Dunia anak: Ekspresi dan Kebebasan

Menjadi orang tua yang berusaha menemani anak saat bermain dan melatih kemampuan motoriknya dengan menggambar dan mewarnai, mengajarkan saya suatu hal yang baru dan menyenangkan.

Hal itu adalah kebebasan dalam berekspresi. Saat melihat anak mencorat coret dengan bebas di kertas yang sudah disediakan, dia sama sekali tidak takut salah, tidak kenal batasan, tidak ada apapun yang menghalanginya dalam menuangkan kreativitasnya.

Intinya, bebas. Tak ada batasan. Tak kenal aturan.

Hal ini amat berlawanan dengan profesi saya. Sebagai orang yang harus mampu menyediakan konsep dan desain untuk kebutuhan industri animasi, saya dituntut bekerja menghasilkan karya yang memiliki aturannya tersendiri, seperti deadline tertentu, belum lagi ilmu dan pengetahuan dasar bagi seorang artist yang harus diperhatikan seperti kerapihan garis, perspektif, komposisi, appealing design, dll.

Tapi, dengan sejenak memasuki dunia kebebasan anak-anak dalam berkarya, kembali membantu saya untuk refresh, relax, santai, bebas, dan hanya menikmati kesenangan dari aktivitas menuangkan corat coret liar itu.

Ini bukan tentang selalu menghasilkan masterpiece, tapi ini tentang menikmati perjalanan menjadi seorang kreatif dalam berkarya. Layaknya seorang anak yang lugu dan polos. Yang hanya mau menuangkan apa yang ia rasakan, dengan cara yang ia suka, tanpa batasan, tanpa segala kerumitan aturan.

Belajar dari ekspresi bebas seorang anak. Sebuah inspirasi tak ternilai dalam kehidupan.

Kualitas karakter kelas dunia

Kalau mau mengamati dengan saksama, kita selalu dikelilingi berbagai hal dalam hidup ini yang menyimpan banyak hikmah dan pelajaran berharga di baliknya. Hal tersebut bisa berupa pengalaman, kejadian-kejadian, orang-orang, karya-karya, bahkan dalam sesuatu yang sifatnya menghibur.

Untuk saya pribadi, salah satu sumber inspirasi dalam menimba sebuah pelajaran datang dari kesukaan saya akan menonton tayangan sepakbola. Ya, liga champion! Pecinta sepakbola tentu tahu betapa intens dan berkualitasnya kompetisi yang satu ini. Selalu penuh drama (tentu yang dimaksud bukan drama seperti serial tv remaja), ketegangan, dan kejutan-kejutan hingga menit-menit akhir pertandingan. Kompetisi ini terdiri dari klub-klub juara masing-masing liga, saling dipertemukan untuk berlomba merebut trofi si kuping lebar – julukan bagi trofi liga champion.

Menyaksikan sebuah pertandingan di babak perempat-final, mempertemukan juara liga Itali Seri-A 6 kali berturut-turut Juventus, dengan juara bertahan liga Champion, dan juara La Liga Spanyol, Real Madrid. Sebuah big match kelas dunia!

Pertandingan berlangsung sangat intens. Jual beli serangan. Beradu penguasaan bola. Pelatih beradu teknik dan strategi dari pinggir lapangan. Pada akhirnya, Real Madrid pun keluar sebagai pemenang dengan skor 0-3 di leg pertama ini.

Saya tidak akan membahas detil jalannya pertandingan di atas. Tapi saya ingin fokus pada membahas satu kejadian paling menarik di sepanjang 90 menit yang berlangsung. Hal tersebut tampak pada saat gol ke-2 Real Madrid yang dicetak secara sensasional oleh pemain terbaik dunia lima kali dalam diri seorang Cristiano Ronaldo.

Dengan tubuh atletis dan relatif ideal untuk seorang atlit, Ronaldo menyambut umpan lambung bek kanan Madrid, Carvajal dengan sebuah tendangan salto sempurna dan menghujamkan bola dengan keras ke gawang Juventus. Meninggalkan Buffon terdiam tak berkutik. 2-0 untuk Real Madrid. Kualitas teknik, penyelesaian, dan ketajaman Ronaldo sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia sudah mencetak 14 gol dari 8 pertandingan liga Champion musim ini. Benar-benar fantastis! Tapi spotlight saya bukan diberikan pada Ronaldo, yang memang sangat layak menjadi Man of the Match di pertandingan tersebut.

Saya justru dibuat terkesan dengan reaksi suporter Juventus yang memenuhi Juventus Stadium malam itu. Mereka menginginkan timnya keluar sebagai pemenang. Tapi yang didapat adalah tertinggal 2 gol akibat ‘ulah’ Ronaldo. Dan tendangan saltonya mengonfirmasi hal itu. Lalu hadirlah reaksi yang saya pikir menunjukkan sebuah kualitas karakter kelas dunia, yang patut kita teladani.

Pendukung Juventus menyambut gol spektakuler dan selebrasi Ronaldo dengan melakukan standing ovation sambil bertepuk tangan! Ya. Sebuah aksi spektakuler dalam sepakbola, menghadirkan rasa kagum dan apresiasi yang pantas, bahkan jika itu datang dari lawan, maka mereka pun patut mendapatkannya.

Sebuah sikap berbesar hati, sportif, lapang dada, fair, dan elegan yang telah ditunjukkan oleh Juventini – sebutan bagi pendukung Juventus terhadap Ronaldo. (video nya dapat disaksikan di sini dan di sini). Dan Ronaldo pun, tidak bisa tidak, mencoba membalas apresiasi itu dengan menunjukkan gestur terimakasih kepada seluruh isi stadion (dapat disaksikan di sini).

Champions-League-Quarter-Final-First-Leg-Juventus-vs-Real-Madrid

Cristiano Ronaldo dengan gestur terimakasih pada pendukung Juventus yang telah memberi apresiasi pada golnya

Wow. Sebuah peragaan karakter kualitas kelas dunia di tengah pertandingan sepakbola. Sangat menyenangkan untuk dilihat.

Evaluasi diri.

Seberapa sering kita mampu menunjukkan sikap rendah hati diiringi berbesar hati, dan lapang dada, mengakui keunggulan orang lain? Mengapresiasi apa yang telah ditunjukkan orang lain, bahkan kalau hal itu bagi “lawan” atau kompetitor kita? Atau kita justru dengan keras hati, berusaha semaksimal mungkin tidak mau menyampaikan pujian atau apresiasi yang sepantasnya diberikan pada mereka yang memang lebih unggul dari kita dalam suatu hal di kehidupan ini?

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita untuk terus berjalan ke arah yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

 

 

 

Happy New Year 2013!

Kiamat?

Suku Maya?

Kalender berakhir?

Apapun itu, nyatanya untuk kesekian kalinya, kepintaran manusia, hikmat dan kepandaian ilmu pengetahuan telah “membodohi” umat manusia.  Sampai beredar film box office “2012” yang menggambarkan akhir dunia. Apakah Anda sudah menontonnya? Saya sudah. Dan saya sedikit kuatir karenanya. Ya, saya akui saya sempat menjadi orang bodoh.

Tapi, untuk apa pusing memikirkan persoalan itu. Toh, hanya Tuhan satu-satunya Pribadi yang tahu kapan semua berakhir. Fokus kita hanyalah “HARI INI”.

Apakah hari ini saya sudah menjadi manusia yang lebih baik bagi diri sendiri dan sesama?

Daripada lelah. Daripada pusing. Daripada kuatir.

Alihkan fokus kita kepada sesuatu yang lebih nyata. Yaitu rasa syukur. Saya bersyukur masih bisa menulis blog ini di awal tahun. Segudang mimpi, cita-cita, resolusi, dan target kehidupan hadir dan siap diraih di tahun baru ini. Tapi, lagi-lagi, saya tidak mau tertipu dengan “ambisi besar meraih hal-hal besar dan luar biasa di depan sana”. Saya belajar bahwa, fokus dan konsistensi dalam hal kecil hari demi hari adalah lebih penting daripada selalu melihat gambaran besar (tidak salah, tetapi jangan terlalu terjebak olehnya).

Fokuslah dan tetapkan hati melihat “HARI INI” sebagai satu saat yang terpenting. Bukan masa lalu, bukan masa depan. Tapi gunakan masa lalu untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan, serta secara bijak menyiapkan diri untuk hari esok.

Tapi siapa kita dan siapa Anda di masa depan, ditentukan oleh tiap pilihan dan tindakan yang kita lakukan di HARI INI.

Akhir kata, selamat tahun baru 2013. Kalau ada orang berkata, “hidup cuma sekali, jadi nikmati dan bersenang-senanglah selagi bisa”. Hmm. Mungkin ada benarnya. Tapi saya lebih memilih “hidup cuma sekali, dan saya akan gunakan untuk Tuhan dan manusia”. Saya rasa itu lebih bernilai kekal.

Mari hidup dengan segala kepenuhan hidup itu sendiri!

Woman’s Life

Para wanita di jaman modern ini bermimpi untuk menjadi mandiri dan dapat hidup berkelimpahan dengan uang hasil keringat mereka sendiri. Hidup mereka dipicu dengan menjadikan Louis Vuitton, Gucci, Hermes, dan teman-temannya sebagai motivasi. Mereka ingin terlihat mapan dan trendy.

Wanita menjadi sangat kompetitif di segala bidang. Kaum pria tidak bisa lagi melihat wanita dengan sebelah mata saja. Dalam beberapa kasus, wanita menjadi lebih unggul dibandingkan pria. Wanita bisa menguasai berbagai bidang seperti bisnis, politik, pendidikan, dan sebagainya. Setiap wanita bercita-cita dan berlomba menjadi wanita karir yang disegani, dihormati, dan kaya.

Sekarang mari kita melihat kesederhanaan wanita dibalik kemegahannya dalam berkarir. Setinggi apa pun jabatannya dalam perusahaan, segemerlap apa pun prestasinya di dunia kerja, dia tetap menjadi seorang ibu di rumah tangganya sendiri. Wanita yang sebenarnya adalah wanita yang melayani keluarganya dengan hati yang penuh kasih dan kesabaran. Wanita yang menjadikan keluarga sebagai prioritas dalam kesehariannya.

Dia memasak. Membersihkan rumah. Mengurus anak-anak. Belanja keperluan sehari-hari. Tampil menarik untuk sang suami. Dan pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengenal jam kerja. Bahkan tidak ada insentif jika terjadi lembur atau over-time. Dia lelah namun tak mengeluh. Dan mengerjakan aktivitas harian yang kelihatannya “sepele” ini menjadi rutinitas untuk mengekspresikan cinta kepada keluarganya.

Rumah seharusnya menjadi kantor pusat dari kesibukan wanita.

Anak-anak dan suami seharusnya menjadi klien utama untuk menjadi perhatiannya. Jika Anda wanita yang berkarir, jangan lupa bahwa wanita adalah pilar yang berperan membuat rumah tangga tetap berdiri teguh. Anda bisa memilih untuk menjadikannya lebih kokoh, atau menghancurkannya.

(Tulisan dan perenungan : Dwi Hutapea. Ilustrasi : Tigor Boraspati)