung tidaklah istimewa.

legacy

Tapi, saya percaya, tidak ada legacy yang besar, tanpa diawali kesetiaan melakukan hal-hal kecil, seperti mengasihi, mencintai, setia, bersyukur, mengampuni, memaafkan, mengaku kesalahan, belajar berbagi, mendengarkan, menolong, empati, belajar dari kegagalan, dan selalu bangkit, tidak menyerah.

Selamat membangun dan meninggalkan legacy, rekan-rekan pembaca!

 

 

 

 

 

Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!

Keseimbangan Hidup

Pembelajaran dan refleksi diri saya belakangan ini adalah mengenai keseimbangan hidup.

Apakah saya sudah sungguh-sungguh berusaha mengejar keseimbangan hidup? Atau terjebak dalam rutinitas tanpa makna? Terlalu fokus di satu aspek hidup hingga mengabaikan, bahkan mengorbankan aspek hidup lainnya?

ilustrasi keseimbangan hidup

Saya terus berusaha menyeimbangkan tiap aspek kehidupan pribadi saya. Dan saya mendapati, saya masih amat kurang dalam banyak hal.

Aspek hubungan (menurut saya) memegang prioritas terpenting. Baik hubungan saya dengan Sang Pencipta, yang masih harus terus di-maintain meski sesibuk apapun, (karena ini pusat dan inti dari segala sesuatu), lalu hubungan dengan istri juga anak. Betapa penting dan krusialnya untuk selalu berusaha menyediakan waktu bagi mereka. Bukan waktu sisa, tapi quality time yang intim dan terbuka.

Baru-baru ini kami berdua (saya dan istri) sengaja mencari waktu nge-date berdua saja, agar jiwa, hati, dan pikiran ini kembali disegarkan dan disatukan setelah melalui bulan demi bulan tantangan di pekerjaan dan dunia parenting. Menyadari pentingnya hal ini, saya yakin, Tabitha pun kelak akan turut bahagia dan senang mendapati bapak dan ibunya terus mesra seiring pertumbuhannya.

Bermain dengan anak juga waktu yang amat penting. Bukan cuma “hadir secara fisik”, tapi juga “hadir secara hati, mental, dan jiwa”. Sungguh menikmati momen yang ada, meninggalkan sejenak distraksi akibat gadget dan hobi. Masih suatu yang menantang bagi saya.

Belum lagi kehidupan sosial. Bercengkrama dengan teman kantor (bukan melulu soal pekerjaan, tapi soal hidup, hobi, kesenangan, dll). Juga belajar hidup bertetangga. Terlibat dalam komunitas yang positif dan membangun. Sangat menarik untuk bisa sharing dan saling membantu satu sama lain sebagai makhluk sosial di tengah masyarakat yang beragam ini.

Dalam aspek pekerjaan, saya terus berusaha berkarya, berlatih, berkreasi, berimajinasi sesuai profesi saya sebagai concept artist (digital artist). Dalam aplikasinya, hal ini amat menuntut waktu, tenaga, dan pikiran agar karya yang dihasilkan semakin baik dan mampu menjadi solusi suatu permasalahan desain yang ada (baik di kantor maupun project pribadi). Tidak jarang saya jadi begadang karenanya.

Di tengah kesibukan pekerjaan, muncullah aspek kesehatan yang belakangan ini, saya terus coba beri porsi khusus. Yaitu dengan bermain ping pong rutin di jam istirahat kantor. Ping pong merupakan olahraga yang jika diseriusi, bisa menghasilkan keringat dan membakar kalori dalam jumlah yang lumayan besar. Saya cukup beruntung, kantor saya menyediakan fasilitas ini. Saya tinggal memaksimalkannya.

Betapa pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Di era yang serba cepat dan instant ini, semoga kita bisa makin bijak dalam membagi waktu yang ada, agar dapat memprioritaskan aspek hidup yang terpenting, sambil tetap menjaga aspek hidup lainnya, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Selamat mengejar keseimbangan hidup! Terimakasih telah mengunjungi artblog ini!

 

 

 

 

 

 

Belajar dari kegagalan

Siapa yang suka gagal? Siapa yang suka kegagalan?

Gagal tidaklah menjadi topik yang menarik untuk dibahas atau diangkat ke permukaan. Manusia, sebagian besar, dan sewajarnya selalu lebih tertarik membahas keberhasilan dan bukannya kegagalan. Begitupun saya. Tapi, ternyata, kalau boleh diteliti lebih dalam, kegagalan sendiri adalah sebuah proses yang luar biasa dibutuhkan dan sangat penting bagi manusia dalam rangka mengejar keberhasilan.

Seorang ilmuwan yang sudah merasakan betapa pahitnya kegagalan demi kegagalan dalam percobaannya untuk menciptakan suatu penemuan, pada akhirnya berhasil bangkit dari semua kegagalan itu dan menjadi penemu ternama dunia yang kita kenal hingga kini.

Thomas Alva Edison, penemu 1000 macam penemuan (hak paten atas namanya), setelah mencoba 10.000 kali percobaan yang gagal, barulah akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Sebuah karya yang dihasilkan melalui proses panjang jatuh-bangun 9.999 kali!

Berikut komentarnya, “Saya bukan gagal, tetapi saya belajar banyak dari 9.999 percobaan-percobaan yang saya lakukan sebelumnya sehingga saya jauh lebih pintar dan lebih berpengalaman lagi daripada sebelumnya”.

Sama halnya dengan kasus Thomas Alva Edison, kita pun dalam berbagai profesi dan keahlian yang kita miliki sekarang ini harus terus belajar. Terus mencoba. Terus bangkit apabila gagal. Terus berjuang. Terus berharap akan adanya suatu perubahan yang positif walau sebelumnya terus-menerus gagal.

Saya menikmati dunia ilustrasi, konsep desain, dan karikatur. Tak terhitung berapa kali saya mencoba belajar bereksperimen, mencoba teknik-teknik menggambar baru, teknik mewarnai dari para ahli dengan memaksimalkan fasilitas dunia maya, saat bekerja pun, karya saya masih terus dikritik, dianggap kurang, dan selalu saja ada ketidaksempurnaan. Tapi disitulah intinya.

Tak ada perkembangan yang baik tanpa merasakan sakitnya kegagalan terlebih dahulu.

Apakah sebuah kegagalan menjatuhkan nilai dan harga diri manusia?

Sebagai pria, seringkali kita tidak pernah mau dicap “gagal”. Tapi, bagi saya, setangguh apapun pria, seharusnya dia tetap memiliki hati yang besar untuk menerima kegagalan. Karena seperti Thomas Alva Edison pun, manusia-manusia yang bangkit dan mau belajar dari kegagalan pada akhirnya memiliki kualitas diri yang kuat, pantang menyerah, dan dekat dengan keberhasilan.