Ping Pong

Pada tahun 2016 lalu, kantor tempat saya berkarya mulai menyediakan satu unit fasilitas olahraga, yaitu meja ping pong di salah satu ruangnya. Tujuan utama adalah untuk memfasilitasi para karyawan dengan hiburan sekaligus alat olahraga yang diharapkan dapat meningkatkan chemistry antar pegawai, menopang gaya hidup sehat dan produktivitas dalam bekerja.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hanya butuh 2.5 tahun untuk mengubah cara pandang saya akan olah raga ini. Olah raga yang semula hanya sekadar permainan untuk senang-senang atau sekadar isi waktu, kini, sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya!

Diawali dengan rutin bermain di jam istirahat siang, meski dengan kemampuan sangat pas-pasan, tanpa modal pemahaman dan teknik bermain yang memadai (funfact: olah raga favorit saya selalu sepak bola, sebelumnya tidak pernah tertarik dengan ping pong), dan dikelilingi teman-teman yang juga awam dan pemula dengan olah raga ini, maka, seiring waktu, ketertarikan mulai muncul terhadap ping pong.

ilustrasi ping pong

Dengan modal nekad dan otodidak (belajar sendiri, tanpa pendidikan/ latihan formal), maka, tahun 2019 ini, saya sudah semakin menikmati permainan ini – meski belum bisa dikatakan mahir. Ping pong sangat adiktif dan menyenangkan! Selain itu, dengan ping pong yang reguler, saya bisa membakar kalori, mempererat pertemanan di kantor dan menjaga hidup tetap sehat.

Ini juga salah satu cara saya agar tidak terpaku duduk di depan monitor sepanjang hari selama bekerja. Lagipula, untuk hidup yang lebih sehat, kita harus terus bergerak, bukan?

Ya. Ping pong bukan lagi sekadar permainan. Ia sudah menjadi pemberi warna, pengisi hari, penyemangat, pendorong untuk tetap mengejar hidup sehat. Saya bersyukur bisa menikmati olah raga ini bersama teman-teman saya.

Apa olah raga yang teman-teman biasa lakukan di waktu senggang?

Selamat mengejar hidup sehat dan seimbang!

 

 

 

Advertisements

Daily Spitpaint – Unfinished Puzzle

DailySpitpaint_25Des2018

Belakangan saya merasa perlu untuk kembali melatih ‘digital speedpainting’ saya. Dan Facebook group “daily spitpaint” menyediakan wadah ini. Peraturan yang dibuat cukup ketat dan menantang:

  • Menggambar harus dalam waktu yang telah ditentukan – 30 menit,
  • Memilih satu tema yang tersedia (ada 4 opsi),
  • Tidak diperbolehkan menggunakan foto tekstur dari manapun, termasuk Photo-sampled.
  • Tapi texture brushes, masih diijinkan.

Video timelapse proses pengerjaannya ada di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=WKNTrToyC44

Terimakasih sudah berkunjung! Tetap berkarya, tetap positif!

Dunia Sophie

Saya dan istri sepakat untuk berkolaborasi.

Dia gemar membaca novel. Saya gemar menggambar.

Tugasnya sederhana. Memenuhi keinginannya atas visual dan imajinasi dari novel yang ia baca, dan saya yang harus menerjemahkannya dalam wujud digital painting atau ilustrasi.

Dunia Sophie, karya Jostein Gaarder ini, memiliki kisah yang penuh dengan elemen filosofis, serta memainkan daya nalar dan psikologis para pembacanya. Saya sendiri bingung dibuatnya. Tapi, yang penting, istri saya menyukainya! Dan tugas saya adalah untuk menghadirkan sedikit visual dari Dunia Sophie ini. Enjoy!

DuniaSophie_ilustrasi_1_V2

Inktober 2018 Summary

Inktober 2018 menjadi sebuah kesempatan buat saya untuk mengejar konsistensi dan berlatih menggambar environment/ layout/ background. Sebuah tema yang menurut saya amat sulit, sehingga saya harus terus belajar dan mencoba pendekatan-pendekatan baru, baik manual drawing atau sketsa digital. Berikut hasilnya! Enjoy!

Look and feel illustration for Flower of Destiny the Musical

Saya merasa beruntung dan bersyukur bisa mendapat kepercayaan menjadi schenographer sekaligus set designer untuk karya teater musikal perdana tempat saya berkarya, PT. Puncak Keemasan Dunamis Indonesia yaitu Flower of Destiny the Musical yang baru saja pentas pada 7 September 2018 lalu di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Sebuah pengalaman berharga dan banyak kesempatan belajar selama prosesnya. Dengan tidak adanya pengalaman sama sekali di bidang musikal teater, dan juga show performance apapun, saya harus belajar dari semua sumber yang ada. Belajar dari bagaimana Disney mengatur visual shownya agar indah dan menarik, belajar dari Broadway bagaimana menata komposisi sebuah stage, dan seterusnya. Wow. Belajar dan belajar banyak hal baru. Such a fun journey!

Alhasil, selama 3 bulan di awal pembuatan set dan mood Flower of Destiny, saya coba menyediakan mood atau tampilan visual yang diharapkan saat pementasan nanti. Dan berikut adalah konsep visual yang kemudian diterjemahkan dengan sangat baik oleh tim stage dan lighting director. Meski terdapat sedikit perubahan di saat pementasan, misalnya di-take-out nya sejumlah props, tapi semua tetap dalam satu nuansa yang tidak jauh berbeda dari konsep awal. Sebuah kolaborasi yang mengasyikkan. Semua yang terlibat adalah talenta-talenta muda berbakat Indonesia. Sama-sama belajar hal baru demi tujuan yang sama: mengasilkan sebuah tontonan berkelas, indah dan memiliki pesan mendalam yang positif bagi seluruh penikmat seni teater dan musik di Indonesia.

Semoga pengalaman ini menjadi modal untuk terus berkembang dalam aspek desain dalam industri hiburan di Indonesia! Enjoy.

FodSinopsis cerita:

Selamat datang di Kerajaan Destindra!

Sang pewaris tunggal Destindra, Putri Aquilla, tumbuh dalam lingkup istana yang sarat berbagai aturan dan tata cara. Menjadi ratu pertama Destindra adalah suratan takdirnya. Kendati demikian, jiwa sang putri tidak dapat mengingkari hasratnya yang rindu akan kebebasan dan petualangan.

“Menjadi cahaya Destindra adalah suratan takdirmu… memimpin bangsamu ialah kehormatan di pundakmu…”, pesan ayahnya, Sang Raja Agung. Beliau mengajarkan Aquilla bahwa cahaya sejati yang bersinar dari dalam hati takkan pernah bisa dikalahkan kilau harta dunia. Kesempurnaan dan ketenangan hati Putri Aquilla terusik kala kekuatan dari kegelapan menyusup dan menggoncang seluruh Destindra, menghabisi setiap pancaran jiwa rakyat!

Akankah Sang Cahaya Destindra, Putri Aquilla, mampu mengalahkan kegelapan? Inikah akhir dari Destindra?

 

scene_1_ratu_melahirkanScene pertama. Saat sang Ratu menyerahkan putri yang baru dilahirkannya kepada sang Raja. Momen pembukaan yang mengharukan!

 

scene_2_raja_dan_aquillaScene kedua. Aquilla, sang putri Raja, sudah beranjak dewasa. Sang Raja memperkenalkannya pada bunga abadi. Makna mendalam akan arti keindahan sejati yang tidak diukur dari tampak luarnya, tapi dari dalam diri seseorang.

 

scene_3_funeralScene ketika Raja telah wafat di medan perang dan dimakamkan. Konsep semula adalah adanya penggunaan props peti di tengah panggung, tapi kemudian, mengalami perubahan.

 

scene_4_Aquilla melarikan diriMomen yang tidak mudah bagi Aquilla, yang baru saja ditinggal sang ayah, dan kini, mendapat banyak cibiran bernada pesimistis akan kepemimpinannya di Kerajaan Destindra. Ia pun memutuskan lari dari semua tekanan ini.

 

scene_7_Aquilla beradaptasiAquilla pun tiba di pusat perkotaan, di area pasar. Banyak hal baru yang ia temui, seperti suasana yang berbeda, lebih hidup, dinamis, berwarna, dan semarak. Tapi terutama karena keunikan dan kehangatan tiap warga Destindra yang ada.

 

scene_8_Belajar bertarungAdegan dimana Aquilla berjumpa Raka dan para orphans. Akibat kejadian di pasar yang kurang mengenakkan saat Aquilla digoda seorang pria mabuk, maka, Raka memutuskan mengajarinya ilmu bela diri.

 

scene_9_Romantisme_alt5Salah satu scene paling mengharukan dan penuh romantisme. Saat Raka dan Aquilla mulai tumbuh rasa saling menyukai satu sama lainnya. Tetapi, hanya sebatas angan-angan mereka saja.

 

IMG-20180906-WA0048Foto saat pementasan: Raka di atas atap panti asuhan, melamun, mulai jatuh hati pada Aquilla. Raka diperankan dengan sangat baik oleh William Wira.

 

scene_10_Aska mencari AquillaScene mencekam saat ditampilkan penjahat sebenarnya dari kisah ini, yaitu panglima tertinggi Kerajaan Destindra, yaitu Aska. Ia merencanakan sesuatu kejahatan untuk menguasai kerajaan dan membinasakan Aquilla.

 

IMG-20180906-WA0049Foto saat pementasan. Mood dan pencahayaan, dibuat sedekat mungkin dengan ide awal. Menambah kuat atmosfer antagonis dari karakter.

 

scene_11_Penduduk membatu_rev1
Scene ketika Aquilla mendapati para penduduk kota, termasuk anak-anak Orphans sudah menjadi batu akibat rencana biadab Aska yang menyebarkan batu bertuah ke seluruh penjuru kota.

 

scene_12_Final battle_rev1Aquilla dan Raka pun segera mendatangi istana yang telah dikuasai Aska. Pertarungan terakhir pun tak terhindarkan.

 

scene_13_EndingScene terakhir. Momen dramatis dimana cinta dan bunga abadi milik Aquilla yang mampu mengembalikan kondisi seperti sedia kala.

 

Jangan lupa untuk kunjungi dan follow Instagram @flowerofdestinythemusical, Akan banyak kejutan di depan! Semua demi kemajuan industri kreatif di Indonesia! Terimakasih sudah berkunjung!

Gundala, Putra Petir, superhero asli Indonesia. Tidak kalah keren dari jagoan Marvel atau DC Comic!

Harus diakui, saya bukanlah kolektor atau pembaca setia komik superhero, entah itu Marvel, DC Comic, atau karya komikus Indonesia. Saya dulu malah lebih banyak membaca komik macam Doraemon, Detektif Conan, Detektif Kindaichi, dan tentu, Dragon Ball.

Tapi, belakangan ini, “serangan” bertubi-tubi tokoh superhero asal Amerika, datang silih berganti di layar bioskop kita, baik itu dari Marvel maupun DC. Semuanya begitu keren, begitu luar biasa, baik ceritanya maupun desain karakternya. Mereka berlomba-lomba merebut hati pasar Indonesia yang memang sudah pasti menggilai tiap karya mereka. Begitu pun saya. (Meski sejak ada baby, belum banyak lagi update film-film tersebut).

Sampai akhirnya, di bulan ini, rasa haus dan dahaga pecinta superhero akan dipuaskan dengan kehadiran sosok legendaris asli Indonesia. Dialah superhero lokal, Wiro Sableng, 212 warrior. Sebuah jawaban atas kerinduan masyarakat Indonesia untuk menyaksikan tayangan superhero lokal yang digarap dengan kualitas tinggi dan tidak kalah dari karya Hollywood. Must watch!

Tarik mundur jauh ke belakang. Ada satu sosok pahlawan asli Indonesia, yang diciptakan oleh almarhum Harya Suryaminata atau dikenal dengan nama Hasmi, yaitu Gundala Putra Petir (1969). Gundala diciptakan Hasmi menyusul populernya cerita pahlawan super di dunia komik pada tahun 1960-an. Ide kekuatan Gundala yang berupa petir menurut Hasmi didapat dari tokoh legenda Jawa Ki Ageng Sela yang diceritakan bisa menangkap petir. Sementara bentuk fisik Gundala sendiri mendapat inspirasi dari bentuk karakter The Flash ciptaan Gardner Fox dari DC Comics. (sumber: Wikipedia).

20161106184347_137

Berawal dari dirilisnya buku the Art of Wiro Sableng, 212 warrior, karya studio ilustrasi ternama Indonesia, Caravan studio, dimana ditampilkan berbagai konsep, sketsa, dan ilustrasi berkualitas dunia, dari proses pembuatan Wiro Sableng, dari awal hingga produksi. Yang semuanya dikerjakan oleh pemuda-pemudi asli Indonesia. Saya pun terinspirasi untuk “mencoba” bereksperimen dengan me-remake tokoh Gundala.

Saya mengandai-andaikan jikalau Gundala dibuatkan versi movienya, kurang lebih, seperti inilah tampilan yang bisa saya berikan (meski masih banyak kekurangan disana sini). Saya banyak mengacu pada konsep karakter dari Marvel Cinematic Universe (MCU), yang didesain oleh Andy Park (website) dan Ryan Meinerding (website). Dua artist milik studio Marvel yang karyanya sudah mendunia.

gundala_redesign_1

Saya iseng-iseng menggunakan wajah Iko Uwais sebagai model dan pemeran tokoh Gundala. Hm, apakah Gundala jadinya akan bertarung pencak silat juga? Kenapa tidak?

Yup, masih akan banyak belajar dari jago-jago gambar dari berbagai penjuru dunia. Tapi, satu yang pasti, Indonesia sudah dan sedang berjalan di track yang benar dalam meningkatkan industri kreatifnya. Memang, kita masih jauh ketinggalan dari Amerika dan Jepang. Tapi, lebih baik berusaha daripada menyerah sebelum bertanding bukan?

Terimakasih sudah membaca!

gundala_redesign_head