Eksplorasi tiada henti!

Sore hari menjelang malam, sebelum saya pulang, atasan saya mengajak saya diskusi. Bukan hal yang istimewa, tetapi beliau lebih tertarik membahas sesuatu yang esensial bagi kami, orang-orang yang bekerja di balik layar sebuah theme park.

Melakukan hal kecil lebih penting daripada tidak melakukan sama sekali

Itu pesan beliau.

Penting buat kami para pembangun imajinasi ini untuk terus mengeksplorasi. Mengeksplor hal-hal kecil. Sayangnya, seringkali kami tidak melakukan hal tersebut dan lebih cenderung mempersiapkan diri untuk hal-hal besar.

Tapi, Walt Disney pun memulainya dari sesuatu yang amat kecil.

Jangan menjadikan Disney sebagai acuan, karena memang mereka sudah begitu mapan dan seribu langkah di depan kami. Tapi, satu yang saya nikmati dari diskusi kemarin malam adalah, jangan membandingkan diri dengan siapapun, jangan merasa kecil, jangan merasa tidak bisa berbuat sesuatu yang besar, tetapi lakukanlah apa yang kamu bisa lakukan. Lakukanlah dengan yang terbaik. Jadilah yang terbaik di bidang yang kamu bisa lakukan.

Beliau menceritakan pengalamannya, saat mencoba melakukan apa yang para pembuat Sushi (orang Jepang asli) biasa lakukan dengan cara mengolah makanan Jepang tersebut dengan lihai, cekatan, dan presisi. Beliau mendapati dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Betapa sulitnya membuat satu buah Sushi dengan tingkat kerapihan, kemiripan, dan kecermatan seperti karya pembuat Sushi asal Jepang itu. Itu dikarenakan, adanya persiapan panjang, adanya perlengkapan sebelum berkarya berupa latihan, eksplorasi, dan kedisplinan tinggi dalam diri pembuat Sushi itu, yang tidak dimiliki atasan saya.

Saya percaya, prinsip ini bisa diterapkan di semua bidang kehidupan manusia.

Eksplorasi = belajar. Belajar apapun dari hal-hal paling kecil sekalipun.

Dan belajar sudah seharusnya dilakukan tiada henti. Tidak berpuas diri, bukan untuk memupuk sisi ambisius manusia, tetapi tidak berpuas diri untuk membangun mental ingin menjadi yang terbaik dengan sikap selalu ingin belajar dan diajar.

Kerendahan hati adalah awal dari kemenangan. Mari belajar!

Doktrin generasi ke generasi : menggambar pemandangan

Pagi ini, sebelum saya menaruh tas di meja kerja saya, saya mendapat kesempatan berbincang dan berdiskusi dengan senior saya, seorang ilustrator dan komikus berpengalaman yang saya kagumi, Bapak Nurmiadi Ambardi (link komik dan ilustrasi beliau).

Sebuah topik yang entah mengapa, kami jadikan bahasan pagi ini. Sebagai sesama pekerja yang bergerak di bidang kreatif dan seni (beliau adalah seniman senior, amat ahli dalam menggambar kartun, komik, dan berbagai macam ilustrasi baik dengan metode tradisional maupun digital dan saya ilustrator yang masih akan banyak belajar dalam beberapa tahun ke depan), kami menemukan adanya sesuatu yang ‘ganjil’ dalam perkembangan kreasi anak bangsa Indonesia.

Mengapa ganjil?

Saat beliau bercerita tentang kesempatannya untuk mengajarkan gambar pada anak-anak di dua kota besar di Indonesia yang berbeda, terpisahkan lautan, berbeda pulau, Bandung dan Makasar, beliau mendapati ada satu kesamaan ide dan karya yang sangat identik.

Kebebasan yang beliau berikan pada anak-anak untuk menggambar, dijawab dengan menggambar sesuatu yang amat familiar bagi kita semua…

Apakah anda mengenal pola gambar di atas?

Saya yakin, masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi amat mengenal gambar seperti ini. Bahkan sebagian besar pernah mengalami menjadi murid yang diminta oleh gurunya menggambar sama persis seperti gambar di atas.

Dua buah gunung. Jalan raya di tengah-tengah (sudut pandang perspektif), sawah dengan bentuk “V” dilengkapi burung-burung angka 3 juga tidak lupa letakkan sahabat mataharimu di antara dua gunung tadi. Jadilah karya yang paling identik dengan bangsa Indonesia.

Apakah ada yang salah dengan hal ini?

Tidak. Pola gambar pemandangan ini bahkan amat sangat kaya akan ide, kaya akan objek-objek yang menarik untuk digambar (sebut saja pegunungan, awan, pohon, persawahan, dan siapa yang tidak suka dengan matahari?).

Tetapi semua menjadi ‘ganjil’ saat kita mendapati dan menyadari, karya seperti ini begitu melekat di (nyaris) tiap imajinasi dan ide manusia Indonesia. Apakah mungkin hal ini bisa terjadi? Dari turun temurun, generasi ke generasi, semua manusia Indonesia “dituntun” ke arah yang sama. Membatasi kreativitas. Membatasi ide. Membatasi sisi liar dari imajinasi manusia yang berbeda satu dengan yang lain.

Saya amat mencintai dunia menggambar.

Dan saya pun mengalami masa-masa ini. Saat guru saya juga meminta murid-muridnya menggambar tepat seperti contoh di papan tulis. Yang tidak lain menggambar pemandangan.

Rekan saya, Gary (link karya-karyanya) bahkan bercerita pernah mengalami satu hal yang ironis semasa masih belajar menggambar. Saat itu, ia memiliki keinginan untuk ‘melakukan sesuatu yang tidak biasa’. Mewarnai gunung (masih bertema pemandangan), bukan dengan warna yang biasa. Tetapi warna merah. Sesuatu yang ‘ajaib’, unik, dan berbeda. Dan inilah respon gurunya saat melihat : “Kenapa warna gunungnya merah? Apa habis terbakar?”, dimana teman saya ini menangkap kesan ‘langkah yang saya ambil ini adalah salah’. Dan warna yang diinginkan sang guru adalah biru atau hijau. Tidak keluar dari warna-warna rekomendasi tersebut. Hmm. (Kalaupun anda mengalami kasus lain, setidaknya, tetap ada “warna yang benar” yang diajarkan).

Ya. Saat kita mencoba “sedikit nakal dengan kebebasan imajinasi dan kreativitas kita”, lucunya, kita akan mendapatkan respon demi respon yang seringkali berseberangan dengan maksud dan ide kita.

“Nak, kamu salah. Warna atap rumah sebaiknya merah dan bukan ungu.”

“Adik, supaya lebih bagus, warna pohonnya hijau saja, dan bukan ungu.”

“Mengapa warna gunungnya merah? Sebaiknya diganti biru atau hijau saja supaya lebih indah.”

Tiap kita mungkin pernah memiliki pengalaman yang berbeda dalam hal ini. Tetapi, tekad kita seharusnya, mulai dari sekarang, terus menerus mendukung segala bentuk kreativitas, gagasan, dan ide dari suatu karya anak bangsa kita. Khususnya generasi di bawah kita. Anak-anak kita. Murid-murid kita. Pelajar-pelajar kita.

Tidak mendikte. Tidak membatasi terlalu keras. Tidak mendoktrin (lagi). Tidak hanya menyalahkan. Tidak hanya mengkritik.

Tetapi membimbing. Mengarahkan agar tetap sesuai norma. Tetap memberi kebebasan. Memfasilitasi. Memberi kesempatan yang luas. Mendukung. Menyemangati. Memberi contoh-contoh yang baik dan tidak mengkotak-kotakkan “ini yang benar” dan “itu yang salah”. Tidak lagi demikian.

Menjadi pekerjaan rumah bagi kita yang rindu melihat kreativitas Indonesia dibawa ke tingkat yang semakin tinggi. Mari berjuang!