Ide-ide untuk tetap Produktif meski Internet ‘down’

7Agustus19

Beberapa hari terakhir, internet kantor tengah ‘down’ alias tidak bisa berfungsi. Maka, tiap orang di kantor harus mencari cara agar meski offline, mereka tetap bisa berkarya, produktif dan tidak sepenuhnya tergantung dengan internet.

Saya pun menemukan beberapa cara untuk menghadapi situasi ini. Semoga bisa berguna! (oia, tips ini cocok untuk pekerja seni di bidang animasi, ilustrasi, dan sejenisnya. Tapi mungkin juga diterapkan dalam bidang pekerjaan lain).

  1. Tidak ada salahnya membuka pekerjaan-pekerjaan lama. Buka folder pekerjaan yang sudah lewat (proyek sebelumnya/ tak terpakai), bisa berupa foto, referensi, moodboard, dan bahkan desain yang tidak terpakai. Lalu lakukan redesign, repainting, color exercise, sketch, dan lainnya. Inspirasi juga bisa muncul dari ide-ide di pekerjaan sebelumnya.
  2. Ambil notebook. Saya sangat suka menulis. Maka, dengan notebook, saya dapat menuangkan ide-ide dan apa yang saya pikirkan mengenai peluang-peluang baru dalam berkreasi. Siapa tahu berguna untuk next personal project.
  3. Ambil sketchbook. Berusaha mengisi sketchbook (fisik) adalah sesuatu yang tengah saya perjuangkan. Meski alat-alat mutakhir seperti Wacom Cintiq pen tablet memang mempermudah flow kerja saya, tetapi, disiplin berlatih sketsa tradisional adalah suatu hal positif yang baik untuk dilakukan.
  4. Baca buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Kebanyakan kantor-kantor sudah dilengkapi dengan perpustakaan. Begitu juga kantor yang bergerak di industri kreatif. Buku-buku kaya inspirasi yang saya suka pelajari, seperti the art of dan buku mengenai mendesain Disney (baik animasi, maupun theme park). Saya hanya perlu niat dan komitmen untuk memulainya dan akan terkejut dengan betapa banyak hal baru yang bisa didapat!
  5. Rapihkan meja kerja. Merapihkan meja kerja selagi offline juga merupakan hal produktif. Dengan meja yang rapih, maka pekerjaan akan dikerjakan dengan lebih efektif dan menyenangkan.
  6. Diskusi, brainstorm, kolaborasi. Saat sedang offline, adalah saat yang baik untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan rekan kantor yang juga sedang stand-by. Entah membicarakan ide-ide baru, update industri kreatif, atau sekadar tukar ilmu. Bukan tidak mungkin, akan muncul inspirasi dalam berkreasi dari obrolan-obrolan spontan.
Advertisements

Speedpainting Stuff!

Sedikit update untuk speedpainting exercise saya di sela-sela pekerjaan studio.

Durasi: 30 menit – 1 jam untuk tiap sketsa.

Tools: Photoshop CS6, Wacom Cintiq

23Juli19_confrontation23Juli19_GoroVSJohnnyCage23Juli19_hideandseek23Juli19_interogation24Juli19_drawing1

The Last of Us

Mari bicara mengenai videogame.

Satu topik yang jarang saya bahas, tapi kalau boleh jujur, video game merupakan alasan utama mengapa sejak semula saya akhirnya terjun ke dunia ini. Dunia kreatif. Dunia desain dan digital art. Dunia kaya imajinasi.

Dua puluh tahun lalu, sejak saya mulai bermain video game di berbagai konsol, entah itu Atari, Nintendo, Sega-Mega Drive, Dreamcast, XBOX, sampai Playstation 1, 2, 3, saya mendapati diri sebagai gamer tulen. Ya, saya pemain video game fanatik!

Singkat cerita, saya menemukan keseruan lain selain menjadi player (hanya sebagai pemain saja), yaitu bagaimana jika menempatkan diri sebagai creator atau game developer (pembuat game). Itulah awal bagaimana saya ingin masuk ke kampus saya dulu di Bandung. Meski gagal di pilihan pertama (DKV) dan malah masuk di Desain Interior.

Tapi, passion itu tetap ada. Saya ingin menjadi concept artist yang mampu membangun sebuah dunia imajinasi di sebuah video game, atau di industri lain yang sejenis.

Puluhan judul game sudah saya mainkan, dan tuntaskan. Sampai pada Juni 2013, muncullah game berjudul The Last of Us (TLOU) di Playstation 3. Karya studio Naughty Dog (kreator Jak & Daxter, Uncharted series, dll).

Sebuah game yang sungguh mengguncang dunia.

TLOU_BANNER

Mengubah mindset dan pemikiran bahwa game ‘hanya mainan’ dan tidak lebih dari itu. Justru, dari game TLOU inilah, menjadi titik balik krusial dalam industri video game dunia, khususnya bagi para pembuat game, bukan hanya sibuk menampilkan grafik indah dan gameplay menyenangkan saja.

Tapi, elemen kunci yaitu story mulai mendapat tempat maha tinggi di dunia video game. Bahkan story, kini, lebih utama ketimbang tampilan graphic indah dan detil pada sebuah game.

Menurut saya pribadi, TLOU menjadi juara, alasan utamanya adalah storydiikuti elemen lain yang juga memukau yaitu desain, gameplay, graphic, dan music. Silahkan buka link berikut untuk membaca lebih lengkap (LINK).

Pesan yang paling menyentuh bagi saya adalah bagaimana hubungan bapak dan anak perempuan (padahal semula orang asing satu dengan yang lain) dibangun dan makin kuat sepanjang petualangan mereka mencoba bertahan hidup di era post-apocalypse. Hingga akhirnya…. (Spoiler). Lebih baik, Anda membuka sendiri link diatas.

The Last of Us segera mendapat tempat di hati saya. Saya bahkan sampai menamatkannya 3x dan 1x masih on going (meski sudah berkeluarga, saya pernah begadang hanya untuk memainkannya, namanya juga gamer fanatik).

Kini, 2019, berita yang dinanti-nantikan seluruh penggemar TLOU itu masih misteri, yaitu kapan tanggal rilis dari bagian ke-2 cerita luar biasa TLOU ini.

Sebagai bentuk apresiasi, saya sempatkan membuat fanart dari Ellie, protagonis kisah ini.

Ellie_fanart

Foodie Art Challenge (Part 3) – Completed

Sebuah kerja keras amat dibutuhkan untuk menuntaskan sebuah art challenge sebulan penuh. Di tengah kesibukan, rutinitas, dan pekerjaan utama di sebuah perusahaan animasi, adalah sebuah keharusan bagi saya untuk tetap mempertajam diri, dengan sebuah personal project. 

Sejak awal, tujuan art challenge ini adalah agar saya tetap bisa bersenang-senang dan terus berkarya. Tidak stuck dengan pekerjaan rutin. Sehingga pikiran tetap segar, imajinasi terus dipertajam, dan kesempatan melatih konsistensi.

Akhirnya, perjalanan itu berakhir. Art Challenge di bulan Mei 2019 dengan tema ‘makanan’ ini pun tuntas. Mungkin bukan 31 karya yang masterpiece dan sempurna. Tetapi, saya lebih mengedepankan konsistensi, habit positif dalam berkarya, dan kemampuan berpikir kreatif sesuai tema yang ditentukan.

Terimakasih sudah mengikuti art journey saya selama ini.

 

Foodie Art Challenge (Part 2)

Meski semakin sulit mencari waktu belakangan ini untuk menggambar food art challenge kantor, akhirnya, saya tetap dapat menghasilkan beberapa update karya. Meski harus diakui, saya tidak sepenuhnya puas dengan beberapa diantaranya.

Tapi, hey! ini bukan tentang menciptakan masterpiece dan karya sempurna! Tapi terlebih penting: konsistensi, habit positif, belajar sambil berkarya, dan terus mengasah daya imajinasi. 

Finished. Period. Not perfect. Period.

Why still blogging in 2019?

Saya masih berusaha menjaga agar artblog ini tetap hidup dan aktif, meski di tahun-tahun belakangan ini, konten video dan podcast sudah kian gencar dan tampak lebih populer dibandingkan blog dan sejenisnya.

Alasan sederhana, adalah karena bagi saya, menulis, adalah suatu aktivitas yang sangat berguna dalam mendukung perkembangan pola pikir kreatif seseorang. Bisa berfungsi seperti sebuah terapi bagi seorang artist!

Dengan menulis (nge-blog), seperti menyeimbangkan diri saya, agar saya tetap memiliki perspektif lain yang fresh dalam menjalani kehidupan berkeluarga, karir, dan berkomunitas. Tidak melulu berkutat di zona nyaman – desain, gambar, sketsa, mewarna, dll.

Jadi, meski di luar sana, hiruk pikuk dengan konten video, visual gallery (Instagram), dan podcast, saya masih akan berkomitmen menjaga kelangsungan blog ini yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, agar tetap aktif dan hidup.

*Saya sendiri juga tengah belajar membuat konten video.

Link ke channel Youtube: klik disini.

Leaving a Legacy

Beberapa hari terakhir, saya sedang memikirkan secara terus-menerus satu kata berikut: “Legacy”.

Legacy bisa berarti sebuah peninggalan. Bukan sekadar berupa materi fisik. Tetapi, lebih dalam dari itu. Sebuah dampak, impact, kontribusi, atau hal berharga yang diberikan oleh seseorang kepada umat manusia, yang masih terus terasa efeknya, meskipun, orang tersebut telah tiada.

Apakah Anda pernah memikirkan tentang meninggalkan ‘legacy’ bagi orang-orang disekitar Anda? Bagi pasangan Anda? Anak Anda? Komunitas Anda? Bagi umat manusia? Apa yang kira-kira akan orang lain katakan mengenai Anda pada waktu upacara pemakaman Anda kelak?

Saya memikirkannya. Dan berharap agar meski baru sekarang memikirkannya, semua belum terlambat.

Tetapi memikirkannya berlama-lama, tidak akan membuat saya ‘telah’ meninggalkan legacy itu. Saya harus keluar dan mulai melakukannya! Membangunnya, menyiapkannya.

Membangun legacy bukan mengenai membesar-besarkan diri sendiri. Tetapi lebih kepada menyiapkan sebuah hal yang bernilai abadi bagi setiap manusia yang pernah kita jumpai semasa kita hidup. Yang semoga, peninggalan itu bermakna positif dan berkesan mendalam bagi mereka. Entah karena apa yang telah dilakukan berupa kebaikan, persahabatan, ilmu, teladan, pemberian, pengetahuan, atau talenta.

Bagi saya, membangun legacy tidaklah harus dimulai secara ambisius untuk menjangkau dunia. Saya bukanlah Mother Teresa, yang menyentuh hati jutaan manusia dengan kebaikan hatinya yang luar biasa atau Steve Jobs, yang meski telah meninggal, tetapi selalu dikagumi karya dan idenya. Saya bukanlah Elon Musk, seorang ilmuwan modern yang visioner yang siap membawa umat manusia menuju planet lain. Mereka hanya sebagian dari orang- orang luar biasa yang telah memberi impact dahsyat bagi umat manusia.

Saya hanya seorang pria, suami, bapak dari seorang anak perempuan mungil, bekerja sebagai ilustrator dan concept artist di daerah Tangerang Selatan, penggila ping pong, dan The Last of Us. Tapi, ijinkan saya merajut legacy ini, diawali dari kehidupan paling sederhana tiap harinya. Bukan hal besar. Bahkan cenderung tidaklah istimewa.

legacy

Tapi, saya percaya, tidak ada legacy yang besar, tanpa diawali kesetiaan melakukan hal-hal kecil, seperti mengasihi, mencintai, setia, bersyukur, mengampuni, memaafkan, mengaku kesalahan, belajar berbagi, mendengarkan, menolong, empati, belajar dari kegagalan, dan selalu bangkit, tidak menyerah.

Selamat membangun dan meninggalkan legacy, rekan-rekan pembaca!