Komparasi

Komparasi atau membanding-bandingkan, merupakan suatu hal yang sering terjadi di antara hubungan sesama manusia. Entahkah orang muda, orang tua, laki-laki, atau perempuan, semua ‘rentan dan gampang tergoda’ untuk melakukannya.

Apakah komparasi atau membanding-bandingkan berarti salah dan berdosa?

Terlalu jauh jika kita terburu-buru menilainya demikian. Tetapi, sejauh pengamatan saya selama ini, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seringkali malah mengarah ke hal negatif dan bukannya membangun (konstruktif). Tetapi ini kembali pada tiap individu dalam menyikapi kebiasaan komparasi ini.

Jika komparasi dengan orang lain menjadi amunisi bagi seseorang untuk berkembang dan berusaha agar menjadi lebih baik, maka, ini masuk dalam kategori positif. Tapi, jika komparasi yang dilakukan justru membuat seseorang merasa selalu kurang, minder, tidak melihat hal baik dalam diri, dan sulit bersyukur, maka, ini sudah menjadi hal negatif dalam hidup seseorang.

Komparasi sendiri banyak saya dengar dari berbagai topik pembicaraan sehari-hari, di segala tingkatan usia, dan di segala fase kehidupan. Tanpa sadar, habit ini bahkan sudah dimulai sejak usia dini di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, seorang anak yang tinggal di sebuah komplek perumahan, menyadari bahwa tetangganya sudah punya suatu fasilitas (mainan/ handphone/ kendaraan) yang baru, dimana ia tidak memilikinya. Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang “lebih punya”, akan menimbulkan rasa iri, cemburu, dan mulai tidak bersyukur. Dengan segera, si anak tadi mendatangi orang tuanya, dan mengadukan soal “betapa ia menginginkan apa yang tetangganya miliki.” Sang orang tua pun jika tidak cukup bijak, akan segera memenuhinya, demi supaya menghentikan kerewelan anaknya. Padahal yang sebenarnya, jika anak itu – di usia mudanya – sudah memiliki fasilitas tadi, ternyata malah tidak baik dan membahayakan. Ini hanya satu contoh.

Di dunia pekerjaan juga tidak berbeda. Menjadi tidak penting seberapa besar gaji Anda,  jikalau kita selalu membandingkan apa yang sudah kita terima dengan orang lain yang (ternyata) “lebih” dari kita. Baik itu gaji, fasilitas, kesempatan, dan lainnya. Kita akan merasa diri “selalu kurang” dan lupa bahwa sebenarnya apa yang kita sudah terima, kita miliki ini adalah sebuah kebaikan demi kebaikan yang datangnya dari Atas.

Sebagai orang tua bagi putri saya yang berusia 14 bulan, Tabitha, saya juga terus belajar mengenai hal ini. Bagaimana bisa menjaga hati dan motivasi yang benar agar tidak terjerumus ke dalam habit ‘membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain’. Hidup bertetangga misalnya, dengan mudah kita bisa mengetahui perkembangan apa saja yang anak tetangga sudah lewati, sementara anak kita belum. Atau justru jatuh ke dalam kesombongan yang tidak penting karena mengetahui anak sendiri sudah unggul dalam hal motorik dari anak orang lain. Dan seterusnya.

Mengapa membandingkan?

Mengapa hal ini menjadi lumrah di kehidupan antar manusia?

Apakah hal ini sehat atau justru kontra-produktif?

Di sebuah pertemuan ibu-ibu, yang sudah memiliki cucu, mereka berbagi kisah dan update kehidupan mereka. Satu topik yang ‘tak terhindarkan untuk dibahas’ adalah update cucu-cucu mereka. “Hai, Jeng, cucumu sudah bisa apa?”, atau “Eh, cucuku sudah makin pinter deh, dia sudah bisa lari, padahal usia baru X bulan. Kalau cucumu sudah bisa apa?”, dan seterusnya.

Tidaklah salah jika kita ingin berbangga dan mensyukuri tiap perkembangan anak/ cucu/ orang yang kita sayangi. Tetapi, mulai menjadi sesuatu yang berbahaya, jikalau ini digunakan untuk meninggikan diri atau merasa diri lebih dari orang lain.

Sebagai seorang pekerja kreatif di negara yang sedang berkembang industri kreatifnya, saya juga tidak luput dari jebakan ‘komparasi’ ini. Bagaimana dengan mudahnya saya merasa tidak bisa mengejar pencapaian (kualitas, karya, teknik, teknologi, kesempatan-kesempatan) pekerja-pekerja kreatif di negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang memang sudah lebih unggul dalam kemajuan industri kreatif nya (animasi, theme park, dan video game) dibandingkan Indonesia.

Tapi, jika saya hanya berkubang dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa minder hingga tidak bersyukur dan tidak melakukan sesuatu, maka  segala hal menjadi tidak berguna. Menjadi sia-sia.

Daripada mengambil sisi negatif dari suatu komparasi, lebih baik fokus di hal positif. “Bagaimana aku bisa belajar dari orang ini agar bisa menggambar lebih baik?, “Wah, artist ini sudah begitu menguasai teknik ini, bagaimana cara agar aku bisa mengikuti caranya untuk perbaikan karya-karyaku berikutnya?”, dan seterusnya.

Komparasi, membanding-bandingkan, dan ‘melihat rumput tetangga yang lebih hijau’ tidaklah salah. Tetapi, bagaimana bisa tetap sadar bahwa apa yang sudah kita terima dan miliki, sesungguhnya merupakan suatu kebaikan Tuhan dan bekal untuk kita berkembang menjadi lebih baik. Dan mampu menyerap, belajar, dan memperbaiki diri setelah melihat orang-orang hebat di luar sana. Bukannya malah menjadi minder, malas berbuat sesuatu, pasrah, menyerah sebelum berperang, tidak bersyukur dan memupuk iri hati.

Selamat menyerap inspirasi dari segala hal, dan menggunakannya untuk membawa diri menuju level yang lebih tinggi! Thanks for visiting, friends!

ilustrasi komparasi

Advertisements

Diffused Neutral Light Study

Tiga hari terakhir, saya belajar bagaimana melukis (digital) image dan referensi foto maupun real life, dengan memperhatikan elemen pencahayaan yang sangat penting. Diffused Neutral Light.

Saya terinspirasi bagaimana artist ternama, ex-conceptor Disney Pixar, yaitu Robert Kondo dan Dice Tsutsumi (Tonko House studio) mampu menerjemahkan suatu scene yang kompleks (pencahayaan dan teknis lainnya), ke dalam suatu lukisan still life yang simpel, tapi tetap mampu menangkap mood, lengkap dengan diffused neutral light nya.

Alhasil inilah apa yang bisa saya hasilkan. Sebagai studi still life perdana lagi sejak masa kuliah 14 tahun lalu (yaiks!! Aku sudah semakin tua!), saya cukup puas. Karena ini bukan tentang hasil nya saja, apakah mirip atau mendekati hasil serealistis di foto referensi. Tapi terpenting adalah proses dan pembelajaran teknik yang jadi semakin kaya.

Studi 1 – Interior – Alat-alat baking di dapur

 

Studi 2 – Interior – Pojokan meja kantor

 

Studi 3 – Exterior – Cafe dari random internet photo

 

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!