Kerapihan rumah vs eksplorasi anak

Sejak memiliki anak, banyak perubahan terjadi dalam hidup keluarga saya. Mulai dari pengembangan habit-habit baru, penetapan skala prioritas, hingga detil-detil kecil semacam perubahan layout rumah dan kompromi terhadap kerapihan rumah.

Sebagai alumni desain interior – meski dalam pekerjaan, tidak terlalu banyak berkecimpung lagi di dalamnya – , maka, keinginan untuk memiliki interior rumah yang rapi, clean, estetis, dan terkonsep, tentu masih ada – meski kadarnya sudah kian kecil.

Tetapi, belakangan, saya pun berlatih banyak soal kompromi terhadap aspek kerapihan ini. Kehadiran sang buah hati telah mengubahnya. Kehadiran anak di rumah kami telah mewarnai hidup kami, sekaligus telah membukakan mata saya mengenai apa value yang keluarga saya ingin utamakan – di fase tumbuh kembang anak kami.

Yaitu aspek safety (keamanan bagi si anak lebih utama), explorable (masih tetap rapih, tetapi bukan berarti super kaku, tetapi memberi kebebasan bagi si anak untuk menjelajah, bermain dan bereksperimen), dan juga siap kotor (misal, karena aktivitas karya seni, melukis, dll, tak sengaja dinding dicorat-coret, lantai kotor, dll).

Source: link

Bukan dalam artian negatif, tetapi justru, saya dan istri tengah belajar menyediakan suatu environment tempat tumbuh si anak yang ‘sehat’ dan ‘siap’ untuk di-explore, berantakin, di-semrawut-in, dan cenderung tidak terlalu fokus di keindahan lagi.

Lagipula, keindahan rumah masih bisa diusahakan lagi, sementara, momen krusial perkembangan dan pertumbuhan anak saat ia bermain, belajar, eksperimen dan bereksplorasi, tidak selamanya ada. Cepat atau lambat, ia akan tumbuh semakin besar dan meninggalkan rumah ini. Momen itulah yang tak ternilai harganya.

Tentu kami tetap mendorong dan mendidik dia untuk ikut menjaga kebersihan rumah, buang sampah pada tempatnya, mengembalikan mainan ke rak asalnya, dan berbagai disiplin lainnya. Tapi, karena fokus keluarga kami ‘tidak lagi’ mengutamakan keindahan di atas segalanya, maka, kompromi pun sudah kami lakukan sedikit demi sedikit.

Yang menarik, justru dengan aktivitas beres-beres pasca bermain dan bereksperimen, bisa membuat hubungan orang tua dan anak kian dekat, karena dilakukan bersama-sama sambil menanamkan value-value kehidupan. Semoga apa yang kami upayakan ini, bisa berguna bagi kehidupannya kelak.