Indonesia: Not perfect. But it’s still awesome!

Sudah sejak lama saya menantikan ingin mengembangkan sendiri personal project untuk meningkatkan kemampuan dalam storytelling dan menggambar saya (khususnya, digital painting dan ilustrasi). Akhirnya, karya ini pun lahir: “Greet One Another” (menyapa satu dengan yang lainnya). Terinpsirasi dari kekayaan Indonesia, baik dari keramahan orang-orangnya, hingga keragaman profesi dan sosial-budayanya. Karya ini menjadi awal dari serial ilustrasi lainnya yang ingin saya kerjakan di sela-sela pekerjaan kantor saya. Semua bertemakan: Indonesia. Mengapa? Karena saya percaya, meski Indonesia tidak sempurna, tetapi tetap menakjubkan!

Sedikit proses pembuatan ilustrasi “Greet One Another.” Selamat menikmati.

ilustrasi_0_sketchilustrasi_1_sketch

ilustrasi_2_sketchilustrasi_3_sketchilustrasi_1

Advertisements

Pray For Indonesia

Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk terlibat dalam upaya membantu meringankan kesulitan rekan-rekan kita di Indonesia, khususnya para korban Mentawai dan Merapi baru-baru ini. Tak banyak memang yang saya lakukan, tapi saya menikmati proses di dalamnya. Bersama Tuhan yang membantu saya melalui rekan saya Madan dan Kak Rika, kami menyusun papan informasi tentang bencana sebagai bagian dari kotak sumbangan yang akan diedarkan. Berikut foto-foto selama proses pembuatan.

Yang terpenting, kami pun menikmati proses ini, karena kami tahu ini adalah buat saudara-saudara kita.

Jadi satu!

Jadi 3! Bersiap ditaruh di pameran Indonesian Trade and Tourism 2010!

Kampanye Para Calon Wakil Rakyat

Tepatnya kemarin saya menyaksikan di tayangan berita, tanggal 30 Maret 2009, sebuah kejadian amat memprihatinkan bagi saya maupun bangsa Indonesia. Saya tidak mengira, betapa ‘luar biasa’nya tingkah para calon wakil rakyat itu. Saya tidak pada posisi untuk menghakimi mereka, sayapun tidak lebih baik, saya juga bukan merupakan ahli politik, ataupun pengamat politik yang handal. Tapi, disini, saya berperan sebagai salah satu warga negara yang hanya mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap fakta yang terjadi di dunia perpolitikan di Indonesia.

Inilah beberapa ‘tingkah’ para caleg juga beberapa parpol yang sangat mengejutkan saya pribadi : 

REBUT-REBUTAN MIC :

Pelakunya adalah sesama caleg di satu partai, misal antara yang nomor urut 1 dan 3. Mereka bersaing ingin lebih awal dalam melakukan orasi di hadapan pendukungnya. Waw.. luar biasa bukan! Dalam satu partai saja bisa seperti ini, apalagi yang berbeda partai! Luar biasa!

(saya pribadi jadi berpikir.. kalau saya saat itu hadir di sana, dan saya adalah seorang pendukung yang ingin dengan cermat memilih caleg, tapi sebelum mencontreng saat pemilu nanti, saya ingin mengetahui kualitas mereka. Tapi kalau ini yang saya saksikan saat itu, saya tentu akan berpikir 2 kali untuk bahkan sekadar mempertimbangkan partai ini dan kualitas-kualitas manusia di dalamnya! Karena bukannya menunjukkan teladan di hadapan rakyat, malah memberi contoh ‘lain’ yang sebenarnya hanya menunjukkan karakterk ASLI mereka!).

TARIAN EROTIS MENGHIASI ACARA KAMPANYE :

Acara-acara kampanye, nyaris tidak bisa lepas dari adanya hiburan di atas panggung. Ini bukanlah hal yang salah, bahkan baik dilakukan, karena selain mendengar orasi caleg suatu partai, pengunjung yang adalah pendukung partai tertentu juga bisa menikmati hiburan.

Tapi segala sesuatunya menjadi mulai ‘melenceng’ saat acara musik yang disajikan, selain menampilkan para pemain musik dengan lagu yang enak didengar, juga menampilkan para penari – yang bisa dikatakan kurang tepat ditampilkan di hadapan masyarakat -, karena tarian mereka yang seperti tidak dipertimbangkan terlebih dahulu. Erotis. Terlalu erotis. Masalah kian menjadi besar, karena mereka menari bukan hanya di hadapan para pengunjung (yang kebanyakan pria), tapi juga ANAK-ANAK!!!

Bahkan, di sebuah tayangan singkat yang saya lihat di televisi kemarin, 3 penari itu memberi kesempatan pada para pengunjung untuk menari bersama di atas panggung. Dan sayangnya, gaya yang para pria itu (relawan yang naik ke atas panggung) tampilkan, kian mempertegas kesan ‘vulgar’ saat itu. Jangan pernah hanya menyalahkan anak-anak kita saja kalau begini caranya, jika di usia muda mereka, mereka begitu telah terikat dengan hal-hal berbau pornografi, karena jelas, bahkan di sebuah event nasional para teladan rakyat saja, mereka melihat sesuatu contoh yang tidak menolong mereka memiliki karakter dan sikap menjaga kekudusan.

GARA-GARA BERGESEKAN SAAT DANGDUT, RUSUH TERJADI :

Ini juga tidak kalah memprihatinkan. Sayangnya pelakunya adalah (lagi-lagi) sesama caleg di suatu partai.
Sambil menikmati musik dangdut, merekapun terbawa suasana untuk joged bareng, sayangnya, mungkin karena terlalu padatnya orang saat itu terjadi pergesekan. Dan yang terlibat adalah sesama caleg. Dan apa respon mereka? Saling tersinggung, lalu konflik pun terjadi.

Luar biasa!

Sungguh tidak dapat dipercaya!

Bagaimana mungkin?

 

Contoh-contoh di atas, adalah sebagian kecil hal-hal yang terjadi di dunia perpolitikan negara kita. Langkah sederhana yang bisa saya lakukan adalah mendoakan mereka. Agar mereka diingatkan Tuhan, bahwa yang terpenting saat ini bukan mengenai ego masing-masing, gengsi pribadi, dan tujuan serta maksud tersembunyi tiap individu, tetapi lebih penting adalah bagaimana bukan dengan omongan mereka menjadi pemimpin yang baik dan dapat diteladani, tetapi terutama dari AKSI dan PERBUATAN nyata mereka di lapangan. Itu yang terpenting!

Mari, kita bersama mulai tekun membawa pemilu negara ini ke hadapan Tuhan. Prosesnya, para pelaku di dalamnya, hingga hasil akhir nantinya. Agar, Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti benar, bahwa kepercayaan yang diberikan padanya adalah dari Tuhan (melalui rakyat), sehingga dalam menjalankannya tidak bisa secara sembrono. Tuhan mengasihi Indonesia!