Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!

Advertisements

Komparasi

Komparasi atau membanding-bandingkan, merupakan suatu hal yang sering terjadi di antara hubungan sesama manusia. Entahkah orang muda, orang tua, laki-laki, atau perempuan, semua ‘rentan dan gampang tergoda’ untuk melakukannya.

Apakah komparasi atau membanding-bandingkan berarti salah dan berdosa?

Terlalu jauh jika kita terburu-buru menilainya demikian. Tetapi, sejauh pengamatan saya selama ini, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seringkali malah mengarah ke hal negatif dan bukannya membangun (konstruktif). Tetapi ini kembali pada tiap individu dalam menyikapi kebiasaan komparasi ini.

Jika komparasi dengan orang lain menjadi amunisi bagi seseorang untuk berkembang dan berusaha agar menjadi lebih baik, maka, ini masuk dalam kategori positif. Tapi, jika komparasi yang dilakukan justru membuat seseorang merasa selalu kurang, minder, tidak melihat hal baik dalam diri, dan sulit bersyukur, maka, ini sudah menjadi hal negatif dalam hidup seseorang.

Komparasi sendiri banyak saya dengar dari berbagai topik pembicaraan sehari-hari, di segala tingkatan usia, dan di segala fase kehidupan. Tanpa sadar, habit ini bahkan sudah dimulai sejak usia dini di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, seorang anak yang tinggal di sebuah komplek perumahan, menyadari bahwa tetangganya sudah punya suatu fasilitas (mainan/ handphone/ kendaraan) yang baru, dimana ia tidak memilikinya. Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang “lebih punya”, akan menimbulkan rasa iri, cemburu, dan mulai tidak bersyukur. Dengan segera, si anak tadi mendatangi orang tuanya, dan mengadukan soal “betapa ia menginginkan apa yang tetangganya miliki.” Sang orang tua pun jika tidak cukup bijak, akan segera memenuhinya, demi supaya menghentikan kerewelan anaknya. Padahal yang sebenarnya, jika anak itu – di usia mudanya – sudah memiliki fasilitas tadi, ternyata malah tidak baik dan membahayakan. Ini hanya satu contoh.

Di dunia pekerjaan juga tidak berbeda. Menjadi tidak penting seberapa besar gaji Anda,  jikalau kita selalu membandingkan apa yang sudah kita terima dengan orang lain yang (ternyata) “lebih” dari kita. Baik itu gaji, fasilitas, kesempatan, dan lainnya. Kita akan merasa diri “selalu kurang” dan lupa bahwa sebenarnya apa yang kita sudah terima, kita miliki ini adalah sebuah kebaikan demi kebaikan yang datangnya dari Atas.

Sebagai orang tua bagi putri saya yang berusia 14 bulan, Tabitha, saya juga terus belajar mengenai hal ini. Bagaimana bisa menjaga hati dan motivasi yang benar agar tidak terjerumus ke dalam habit ‘membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain’. Hidup bertetangga misalnya, dengan mudah kita bisa mengetahui perkembangan apa saja yang anak tetangga sudah lewati, sementara anak kita belum. Atau justru jatuh ke dalam kesombongan yang tidak penting karena mengetahui anak sendiri sudah unggul dalam hal motorik dari anak orang lain. Dan seterusnya.

Mengapa membandingkan?

Mengapa hal ini menjadi lumrah di kehidupan antar manusia?

Apakah hal ini sehat atau justru kontra-produktif?

Di sebuah pertemuan ibu-ibu, yang sudah memiliki cucu, mereka berbagi kisah dan update kehidupan mereka. Satu topik yang ‘tak terhindarkan untuk dibahas’ adalah update cucu-cucu mereka. “Hai, Jeng, cucumu sudah bisa apa?”, atau “Eh, cucuku sudah makin pinter deh, dia sudah bisa lari, padahal usia baru X bulan. Kalau cucumu sudah bisa apa?”, dan seterusnya.

Tidaklah salah jika kita ingin berbangga dan mensyukuri tiap perkembangan anak/ cucu/ orang yang kita sayangi. Tetapi, mulai menjadi sesuatu yang berbahaya, jikalau ini digunakan untuk meninggikan diri atau merasa diri lebih dari orang lain.

Sebagai seorang pekerja kreatif di negara yang sedang berkembang industri kreatifnya, saya juga tidak luput dari jebakan ‘komparasi’ ini. Bagaimana dengan mudahnya saya merasa tidak bisa mengejar pencapaian (kualitas, karya, teknik, teknologi, kesempatan-kesempatan) pekerja-pekerja kreatif di negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang memang sudah lebih unggul dalam kemajuan industri kreatif nya (animasi, theme park, dan video game) dibandingkan Indonesia.

Tapi, jika saya hanya berkubang dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa minder hingga tidak bersyukur dan tidak melakukan sesuatu, maka  segala hal menjadi tidak berguna. Menjadi sia-sia.

Daripada mengambil sisi negatif dari suatu komparasi, lebih baik fokus di hal positif. “Bagaimana aku bisa belajar dari orang ini agar bisa menggambar lebih baik?, “Wah, artist ini sudah begitu menguasai teknik ini, bagaimana cara agar aku bisa mengikuti caranya untuk perbaikan karya-karyaku berikutnya?”, dan seterusnya.

Komparasi, membanding-bandingkan, dan ‘melihat rumput tetangga yang lebih hijau’ tidaklah salah. Tetapi, bagaimana bisa tetap sadar bahwa apa yang sudah kita terima dan miliki, sesungguhnya merupakan suatu kebaikan Tuhan dan bekal untuk kita berkembang menjadi lebih baik. Dan mampu menyerap, belajar, dan memperbaiki diri setelah melihat orang-orang hebat di luar sana. Bukannya malah menjadi minder, malas berbuat sesuatu, pasrah, menyerah sebelum berperang, tidak bersyukur dan memupuk iri hati.

Selamat menyerap inspirasi dari segala hal, dan menggunakannya untuk membawa diri menuju level yang lebih tinggi! Thanks for visiting, friends!

ilustrasi komparasi

Gundala, Putra Petir, superhero asli Indonesia. Tidak kalah keren dari jagoan Marvel atau DC Comic!

Harus diakui, saya bukanlah kolektor atau pembaca setia komik superhero, entah itu Marvel, DC Comic, atau karya komikus Indonesia. Saya dulu malah lebih banyak membaca komik macam Doraemon, Detektif Conan, Detektif Kindaichi, dan tentu, Dragon Ball.

Tapi, belakangan ini, “serangan” bertubi-tubi tokoh superhero asal Amerika, datang silih berganti di layar bioskop kita, baik itu dari Marvel maupun DC. Semuanya begitu keren, begitu luar biasa, baik ceritanya maupun desain karakternya. Mereka berlomba-lomba merebut hati pasar Indonesia yang memang sudah pasti menggilai tiap karya mereka. Begitu pun saya. (Meski sejak ada baby, belum banyak lagi update film-film tersebut).

Sampai akhirnya, di bulan ini, rasa haus dan dahaga pecinta superhero akan dipuaskan dengan kehadiran sosok legendaris asli Indonesia. Dialah superhero lokal, Wiro Sableng, 212 warrior. Sebuah jawaban atas kerinduan masyarakat Indonesia untuk menyaksikan tayangan superhero lokal yang digarap dengan kualitas tinggi dan tidak kalah dari karya Hollywood. Must watch!

Tarik mundur jauh ke belakang. Ada satu sosok pahlawan asli Indonesia, yang diciptakan oleh almarhum Harya Suryaminata atau dikenal dengan nama Hasmi, yaitu Gundala Putra Petir (1969). Gundala diciptakan Hasmi menyusul populernya cerita pahlawan super di dunia komik pada tahun 1960-an. Ide kekuatan Gundala yang berupa petir menurut Hasmi didapat dari tokoh legenda Jawa Ki Ageng Sela yang diceritakan bisa menangkap petir. Sementara bentuk fisik Gundala sendiri mendapat inspirasi dari bentuk karakter The Flash ciptaan Gardner Fox dari DC Comics. (sumber: Wikipedia).

20161106184347_137

Berawal dari dirilisnya buku the Art of Wiro Sableng, 212 warrior, karya studio ilustrasi ternama Indonesia, Caravan studio, dimana ditampilkan berbagai konsep, sketsa, dan ilustrasi berkualitas dunia, dari proses pembuatan Wiro Sableng, dari awal hingga produksi. Yang semuanya dikerjakan oleh pemuda-pemudi asli Indonesia. Saya pun terinspirasi untuk “mencoba” bereksperimen dengan me-remake tokoh Gundala.

Saya mengandai-andaikan jikalau Gundala dibuatkan versi movienya, kurang lebih, seperti inilah tampilan yang bisa saya berikan (meski masih banyak kekurangan disana sini). Saya banyak mengacu pada konsep karakter dari Marvel Cinematic Universe (MCU), yang didesain oleh Andy Park (website) dan Ryan Meinerding (website). Dua artist milik studio Marvel yang karyanya sudah mendunia.

gundala_redesign_1

Saya iseng-iseng menggunakan wajah Iko Uwais sebagai model dan pemeran tokoh Gundala. Hm, apakah Gundala jadinya akan bertarung pencak silat juga? Kenapa tidak?

Yup, masih akan banyak belajar dari jago-jago gambar dari berbagai penjuru dunia. Tapi, satu yang pasti, Indonesia sudah dan sedang berjalan di track yang benar dalam meningkatkan industri kreatifnya. Memang, kita masih jauh ketinggalan dari Amerika dan Jepang. Tapi, lebih baik berusaha daripada menyerah sebelum bertanding bukan?

Terimakasih sudah membaca!

gundala_redesign_head

Awesome inspiring site for every digital artist!

Saya memang sudah mengetahui site keren ini http://www.conceptroot.com.. tapi saya mau membagi nya dengan teman-teman yang sedang terus mau belajar dan mencari inspirasi di dunia digital art sama seperti saya 🙂

Jadi, bisa lihat link ini dan nikmati tiap karya sambil mencari tahu bagaimana cara membuatnya.

Kalau saya, saya selalu coba mempelajari hal-hal berikut tiap kali mengunjungi site ini :

  • apa pesan atau ide yang ingin disampaikan. Gambar pemandangan apa yang disampaikan? “Wah, ini ruang penyimpanan senjata yang keren!”, atau “o, ternyata si desainer merancang suatu kawasan hutan yang futuristik”, dan lain sebagainya. Nikmati apa yang bisa dipelajari dari tiap karya.
  • bagaimana si pelukis digital ini menggambar dengan teknik perspektif, pelajari bagaimana ia menentukan titik hilang, sudut pandang, sudut pengambilan gambar, dan lainnya.
  • bagaimana si pelukis digital tersebut menentukan arah / sumber cahaya, apakah dari cahaya matahari, cahaya lampu neon, bagaimana ia bisa menghadirkan atmosfer seram, gelap, remang-remang, atau suasana lainnya.
  • bagaimana cara ia mewarnai? Pelajari bagaimana ia bisa mewarnai sedemikian keren, sedemikian realistis. Apa yang membuat karya tersebut bisa begitu indah? Apakah ada teknik tertentu, penentuan bayangan, efektifitas gelap terang, dan elemen lainnya.
  • bagaimana cara pelukis digital itu menentukan ornamen, objek, atau pelengkap di karyanya tersebut? Apakah desain robot, desain bangunan, desain mesin, pelajari semua itu, amati, nikmati, dan pasti ada hal yang bisa dipelajari.
  • dan masih banyak alasan lainnya mengapa kita perlu untuk terus belajar dan tidak sekadar terpukau melihat suatu karya.

Selamat mengunjungi situs ini dan menikmati dan mempelajari semua hal yang bisa dipelajari dari tiap karya spektakular tersebut 😀

The Moment of Inspiration

Sejujurnya, bukanlah hal yang lazim bagi saya untuk menulis sebuah artikel seperti ini pada waktu jam di dinding kamar saya sudah menunjukkan lebih dari 01.18 waktu dini hari.

Jumat. Menjadi hari yang sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang terlalu fantastis memang di hari ini. Oksigen masih gratis, Bandung yang tetap ramai seperti hari-hari biasanya, jumlah kendaraan yang masuk dari tol padalarang tampak tak pernah berkurang, atau hal ‘lazim’ lainnya yang memang mengisi hari Jumat, 29 Mei 2009 itu. Kalau boleh dicermati, tidak ada yang terlalu ‘wah’ untuk dijadikan sebuah inspirasi untuk menulis artikel sederhana ini. Tapi itu yang saya pikirkan, itu yang ada di benak saya. Ternyata, Tuhan berpikir lain. Jumat, menjadi hari yang “unik” bagi-Nya untuk saya.

Momen penuh inspirasi. Ya, saya baru saja menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hari Jumat itu. Sebuah hari yang diwarnai berbagai hal yang memberi inspirasi bagi saya pribadi.

Lewat 3 tayangan di televisi, momen penuh inspirasi dan pelajaran itu mengunjungi alam pikir saya yang terbatas ini.

DUNIA KITA. Sebuah tayangan yang sangat membantu saya mengerti betapa luasnya bumi ini dan betapa dangkalnya diri saya ini. Merupakan tayangan yang amat memberi inspirasi bagi saya pribadi. Cukup 1 episode bagi saya untuk menyimpulkan kalau saya akan belajar banyak hal dari tiap tayangan ini di tiap minggunya. Dan saya bisa pastikan, saya tidak akan merasa rugi menghabiskan waktu 30 menit di depan tv (bahkan tanpa ditemani pop corn sekalipun!). Membukakan mata saya, bahwa, hidup ini memang bukan tentang membesarkan diri sendiri. Oh, kalau boleh jujur, tujuan membesarkan diri sendiri sebaiknya sudah mulai dikurangi pengejarannya. Karena, ternyata, ada tujuan hidup yang jauh lebih bermakna. Yaitu, memberi suatu ‘dampak’ pada suatu generasi di mana kita hidup. Menolong orang-orang, melayani kaum terbelakang, menyediakan diri menjadi pribadi yang hidupnya mengubahkan. (Masukkan nama saya di urutan paling pertama sebagai orang yang masih perlu banyak belajar untuk hal ini!).

*Metro tv, tiap jumat pukul 10.00 dan siaran ulang sabtu, 00.30.

Tayangan berikutnya, sebenarnya bukanlah tayangan berbau edukasi layaknya DUNIA KITA, tetapi malah sebuah film layar lebar yang ditayangkan di HBO (Home Box Office) milik Indovision. The Mist judul filmnya. Inti film ini adalah, telah terjadi suatu fenomena alam yang aneh berupa kabut tebal yang menutupi kota kecil di Amerika. Dimana ternyata, di dalam pekatnya kabut itu, telah siap sejumlah makhluk (bisa kita katakan monster menyerupai serangga, yang haus darah! – bukan hal yang aneh untuk kita dengar bukan sebagai pecinta film seperti ini? – ). Maka, supermarket dipilih menjadi shelter bagi mereka yang ingin tetap hidup. Mereka berlindung untuk waktu yang lama. Singkat cerita, 5 dari mereka, memutuskan untuk mengambil resiko keluar dari ‘zona aman’ mereka, yaitu supermarket untuk menuju kota lain, dengan harapan, kabut tidak menguasai kota tersebut. Mereka berpikir, jika tetap di dalam supermarket, cepat atau lambat, monster-monster itu akan menerobos masuk dan akhirnya kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada mereka. Dengan sebuah land-cruiser, mereka berlima memutuskan untuk berjalan menerobos pekatnya kabut sepanjang jalan.

Selang beberapa jam kemudian, hal yang mereka takutipun terjadi. Bukan monster yang menyerang, bukan seorang yang terjangkit virus, tetapi hanya karena bensin kendaraan yang habis, masalah sesungguhnyapun dimulai.

Bensin habis. Mereka terdampar di tengah kabut. Tak ada bahan makanan. Keheningan terjadi. Tetap di mobil tidak akan banyak membantu. Keluar dari mobil merupakan ending yang dapat diprediksi akhirnya (ya, monster-monster yang belum cukup kenyang itu sudah menanti dengan setianya). Maka hal yang sangat tidak saya prediksipun terjadi (saya sendiri tidak percaya mengapa ada sutradara yang berani ‘ekstrim’ membuat jalan cerita film ini!). Jadi, mereka berlima memutuskan untuk lebih baik mengakhiri hidup mereka di mobil, ketimbang mati dicabik-cabik makhluk-makhluk itu di luar mobil.

Sang tokoh utama, yang adalah seorang ayah dari seorang bocah (yang juga termasuk dalam 5 orang di mobil tersebut) memiliki sebuah pistol dengan 4 peluru. Ya. 5 orang dengan 4 peluru. Demi maksud menghindari penderitaan akibat mati disiksa hewan-hewan lapar itu. Si tokoh utama memutuskan untuk menggunakan 4 peluru itu menghabisi 4 orang lainnya (yang salah satunya -maaf- anaknya sendiri!). Dengan maksud biar dirinya yang akan mati lebih lambat karena memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan keluar dari pertahanan utama, mobil (tentu setelah menghabisi keempat orang lainnya di dalam mobil).

Ternyata, setelah ia membunuh mereka berempat, hal tak terduga terjadi. Ia yang sudah begitu desperate dan tidak sabar ingin mati akibat sudah tidak melihat ada gunanya lagi untuk hidup (karena baru saja menghabisi putra tercintanya dengan tangan sendiri), dan ditambah kemungkinan tiba di kota yang bersih dari kabut sangat tipis, dikarenakan bensin mobilnya tidak lagi mencukupi, maka ia sudah memilih bunuh diri dengan keluar dari mobil. Tapi apa yang ia dapati setelah keluar dari mobilnya?

Bukan kematian yang ia temukan. Tetapi, bala tentara datang menyelamatkan. Kehidupan yang malah ia peroleh. Kabut sedikit demi sedikit hilang. Tentara AS datang dengan segudang persenjataan lengkap berusaha menolong tiap warga yang masih hidup.

Itu terjadi hanya 10 menit dari pembunuhan yang baru saja ia lakukan terhadap 4 orang lainnya (yang salah satunya adalah putranya). Ya. Tidak terlalu lama. Bahkan sebenarnya cukup masuk akal seandainya ia menunggu bersama teman-temannya sekitar 15 menit lagi, mungkin tidak ada yang perlu mati di antara mereka.

Tentu Anda bisa membayangkan perasaan sang tokoh utama. Titik terendah kehidupan seseorang dialami pria paruh baya ini. Penyesalan. Hancur luluh lantah di titik terendah yang mungkin pernah ada dalam diri manusia dialami pria ini. Baru saja ia membunuh anaknya yang tak bersalah demi bermaksud baik mencegah si anak yang menderita, tetapi malah ia sendiri ‘terpaksa’ hidup dengan penyesalan amat mendalam akibat keputusannya.

Pelajaran yang saya peroleh adalah : tidak ada ruginya kalau kita belajar bersabar untuk beberapa saat. Mengambil waktu tenang sejenak sebelum memutuskan sesuatu hal (apalagi keputusan hidup dan mati seperti itu!). Menyediakan suatu waktu khusus untuk diri kita sendiri demi menjernihkan pikiran lebih baik, sebelum akhirnya memutuskan “A” atau “B”.

(Untungnya film ini bukan berdasar kisah nyata!)

Akhirnya, lewat tayangan film asia berjudul LOVE IN ELSEWHERE, petualangan hari penuh pelajaran dan inspirasi ini berakhir. Sebuah film drama yang menarik. Menghibur. Dan menginspirasi (Pada kesempatan kali ini saya cuma mau mengatakan, saya tidak sering menonton tayangan drama seperti ini). Yang membangkitkan inspirasi saya bukanlah jalan ceritanya, karakternya, atau konflik batin yang terjadi, tetapi adalah suatu konsep yang ada dalam cerita. Konsep tempat kerja pasangan utama cerita. Sung dan Ching, adalah sepasang kekasih muda yang memiliki impian untuk kuliah di luar negeri bersama, dari hasil usaha mereka yaitu menjalankan sebuah cafe konseling.

Cafe konseling…

Inilah momen inspirasi itu.

Tunggu dulu! Jangan terburu-buru berpikir saya adalah seorang yang mencintai bisnis seperti ini!

Yang mau saya katakan adalah, ini adalah konsep yang amat menarik untuk diperhatikan. Tidak tahu dengan teman-teman pembaca, tapi bagi saya, ini adalah kali pertama saya mendengar ada perpaduan unik seperti ini, konsep tempat bernama counseling cafe. Nice. Unique. Looks original.

Sayapun bukan berarti sesudah menyaksikan tayangan drama ini buru-buru memecahkan celengan saya untuk membeli suatu lahan kosong di suatu daerah strategis demi membangun tempat serupa! (Walau sejujurnya, memiliki studio art pribadi memang masih menjadi impian saya).

Inspirasi yang bisa dipetik adalah : saat dua orang yang memiliki visi yang sama (atau passion) yang sama dalam mengejar sesuatu, segalanya jadi jauh lebih mudah dibandingkan yang berbeda keinginannya. Ditambah sedikit kreativitas, yaitu berupa penemuan bakat-bakat mereka (dalam hal ini bakat dalam berbisnis -kafe- dan juga menjadi pendengar yang baik -konseling-), dipadukan, disatukan, dan direalisasikan, maka hadirlah : konsep counseling cafe di tengah-tengah kota yang sibuk setiap harinya. Hmm. Sangat menarik.

Ya. Itulah hari Jumat saya yang baru saja dilewati. Menuliskannya ke dalam sebuah blog tidak akan pernah merugikan. Malah ini adalah bentuk apresiasi dan ungkapan syukur saya pada Tuhan atas tiap pelajaran, inspirasi, dan ide baru yang boleh Ia berikan.

Semoga teman-teman pembaca juga semakin bergairah untuk berjuang mengejar momen-momen inspirasi dalam hidup ini! Kadang inspirasi tidak selalu datang dari sumber-sumber yang mewah, tetapi kadang lewat hal-hal kecilpun, inspirasi bisa menghampiri kita.