Connection before Correction

Baru-baru ini, saya berdiskusi dengan istri mengenai satu prinsip penting yang tanpa sadar, mungkin telah saya abaikan dalam relasi saya sehari-hari. Connection before correction.

Mudah untuk menegur, mengkritik, dan tergesa-gesa dalam menilai seseorang, entah itu pasangan, anak, rekan kerja, orang yang dimentor, sampai artis-artis di surat kabar, karena suatu kesalahan yang telah mereka lakukan. Kecenderungan kita tentu mudah terbawa dengan penggiringan opini yang terjadi nyaris tiap hari, tentang banyak topik, melalui berbagai media.

Mengkoreksi adalah tindakan yang menyatakan secara tidak langsung, bahwa, kita ‘lebih baik’ dari yang dikoreksi. Meski terkesan benar dan positif, tetapi, koreksi bisa jadi malah mempertegas kesan bahwa kita lebih pintar, lebih benar, lebih saleh, lebih dan lebih lainnya.

Apakah benar demikian? Apakah benar kita lebih unggul dari yang lain?

Yang lebih parah, kita menyampaikan koreksi kepada seseorang, tanpa terlebih dahulu mengedepankan faktor hubungan. Kita bahkan belum benar-benar connect dengan orang yang kita tegur. Tentu saja, orang tersebut cenderung akan defensif, tertutup, terganggu, dan menolak koreksi kita (meskipun positif, ada benarnya, dan konstruktif).

Semua dikarenakan hanya terlalu fokus mengkoreksi tanpa terlebih dulu membangun koneksi/ hubungan/ relasi (batin, hati, jiwa) dengan orang tersebut.

Bagi saya pribadi, prinsip connection before correction begitu penting dan dapat diterapkan di segala aspek dalam hubungan kita sehari-hari. Intinya, prinsip ini kembali mengingatkan manusia, untuk tidak lupa memanusiakan sesama manusia dalam hubungannya.

Jangan hanya tentang target-target. Espektasi. Goal. Objective. To-do-list. Program.

Harus berlatih lagi prinsip ini. Tidak boleh mengabaikan sisi kemanusiaan seseorang. Apa yang dipikirkannya. Apa perasaannya. Apa yang jadi keinginannya. Apa latar belakang kisahnya, dan sebagainya.

Selamat mencoba prinsip connection before correction!

connection before correction

 

Advertisements

Ide-ide untuk tetap Produktif meski Internet ‘down’

7Agustus19

Beberapa hari terakhir, internet kantor tengah ‘down’ alias tidak bisa berfungsi. Maka, tiap orang di kantor harus mencari cara agar meski offline, mereka tetap bisa berkarya, produktif dan tidak sepenuhnya tergantung dengan internet.

Saya pun menemukan beberapa cara untuk menghadapi situasi ini. Semoga bisa berguna! (oia, tips ini cocok untuk pekerja seni di bidang animasi, ilustrasi, dan sejenisnya. Tapi mungkin juga diterapkan dalam bidang pekerjaan lain).

  1. Tidak ada salahnya membuka pekerjaan-pekerjaan lama. Buka folder pekerjaan yang sudah lewat (proyek sebelumnya/ tak terpakai), bisa berupa foto, referensi, moodboard, dan bahkan desain yang tidak terpakai. Lalu lakukan redesign, repainting, color exercise, sketch, dan lainnya. Inspirasi juga bisa muncul dari ide-ide di pekerjaan sebelumnya.
  2. Ambil notebook. Saya sangat suka menulis. Maka, dengan notebook, saya dapat menuangkan ide-ide dan apa yang saya pikirkan mengenai peluang-peluang baru dalam berkreasi. Siapa tahu berguna untuk next personal project.
  3. Ambil sketchbook. Berusaha mengisi sketchbook (fisik) adalah sesuatu yang tengah saya perjuangkan. Meski alat-alat mutakhir seperti Wacom Cintiq pen tablet memang mempermudah flow kerja saya, tetapi, disiplin berlatih sketsa tradisional adalah suatu hal positif yang baik untuk dilakukan.
  4. Baca buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Kebanyakan kantor-kantor sudah dilengkapi dengan perpustakaan. Begitu juga kantor yang bergerak di industri kreatif. Buku-buku kaya inspirasi yang saya suka pelajari, seperti the art of dan buku mengenai mendesain Disney (baik animasi, maupun theme park). Saya hanya perlu niat dan komitmen untuk memulainya dan akan terkejut dengan betapa banyak hal baru yang bisa didapat!
  5. Rapihkan meja kerja. Merapihkan meja kerja selagi offline juga merupakan hal produktif. Dengan meja yang rapih, maka pekerjaan akan dikerjakan dengan lebih efektif dan menyenangkan.
  6. Diskusi, brainstorm, kolaborasi. Saat sedang offline, adalah saat yang baik untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan rekan kantor yang juga sedang stand-by. Entah membicarakan ide-ide baru, update industri kreatif, atau sekadar tukar ilmu. Bukan tidak mungkin, akan muncul inspirasi dalam berkreasi dari obrolan-obrolan spontan.

Leaving a Legacy

Beberapa hari terakhir, saya sedang memikirkan secara terus-menerus satu kata berikut: “Legacy”.

Legacy bisa berarti sebuah peninggalan. Bukan sekadar berupa materi fisik. Tetapi, lebih dalam dari itu. Sebuah dampak, impact, kontribusi, atau hal berharga yang diberikan oleh seseorang kepada umat manusia, yang masih terus terasa efeknya, meskipun, orang tersebut telah tiada.

Apakah Anda pernah memikirkan tentang meninggalkan ‘legacy’ bagi orang-orang disekitar Anda? Bagi pasangan Anda? Anak Anda? Komunitas Anda? Bagi umat manusia? Apa yang kira-kira akan orang lain katakan mengenai Anda pada waktu upacara pemakaman Anda kelak?

Saya memikirkannya. Dan berharap agar meski baru sekarang memikirkannya, semua belum terlambat.

Tetapi memikirkannya berlama-lama, tidak akan membuat saya ‘telah’ meninggalkan legacy itu. Saya harus keluar dan mulai melakukannya! Membangunnya, menyiapkannya.

Membangun legacy bukan mengenai membesar-besarkan diri sendiri. Tetapi lebih kepada menyiapkan sebuah hal yang bernilai abadi bagi setiap manusia yang pernah kita jumpai semasa kita hidup. Yang semoga, peninggalan itu bermakna positif dan berkesan mendalam bagi mereka. Entah karena apa yang telah dilakukan berupa kebaikan, persahabatan, ilmu, teladan, pemberian, pengetahuan, atau talenta.

Bagi saya, membangun legacy tidaklah harus dimulai secara ambisius untuk menjangkau dunia. Saya bukanlah Mother Teresa, yang menyentuh hati jutaan manusia dengan kebaikan hatinya yang luar biasa atau Steve Jobs, yang meski telah meninggal, tetapi selalu dikagumi karya dan idenya. Saya bukanlah Elon Musk, seorang ilmuwan modern yang visioner yang siap membawa umat manusia menuju planet lain. Mereka hanya sebagian dari orang- orang luar biasa yang telah memberi impact dahsyat bagi umat manusia.

Saya hanya seorang pria, suami, bapak dari seorang anak perempuan mungil, bekerja sebagai ilustrator dan concept artist di daerah Tangerang Selatan, penggila ping pong, dan The Last of Us. Tapi, ijinkan saya merajut legacy ini, diawali dari kehidupan paling sederhana tiap harinya. Bukan hal besar. Bahkan cenderung tidaklah istimewa.

legacy

Tapi, saya percaya, tidak ada legacy yang besar, tanpa diawali kesetiaan melakukan hal-hal kecil, seperti mengasihi, mencintai, setia, bersyukur, mengampuni, memaafkan, mengaku kesalahan, belajar berbagi, mendengarkan, menolong, empati, belajar dari kegagalan, dan selalu bangkit, tidak menyerah.

Selamat membangun dan meninggalkan legacy, rekan-rekan pembaca!

 

 

 

 

 

Follower (Likes) or Growth?

Saat seseorang ‘terjun’ ke dunia nan hiruk-pikuk bernama sosial media, maka hal berikut ini seringkali menghinggapi pikiran para penggunanya. Yaitu “adanya dorongan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin likes atau follower.” Mungkin hal ini tentu tidak serta merta dialami semua pengguna sosial media. Tapi harus diakui, saya salah satu orang yang sempat mengidapnya!

Sebagai seorang kreatif yang menggunakan platform sosial media sebagai wadah untuk memperkenalkan diri melalui karya-karyanya ke dunia (via internet), maka, parameter paling mudah untuk mengetahui apakah karya yang dihasilkan sebenarnya mendapat apresiasi atau setidaknya respon dari para pengguna lain, yaitu dengan menakar berapa banyak like atau follower yang sudah kita dapat.

Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik dalam art journey sosial media saya, dimana saya sungguh mengevaluasi dan menanyakan pertanyaan kritis kepada diri saya sendiri.

Sebenarnya, untuk apa saya berkarya? Untuk apa saya memajang semua karya saya di dunia maya? Apakah sekadar mengharapkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan likes dan bertambahnya follower yang banyak? Atau sebenarnya, ada hal lebih penting dari itu semua, khususnya jika dilihat dari perspektif seorang artist yang sedang ingin terus belajar konsisten dalam berkarya dan berkembang dalam keterampilannya. Yang mengenal kata,” tidak pernah ada istilah berhenti belajar.”

Setelah merenungkannya, saya harus akui, jebakan “gila likes dan follower” tadi tanpa sadar telah menghambat dan sedikit menjadi distraksi bagi art journey saya. Semua dorongan yang kadang bisa positif tapi juga negatif ini telah memurnikan motivasi saya dalam berkarya.

“Apakah hanya mau berkarya demi meraih likes dan follower banyak? Bagaimana kalau hal itu tidak tercapai? Apakah jadi down, dan melupakan tujuan semula yaitu progres dan pertumbuhan? Bukankah progres atau growth seorang concept artist lah yang terutama? Apakah saya berkarya harus (selalu) mengikuti keinginan dari pasar? Dimanakah letak kesenangan dalam berkarya jika tuntutan-tuntutan seperti ini terus menerus menyetir kehidupan seorang artist?”

Tulisan ini berangkat dari penilaian jujur diri sendiri, melihat fenomena yang terjadi, khususnya apa yang telah saya alami belakangan ini. Sebagai seorang yang ingin terus berkembang, belajar, dan berkarya, saya harus tiba pada satu kesimpulan.

Pasar memang penting. Selera orang lain memang patut diperhatikan, tetapi bukan segalanya. Sedari awal, seni sudah seharusnya bisa dinikmati, baik oleh sang seniman itu sendiri dan oleh dunia. Sampai saat itu tiba, biarlah progres pertumbuhan seorang seniman juga harus mendapat porsi yang cukup, tanpa tergerus terus-menerus dengan tuntutan dan jebakan “likes dan follower” di dunia maya.

Selamat mengejar perkembangan dalam bidang apapun!

Menjadi Orang Tua yang Ekspresif?

Sudah 27 bulan lamanya (sejak istri mengandung 9 bulan + usia putri saya sekarang, 18 bulan), saya menjalani peran sebagai orang tua. Ada satu hal penting yang saya pelajari dari interaksi dan waktu yang dilewati bersamanya.

Tidak lain adalah bagaimana saya yang introvert dan cenderung tidak terlalu ekspresif ini, sedang dibentuk dan diajar untuk mau menjadi lebih ekspresif yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti kemampuan untuk tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan.

Ya. Tiap interaksi saya dengan putri saya, kini, haruslah lebih ekspresif. Saya harus mampu menampilkan gestur, gerakan, sikap, atau tingkah laku yang ekspresif, khususnya saat sedang bermain dengannya. Ini adalah sebuah kata kunci baru dalam perjalanan saya sebagai orang tua.

EKSPRESIF. 

Saya tidak perlu malu, saya tidak perlu jaim (jaga image) apabila di dekatnya. Saya bisa menjadi apa adanya saya. Bermain, menari, melakukan gerakan-gerakan lucu dan kadang tak terduga, mengeluarkan suara-suara aneh, hingga ekspresi wajah yang cenderung cartoony. Semua demi memperkuat bonding dan keintiman yang murni dengan sang buah hati. Ia akan melihat apa adanya saya. Tidak tertutup-tutupi. Inilah saya yang konyol, kocak, kaku, cartoony, bahkan garing (membuat lelucon yang kadang tidak lucu) di hadapannya.

Sketch_28_2_2018

“Apakah berarti orang tua yang tidak terlalu ekspresif bisa dikatakan tidak dekat dengan anaknya?”

Bukan demikian. Tentu saya percaya, kata ekspresif tidak serta merta menjadi rumusan yang berlaku baku dan wajib bagi semua orang tua. Tapi ini berlaku bagi saya. Kami berdua jadi lebih menikmati waktu bersama. Waktu membaca buku anak jadi lebih berwarna, lebih ceria, lebih hidup, lebih menyenangkan.

Membaca dengan intonasi yang dinamis, playful, bahkan diselingi bunyi-bunyian tertentu (misal: hewan kucing – meong, atau mobil – ngeeng, hingga traktor – dududududuk), akan membuat aktivitas membaca lebih seru! Tidak monoton.

Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana menjaga mood dan situasi hati untuk tetap konsisten menampilkan ekspresi yang hidup, semangat, dan menyenangkan bersamanya, ketika saya baru saja menghadapi hari yang berat (lalu lintas hectic, atau deadline pekerjaan kantor yang tidak terduga). Ini adalah tantangan setiap harinya.

Tapi, menjadi ekspresif adalah satu komitmen baru saya dalam menjalani peran sebagai bapak. Saya percaya, dengan menjadi orang tua yang ekspresif, jujur dalam menampilkan citra diri di hadapan anak, termasuk ketidaksempurnaan dan apa adanya diri saya, hubungan diantara kami akan semakin erat, dekat, dan mesra.

Biarlah masing-masing kita, sebagai orang tua, mampu lebih kreatif mengembangkan cara-cara untuk menjalin hubungan yang kuat dengan putra-putri kita. Semua tidak akan sia-sia.