Perenungan di Usia Baru

Tulisan ini menandai perjalanan baru saya yang kian ‘matang’. Resmi 33 tahun sudah saya hidup di bumi. Sudahkah saya memberi sumbangsih yang positif bagi sesama?

Saya menyadari, betapa cepat dan dinamisnya kehidupan itu. Seperti perumpamaan sebuah bola. Ada saat mencicipi kebahagiaan – ketika sedang di bagian atas bola; ada saat menjemput kedukaan – ketika sedang di dasar bola. Itu yang baru saja komunitas tempat saya tumbuh dan hidupi selama ini, alami.

Ada keluarga yang berduka ditinggal anggota keluarga terkasih, ada keluarga muda yang baru menyambut sang buah hati yang terkasih. Kedua peristiwa ini, terjadi hanya dalam rentang waktu 24 jam.

Ilustrasi_roda_kehidupan

Itulah hidup. Realita yang tidak bisa dihindari umat manusia. Kebahagiaan dan kedukaan bisa datang silih berganti. Begitu dinamis. Begitu real. Apakah manusia sehingga bisa (seolah) mereka-reka nafasnya? Bisa menata rapi jalur usianya? Semua ini hanya anugerah dan suatu hak istimewa dari Yang Maha Esa. Bagaimana mempertanggungjawabkan nafas hidup hari demi hari.

Semoga saya bisa mengisi kehidupan dengan hal bermakna. Sebagai manusia yang banyak kekurangan, yang ingin terus belajar dan memberi impact positif bagi sekitar.

Terimakasih Tuhan untuk usia baru ini.

 

 

Advertisements

Hidup adalah…

Apa pengertian hidup di mata seorang Tigor? Terdapat beberapa penjelasan untuk pertanyaan ini. Dan semua merupakan definisi yang muncul dari kesadaran akan kebenaran bahwa hidup adalah…

1. Anug’rah / grace => sebuah kesadaran yang tidak bisa dipungkiri, bahwa hidup ini semata-mata merupakan pemberian. Pemberian dari Tuhan. Sesederhana itu. Ya, baik sadar maupun tidak sadar, baik setuju maupun tidak setuju, hidup saya yang boleh saya jalani hingga memasuki usia ke 22 tahun ini adalah anug’rah dari Tuhan. Arti dari anug’rah sendiri adalah “sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk diberikan pada seseorang, namun tetap diberikan, bukan karena seseorang itu ‘layak’ menerimanya, tetapi karena si pemberi memandang layak untuk memberikannya.”

gods-grace2

Melihat bagaimana kehidupan masa lalu saya dahulu, semakin menambah alasan saya untuk terus mengajukan pertanyaan ini, “Mengapa saya? Mengapa saya yang Kau beri anug’rah ini?”. Tentu, pertanyaan ini saya ajukan pada sesosok yang telah membawa saya ke titik dimana saya berada sekarang dalam kehidupan saya. Tuhan. Pencipta Surga dan Bumi. Mengapa Dia mau ‘repot-repot’ mengurusi kehidupan saya? Sederhana. Karena Dia Pencipta saya, dan saya ciptaan-Nya. Dan Pencipta sangat mengasihi ciptaan-Nya, dan memiliki kerinduan supaya ciptaan-Nya itu juga mengasihi Dia yang menciptakannya.

Akhir-akhir ini semakin dan semakin dibuat mengerti bahwa segala sesuatunya adalah anug’rah. Menyadarkan saya bahwa tidak ada, ya, tidak ada satu hal pun yang patut saya banggakan, sombongkan, dan megahkan demikian rupa, seolah semua adalah hasil kerja keras saya. Karena, lagi-lagi semua sesungguhnya adalah pemberian Dia. Tiap keberhasilan, tiap kesuksesan, kelancaran, keadaan baik, dan bentuk raihan positif lainnya dalam hidup saya, adalah pemberian Dia. Tidak mudah untuk menyetujui kebenaran ini pada mulanya, tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata dengan memahami kebenaran ini dan menerimanya, semakin menambah semangat hidup saya, karena Sosok yang jauh lebih tinggi dan kokoh (bahkan kekal), yang memegang kehidupan saya, bukan saya sendiri, karena saya adalah sosok yang rapuh dan amat rentan.

Diberikan keadaan fisik yang demikian rupa, lahir di sebuah keluarga dengan latar belakang tertentu, dikaruniakan talenta A dan B, diijinkan mengenal orang-orang luar biasa dalam hidup, dapat menempuh studi sampai jenjang perguruan tinggi, dan menjalin hubungan yang baik dengan seseorang. Ya, semua adalah pemberian Tuhan. Semua adalah anug’rah Tuhan.

            “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” (Yoh 3:27)

Dengan kebenaran firman Tuhan itulah, saya semakin sadar, tidak ada yang perlu saya sombongkan begitu rupa dalam hidup ini. All is because His grace, His amazing grace.

Bisa diberi kesempatan menikmati persahabatan dengan seseorang, lewat interaksi-interaksi yang boleh terjadi, percakapan, obrolan ringan, bahkan sedikit lelucon di dalamnya, membukakan terus mata saya akan kebenaran ini : “Tuhan sudah sangat baik, bahkan terlalu baik dalam hidup saya. Siapa saya sehingga Ia mengaruniakan kesempatan bisa mengenal orang istimewa ini sampai sejauh ini?”. Tuhan sudah terlalu baik bagi saya.

2. Memberi / giving=> hidup juga berbicara banyak tentang memberi. Pengertian kedua dari hidup menurut saya. Diperkuat dengan pernyataan Rick Warren (penulis buku “the Purpose Driven Life“), bahwa hidup adalah memberi. Saya pribadi amat setuju dengan pernyataan ini. Bahkan sesungguhnya, hidup yang benar-benar dikatakan hidup adalah saat kita belajar memberi lebih banyak, dan bukan mengambil lebih banyak.

Butuh contoh dari bentuk hidup yang dikatakan ‘hidup adalah memberi’? Bahkan inilah contoh terbesar yang pernah ada dalam sejarah hidup umat manusia. Tuhan saya. Tuhan yang saya imani, Yesus. Dia adalah contoh yang saya bicarakan di sini. Yesus, Sang Teladan Hidup adalah Memberi.the_teacher__complete_version_by_aramismarron

Apa yang Ia beri? Hidup-Nya. Butuh penjelasan lebih mendalam? Ya, Dia memberi hidup-Nya. Bagi siapa? Bagi seluruh umat manusia. Apakah kita layak menerima pengorbanan-Nya yang merupakan jembatan kita bisa datang ‘lagi’ kepada Tuhan setelah dosa yang kita perbuat? Sesungguhnya tidak pernah layak. Kebenaran ini membawa kita lagi pada pengertian yang telah dibahas sebelumnya. Segala sesuatu adalah anug’rah Tuhan.

              “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)

Tidak ada cara lain untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna daripada kehidupan yang memberi. Memberi, saya pribadi percaya, tidak hanya berbicara tentang memberi nyawa saja. Itu benar. Tetapi juga berbicara tentang memberi dalam bentuk lain. Dan memberi tidak bisa dilepaskan dari apa yang dikenal dengan kasih.

Salah satu pengertian tentang kasih yang paling saya sukai adalah :

Kasih sejati bukan tentang mengambil sebanyak-banyaknya dari orang lain untuk keuntungan kita, tetapi kasih sejati adalah tentang memberi yang terbaik bagi orang lain, dan untuk keuntungan orang tersebut.

Roma 15:2 dengan jelas menyatakan kebenaran ini,”Setiap orang di antara kita HARUS mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya“. Sekali lagi, siapa yang bisa kita jadikan teladan dalam hal ini? Kristus.

        “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri…” (Roma 15:3a). Ya, teladan kita satu-satunya, Tuhan Yesus sendiri. 

3. Bukan mengenai “aku”, tetapi mengenai “Dia”=> Pengertian terakhir dari hidup menurut saya. Adalah hidup ini bukan tentang saya, dan segala hal menyangkut kesenangan saya, ambisi terbesar saya, kehendak saya, rencana-rencana maha matang saya, atau kesukaan terbesar dalam hidup saya. Tetapi, hidup ini adalah tentang Dia.

       “…segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16, kalimat terakhir). Perhatikan kata ‘untuk Dia’ pada kalimat tersebut.

Apakah sedikitpun ada menyebut tentang ‘untuk manusia’? Tidak. Sama sekali tidak.

Segala sesuatu adalah untuk Dia. Untuk Tuhan. Untuk Sang Pencipta, Penguasa jagad alam, semesta galaksi ini.

Jika berbicara tentang segala sesuatu (kecuali dosa, yang bahkan bukan watak dari Tuhan), maka dapat diartikan bahwa :

  • langit begitu luas dan berbentuk menyerupai kapas yang disusun bergumpal-gumpal. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.
  • starfish

  • Bumi ditempatkan bersama dengan planet-planet lain di susunan galaksi. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.

galaksi

  • Nyamuk memiliki organ tubuh yang tampak transparan. Darah adalah makanan kegemarannya. Itu untuk Tuhan. Untuk kesenangan-Nya.

 

  • barak_obamaBarak Obama terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.

 

 

  • Indonesia merupakan negara dengan jumlah kepulauan terbesar di dunia. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.
  • Elang memiliki mata yang jauh lebih tajam daripada manusia sekalipun. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.bald-eagle-head

 

 

  • Bunga Bangkai memiliki bau yang tidak mengenakkan. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.
  • Saya lahir dengan nama Tigor Boraspati Sidauruk, lahir di Balikpapan, bersuku bangsa Batak. Dan tidak terlalu suka makan jeroan. Itu untuk Dia. Untuk kesenangan-Nya.

Jadi bisa disimpulkan seperti ini :

  • Hidup saya harus menyenangkan-Nya. Karena hidup ini bukan tentang ‘aku, aku, dan aku’. Tetapi tentang Tuhan.
  • Hobi saya harus menyenangkan-Nya. Harus bukan semata membahagiakan saya, tetapi terlebih penting adalah memuliakan Tuhan.
  • Talenta saya harus menyenangkan-Nya. Harus mampu membawa nama-Nya dimuliakan lebih lagi.
  • Harta dan fasilitas saya harus menyenangkan-Nya. Ditambah fakta bahwa semua asalnya dari Dia. Semua itu harus digunakan memuliakan nama Tuhan.
  • Tubuh saya harus menjadi persembahan yang menyenangkan-Nya. Menjaga kekudusan sesuai yang diinginkan-Nya, merupakan hal yang menyenangkan Tuhan.
  • Perjalanan studi saya harus menyenangkan-Nya. Melalui lika-liku dalam masalah akademik. Ujung-ujungnya harus memuliakan nama Tuhan.
  • Pekerjaan dan profesi saya harus menyenangkan-Nya. Sebagai apapun itu. Semua harus berujung pada kesenangan Tuhan.
  • Pelayanan saya harus menyenangkan-Nya. Bukan menjadi alat untuk membesarkan diri sendiri, tetapi membesarkan nama-Nya.
  • Kisah cinta saya harus menyenangkan-Nya. Dengan menjalaninya berfondasikan ‘kasih yang memberi’, dan bukan ‘kasih yang mengambil’.
  • heartwhen-love-meets-wisdom

  • Visi, tujuan, sasaran hidup saya harus menyenangkan-Nya. Tidak berjalan secara gegabah. Tetapi membiarkan Dia yang menjadi sutradara kehidupan saya. Sehingga ending dari semua ini adalah menyenangkan-Nya. Memuliakan kebesaran Tuhan Pencipta.
  • Jika terus dilanjutkan, saya percaya, bahkan beberapa posting pun tidak akan sanggup menampungnya.

 

Yup, hidup ini adalah anug’rah Tuhan, yang saya percaya, Dia menginginkan saya untuk menjalaninya sebagai suatu kehidupan yang memberi, bukan mengambil sebanyak-banyaknya, karena hidup ini bukan tentang saya, melainkan tentang Dia. Sosok yang paling layak untuk memegang dan berdaulat penuh atas kehidupan saya.

      (Jalani hidup dengan Diri-Nya sebagai partner  

to-follow-you-my-lordAnda. Dan Anda akan dibuat takjub akan keindahan Pribadi-Nya. Saya pastikan hal ini).