Connection before Correction

Baru-baru ini, saya berdiskusi dengan istri mengenai satu prinsip penting yang tanpa sadar, mungkin telah saya abaikan dalam relasi saya sehari-hari. Connection before correction.

Mudah untuk menegur, mengkritik, dan tergesa-gesa dalam menilai seseorang, entah itu pasangan, anak, rekan kerja, orang yang dimentor, sampai artis-artis di surat kabar, karena suatu kesalahan yang telah mereka lakukan. Kecenderungan kita tentu mudah terbawa dengan penggiringan opini yang terjadi nyaris tiap hari, tentang banyak topik, melalui berbagai media.

Mengkoreksi adalah tindakan yang menyatakan secara tidak langsung, bahwa, kita ‘lebih baik’ dari yang dikoreksi. Meski terkesan benar dan positif, tetapi, koreksi bisa jadi malah mempertegas kesan bahwa kita lebih pintar, lebih benar, lebih saleh, lebih dan lebih lainnya.

Apakah benar demikian? Apakah benar kita lebih unggul dari yang lain?

Yang lebih parah, kita menyampaikan koreksi kepada seseorang, tanpa terlebih dahulu mengedepankan faktor hubungan. Kita bahkan belum benar-benar connect dengan orang yang kita tegur. Tentu saja, orang tersebut cenderung akan defensif, tertutup, terganggu, dan menolak koreksi kita (meskipun positif, ada benarnya, dan konstruktif).

Semua dikarenakan hanya terlalu fokus mengkoreksi tanpa terlebih dulu membangun koneksi/ hubungan/ relasi (batin, hati, jiwa) dengan orang tersebut.

Bagi saya pribadi, prinsip connection before correction begitu penting dan dapat diterapkan di segala aspek dalam hubungan kita sehari-hari. Intinya, prinsip ini kembali mengingatkan manusia, untuk tidak lupa memanusiakan sesama manusia dalam hubungannya.

Jangan hanya tentang target-target. Espektasi. Goal. Objective. To-do-list. Program.

Harus berlatih lagi prinsip ini. Tidak boleh mengabaikan sisi kemanusiaan seseorang. Apa yang dipikirkannya. Apa perasaannya. Apa yang jadi keinginannya. Apa latar belakang kisahnya, dan sebagainya.

Selamat mencoba prinsip connection before correction!

connection before correction

 

Advertisements

Digital Parenting

Sejak mengemban tanggung jawab sebagai bapak, saya baru belajar apa yang namanya ‘mengasuh anak’. Ternyata mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sangat sangat melelahkan.

Mulai dari memandikan, memakaikan baju, mengoleskan minyak, gosok gigi, menggendong dan menina-bobokan, menjemur di panas matahari, memastikan nyamuk tidak mengganggu tidur si bayi, menjaganya saat merangkak (kini berlari), menyuapi makan, dan hingga menemaninya bermain (dalam dan luar rumah) dan belajar (kognitif, motorik, linguistik, dll).

Saya memang belum pernah benar-benar ditinggal berdua saja dengan sang buah hati di rumah, karena alasan kebutuhan ASI nya masih kentara di malam hari. Tapi, dengan hanya mencicipi “sedikit” saja peran mengasuh tadi, sudah cukup membantu saya mengerti mengapa gaji seorang baby sitter amatlah besar!

Jelas sebuah pekerjaan yang menantang. Betapa saya angkat topi bagi setiap ibu-ibu di luar sana, baik ibu rumah tangga, home-schooling, maupun ibu yang bekerja sekaligus mengasuh anak. Dan tentu kontribusi para orang tua, mertua, kakek-nenek, opung, eyang yang juga merelakan waktu, energi, dan perhatian untuk mengasuh cucu kesayangan mereka. Terimakasih!

Namun, jika bicara mengenai mengasuh anak, tentu harus pula membahas ‘cara’ atau ‘metode’ seperti apa dalam menjalankan peran tersebut. Demi kebaikan dan perkembangan yang positif dari sang buah hati, tentu kita seharusnya memilih cara terbaik yang bisa kita terapkan bagi mereka.

Dan kini, di era digital dan serba canggih ini, lahirlah satu metode pengasuhan anak yang tanpa sadar sudah menjadi bagian hidup kita, tak terkecuali keluarga saya. Teknologi, internet, dan gadget adalah media yang kini sudah melekat dan tidak dapat dihindari dari hidup manusia modern.

Berbagai penelitian ternyata menyatakan penggunaan gadget yang berlebihan dan sejak usia dini pada balita dan anak-anak, bukanlah merupakan hal positif (silahkan buka video A, video B, dan video C berikut). Meski terbukti sangat meringankan beban para pengasuh (seperti saat menidurkan, membuat anak bisa tenang saat disuapi makan, atau kemudahan lainnya), secara umum, justru memiliki dampak negatif. Bahkan, kategori kecanduan gadget (internet) yang ekstrim, bisa disamakan dengan kecanduan alkohol dan rokok!

Hal negatif yang muncul seperti rentannya anak sejak dini mengalami kegelisahan (anxiety) bukannya rasa aman, mudah murung (depressed) bukannya kebahagiaan, dan stres (stress) bukannya ketenangan. Sangat ironis dan memprihatinkan mendengar fakta ini. Sebuah hal yang harus menjadi perhatian serius para orang tua di jaman sekarang ini.

Saya dan istri pun masih terus berjuang keras dalam mengasuh anak, dengan seminim mungkin pengaruh gadget, khususnya TV dan smartphone. Godaan untuk mengambil shortcut mudah itu selalu muncul. Energi yang dihabiskan untuk menemani si buah hati tanpa adanya bantuan gadget terbukti amatlah melelahkan.

Kita dituntut untuk mau repot dan capek. Harus kreatif, dan mencoba hal baru. Entah itu dengan baca buku, corat-coret, menggambar, aktivitas kerajinan tangan, menari, menyanyi, goyang-goyang tubuh, berperan sebagai kuda (juga singa), main puppet (boneka), main di halaman komplek, belajar buat es batu dan lain sebagainya.

Semua hal yang dapat meningkatkan stimulus positif dari dalam diri si anak, yang (sesungguhnya) bisa dilakukan dengan mudah melalui HP, kini, digantikan dengan aktivitas fisik. Sebuah hal yang kian menantang, mengingat rutinitas pekerjaan, pulang kantor, macet di jalan raya, atau berdesak-desakkan di kereta, telah menggerus energi kita seharian.

Tapi, mari sama-sama merenungkan sejenak, sesungguhnya apakah yang paling dibutuhkan mereka, anak-anak kita, setiap harinya, di masa kecilnya? Apa yang menjadi kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, dan hal yang paling dinanti-nantikan oleh mereka setiap harinya?

Jawaban itu tidak lain adalah diri kita, para orang tua. Bapak, ayah, ibu, mama. Bersama kitalah, anak kita (di masa kecilnya) merasa amat bahagia, dan bukan bersama gadget. Menghabiskan waktu bersama kitalah, anak kita merasa paling disayangi, bukan dengan menghabiskan berjam-jam di depan monitor gadget. 

Saya tidak anti-gadget. Saya bahkan amat menggilai gadget. Saya memiliki laptop untuk bekerja tengah malam, atau smartphone yang menjadi alat meningkatkan produktivitas saya sehari-hari, Wacom Intuos untuk berkarya, belum lagi TV, dan PS3 yang adalah bagian dari kesenangan saya. Saya jelas seorang gadget freak dan pengguna rutin gadget!

Tetapi, jika karena benda-benda mati itu, kehidupan dan perkembangan anak saya akan mengalami gangguan karena pengaruh-pengaruh negatif. Saya berkomitmen (minimal untuk diri saya sendiri), agar sedapat mungkin, jika itu tergantung pada saya, maka saya akan dengan bijak menggunakan gadget di depan anak saya, dan lebih banyak memberi diri saya baginya, secara penuh, bukan setengah hati.

Pada masa kecilnya. Untuk masa depannya.

Semoga saya, dan istri, terus bisa “hadir” secara hati, jiwa dan fisik baginya. Buah hati kesayangan, yang adalah pemberian Tuhan.

ilustrasi quality time dengan anak

 

 

 

Why still blogging in 2019?

Saya masih berusaha menjaga agar artblog ini tetap hidup dan aktif, meski di tahun-tahun belakangan ini, konten video dan podcast sudah kian gencar dan tampak lebih populer dibandingkan blog dan sejenisnya.

Alasan sederhana, adalah karena bagi saya, menulis, adalah suatu aktivitas yang sangat berguna dalam mendukung perkembangan pola pikir kreatif seseorang. Bisa berfungsi seperti sebuah terapi bagi seorang artist!

Dengan menulis (nge-blog), seperti menyeimbangkan diri saya, agar saya tetap memiliki perspektif lain yang fresh dalam menjalani kehidupan berkeluarga, karir, dan berkomunitas. Tidak melulu berkutat di zona nyaman – desain, gambar, sketsa, mewarna, dll.

Jadi, meski di luar sana, hiruk pikuk dengan konten video, visual gallery (Instagram), dan podcast, saya masih akan berkomitmen menjaga kelangsungan blog ini yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, agar tetap aktif dan hidup.

*Saya sendiri juga tengah belajar membuat konten video.

Link ke channel Youtube: klik disini.

New hobby in 2019: Making video!

Sudah sejak lama saya ingin belajar bagaimana membuat video. Entah video timelapse proses berkarya saya, atau sekadar video dokumentasi perjalanan bersama keluarga.

Entah mengapa, saya berpendapat bahwa media video merupakan cara paling lengkap dan akurat dalam menyampaikan berbagai macam gagasan, berupa visual, suara, narasi, ditambah efek tertentu. (Animasi juga bisa jadi alternatif!)

Karena sewaktu kuliah – jurusan desain interior- , saya tidak pernah mengetahui apapun perihal ilmu membuat video, maka, baru di era Youtube sekaranglah, dimana bertebaran segudang tips & trick (dari yang paling mudah hingga kompleks), juga tutorial dari orang-orang yang berbaik hati berbagi pengetahuan dan ilmu mereka, saya mulai memberanikan diri memulainya hobi ini.

Inginnya bukan sekadar asal membuat video. Tapi, minimal ada sedikit hal yang bisa dibagikan. Entahkah itu berupa tutorial, timelapse proses saya berkarya, atau sekadar video dokumentasi pribadi.

Dan dalam penggarapannya, saya merasa perlu memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar dalam membuat sebuah video agar lebih menarik. Saat pengambilan gambar – footage, program editing yang sesuai bagi saya, perlengkapan yang mendukung, belajar hal basic soal cinematography, seperti pengambilan angle, komposisi, dan lain sebagainya.

Ternyata hal-hal di atas sangatlah seru dan menyenangkan.

Semoga saya bisa terus bereksperimen, mencoba hal baru, tidak takut melakukan kesalahan, dan tidak terburu-buru ingin hasil maksimal, karena yang paling penting adalah menghargai proses sambil tetap menghasilkan sesuatu. Tetap mencoba. Terus belajar dan terbuka pada masukan juga kritik, demi perbaikan ke depannya.

Keep making something to inspire others! Happy creating!

Terimakasih sudah berkunjung di artblog ini!

Komparasi

Komparasi atau membanding-bandingkan, merupakan suatu hal yang sering terjadi di antara hubungan sesama manusia. Entahkah orang muda, orang tua, laki-laki, atau perempuan, semua ‘rentan dan gampang tergoda’ untuk melakukannya.

Apakah komparasi atau membanding-bandingkan berarti salah dan berdosa?

Terlalu jauh jika kita terburu-buru menilainya demikian. Tetapi, sejauh pengamatan saya selama ini, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seringkali malah mengarah ke hal negatif dan bukannya membangun (konstruktif). Tetapi ini kembali pada tiap individu dalam menyikapi kebiasaan komparasi ini.

Jika komparasi dengan orang lain menjadi amunisi bagi seseorang untuk berkembang dan berusaha agar menjadi lebih baik, maka, ini masuk dalam kategori positif. Tapi, jika komparasi yang dilakukan justru membuat seseorang merasa selalu kurang, minder, tidak melihat hal baik dalam diri, dan sulit bersyukur, maka, ini sudah menjadi hal negatif dalam hidup seseorang.

Komparasi sendiri banyak saya dengar dari berbagai topik pembicaraan sehari-hari, di segala tingkatan usia, dan di segala fase kehidupan. Tanpa sadar, habit ini bahkan sudah dimulai sejak usia dini di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, seorang anak yang tinggal di sebuah komplek perumahan, menyadari bahwa tetangganya sudah punya suatu fasilitas (mainan/ handphone/ kendaraan) yang baru, dimana ia tidak memilikinya. Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang “lebih punya”, akan menimbulkan rasa iri, cemburu, dan mulai tidak bersyukur. Dengan segera, si anak tadi mendatangi orang tuanya, dan mengadukan soal “betapa ia menginginkan apa yang tetangganya miliki.” Sang orang tua pun jika tidak cukup bijak, akan segera memenuhinya, demi supaya menghentikan kerewelan anaknya. Padahal yang sebenarnya, jika anak itu – di usia mudanya – sudah memiliki fasilitas tadi, ternyata malah tidak baik dan membahayakan. Ini hanya satu contoh.

Di dunia pekerjaan juga tidak berbeda. Menjadi tidak penting seberapa besar gaji Anda,  jikalau kita selalu membandingkan apa yang sudah kita terima dengan orang lain yang (ternyata) “lebih” dari kita. Baik itu gaji, fasilitas, kesempatan, dan lainnya. Kita akan merasa diri “selalu kurang” dan lupa bahwa sebenarnya apa yang kita sudah terima, kita miliki ini adalah sebuah kebaikan demi kebaikan yang datangnya dari Atas.

Sebagai orang tua bagi putri saya yang berusia 14 bulan, Tabitha, saya juga terus belajar mengenai hal ini. Bagaimana bisa menjaga hati dan motivasi yang benar agar tidak terjerumus ke dalam habit ‘membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain’. Hidup bertetangga misalnya, dengan mudah kita bisa mengetahui perkembangan apa saja yang anak tetangga sudah lewati, sementara anak kita belum. Atau justru jatuh ke dalam kesombongan yang tidak penting karena mengetahui anak sendiri sudah unggul dalam hal motorik dari anak orang lain. Dan seterusnya.

Mengapa membandingkan?

Mengapa hal ini menjadi lumrah di kehidupan antar manusia?

Apakah hal ini sehat atau justru kontra-produktif?

Di sebuah pertemuan ibu-ibu, yang sudah memiliki cucu, mereka berbagi kisah dan update kehidupan mereka. Satu topik yang ‘tak terhindarkan untuk dibahas’ adalah update cucu-cucu mereka. “Hai, Jeng, cucumu sudah bisa apa?”, atau “Eh, cucuku sudah makin pinter deh, dia sudah bisa lari, padahal usia baru X bulan. Kalau cucumu sudah bisa apa?”, dan seterusnya.

Tidaklah salah jika kita ingin berbangga dan mensyukuri tiap perkembangan anak/ cucu/ orang yang kita sayangi. Tetapi, mulai menjadi sesuatu yang berbahaya, jikalau ini digunakan untuk meninggikan diri atau merasa diri lebih dari orang lain.

Sebagai seorang pekerja kreatif di negara yang sedang berkembang industri kreatifnya, saya juga tidak luput dari jebakan ‘komparasi’ ini. Bagaimana dengan mudahnya saya merasa tidak bisa mengejar pencapaian (kualitas, karya, teknik, teknologi, kesempatan-kesempatan) pekerja-pekerja kreatif di negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang memang sudah lebih unggul dalam kemajuan industri kreatif nya (animasi, theme park, dan video game) dibandingkan Indonesia.

Tapi, jika saya hanya berkubang dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa minder hingga tidak bersyukur dan tidak melakukan sesuatu, maka  segala hal menjadi tidak berguna. Menjadi sia-sia.

Daripada mengambil sisi negatif dari suatu komparasi, lebih baik fokus di hal positif. “Bagaimana aku bisa belajar dari orang ini agar bisa menggambar lebih baik?, “Wah, artist ini sudah begitu menguasai teknik ini, bagaimana cara agar aku bisa mengikuti caranya untuk perbaikan karya-karyaku berikutnya?”, dan seterusnya.

Komparasi, membanding-bandingkan, dan ‘melihat rumput tetangga yang lebih hijau’ tidaklah salah. Tetapi, bagaimana bisa tetap sadar bahwa apa yang sudah kita terima dan miliki, sesungguhnya merupakan suatu kebaikan Tuhan dan bekal untuk kita berkembang menjadi lebih baik. Dan mampu menyerap, belajar, dan memperbaiki diri setelah melihat orang-orang hebat di luar sana. Bukannya malah menjadi minder, malas berbuat sesuatu, pasrah, menyerah sebelum berperang, tidak bersyukur dan memupuk iri hati.

Selamat menyerap inspirasi dari segala hal, dan menggunakannya untuk membawa diri menuju level yang lebih tinggi! Thanks for visiting, friends!

ilustrasi komparasi

Diffused Neutral Light Study

Tiga hari terakhir, saya belajar bagaimana melukis (digital) image dan referensi foto maupun real life, dengan memperhatikan elemen pencahayaan yang sangat penting. Diffused Neutral Light.

Saya terinspirasi bagaimana artist ternama, ex-conceptor Disney Pixar, yaitu Robert Kondo dan Dice Tsutsumi (Tonko House studio) mampu menerjemahkan suatu scene yang kompleks (pencahayaan dan teknis lainnya), ke dalam suatu lukisan still life yang simpel, tapi tetap mampu menangkap mood, lengkap dengan diffused neutral light nya.

Alhasil inilah apa yang bisa saya hasilkan. Sebagai studi still life perdana lagi sejak masa kuliah 14 tahun lalu (yaiks!! Aku sudah semakin tua!), saya cukup puas. Karena ini bukan tentang hasil nya saja, apakah mirip atau mendekati hasil serealistis di foto referensi. Tapi terpenting adalah proses dan pembelajaran teknik yang jadi semakin kaya.

Studi 1 – Interior – Alat-alat baking di dapur

 

Studi 2 – Interior – Pojokan meja kantor

 

Studi 3 – Exterior – Cafe dari random internet photo

 

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!