Dunia anak: Ekspresi dan Kebebasan

Menjadi orang tua yang berusaha menemani anak saat bermain dan melatih kemampuan motoriknya dengan menggambar dan mewarnai, mengajarkan saya suatu hal yang baru dan menyenangkan.

Hal itu adalah kebebasan dalam berekspresi. Saat melihat anak mencorat coret dengan bebas di kertas yang sudah disediakan, dia sama sekali tidak takut salah, tidak kenal batasan, tidak ada apapun yang menghalanginya dalam menuangkan kreativitasnya.

Intinya, bebas. Tak ada batasan. Tak kenal aturan.

Hal ini amat berlawanan dengan profesi saya. Sebagai orang yang harus mampu menyediakan konsep dan desain untuk kebutuhan industri animasi, saya dituntut bekerja menghasilkan karya yang memiliki aturannya tersendiri, seperti deadline tertentu, belum lagi ilmu dan pengetahuan dasar bagi seorang artist yang harus diperhatikan seperti kerapihan garis, perspektif, komposisi, appealing design, dll.

Tapi, dengan sejenak memasuki dunia kebebasan anak-anak dalam berkarya, kembali membantu saya untuk refresh, relax, santai, bebas, dan hanya menikmati kesenangan dari aktivitas menuangkan corat coret liar itu.

Ini bukan tentang selalu menghasilkan masterpiece, tapi ini tentang menikmati perjalanan menjadi seorang kreatif dalam berkarya. Layaknya seorang anak yang lugu dan polos. Yang hanya mau menuangkan apa yang ia rasakan, dengan cara yang ia suka, tanpa batasan, tanpa segala kerumitan aturan.

Belajar dari ekspresi bebas seorang anak. Sebuah inspirasi tak ternilai dalam kehidupan.

Woman’s Life

Para wanita di jaman modern ini bermimpi untuk menjadi mandiri dan dapat hidup berkelimpahan dengan uang hasil keringat mereka sendiri. Hidup mereka dipicu dengan menjadikan Louis Vuitton, Gucci, Hermes, dan teman-temannya sebagai motivasi. Mereka ingin terlihat mapan dan trendy.

Wanita menjadi sangat kompetitif di segala bidang. Kaum pria tidak bisa lagi melihat wanita dengan sebelah mata saja. Dalam beberapa kasus, wanita menjadi lebih unggul dibandingkan pria. Wanita bisa menguasai berbagai bidang seperti bisnis, politik, pendidikan, dan sebagainya. Setiap wanita bercita-cita dan berlomba menjadi wanita karir yang disegani, dihormati, dan kaya.

Sekarang mari kita melihat kesederhanaan wanita dibalik kemegahannya dalam berkarir. Setinggi apa pun jabatannya dalam perusahaan, segemerlap apa pun prestasinya di dunia kerja, dia tetap menjadi seorang ibu di rumah tangganya sendiri. Wanita yang sebenarnya adalah wanita yang melayani keluarganya dengan hati yang penuh kasih dan kesabaran. Wanita yang menjadikan keluarga sebagai prioritas dalam kesehariannya.

Dia memasak. Membersihkan rumah. Mengurus anak-anak. Belanja keperluan sehari-hari. Tampil menarik untuk sang suami. Dan pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengenal jam kerja. Bahkan tidak ada insentif jika terjadi lembur atau over-time. Dia lelah namun tak mengeluh. Dan mengerjakan aktivitas harian yang kelihatannya “sepele” ini menjadi rutinitas untuk mengekspresikan cinta kepada keluarganya.

Rumah seharusnya menjadi kantor pusat dari kesibukan wanita.

Anak-anak dan suami seharusnya menjadi klien utama untuk menjadi perhatiannya. Jika Anda wanita yang berkarir, jangan lupa bahwa wanita adalah pilar yang berperan membuat rumah tangga tetap berdiri teguh. Anda bisa memilih untuk menjadikannya lebih kokoh, atau menghancurkannya.

(Tulisan dan perenungan : Dwi Hutapea. Ilustrasi : Tigor Boraspati)