Virtual plein air study 9 Oct 2018

9 okt 183158314407

Di studi kali ini, saya coba belajar beberapa hal:

  • komposisi
  • peletakkan focal point pada gambar (tampak pada gambar di bawah)
  • value hitam putih, dengan spot terang sebagai aksen
  • mengubah scene kompleks menjadi stylized

9 okt 18_flowSaya berusaha agar rumah tersebut menjadi focal point di gambar ini. Saya sengaja mengubah beberapa bentuk dari pohon dan objek sekitar, untuk mendukung upaya ini. Flow atau aliran pada keseluruhan layout, sengaja mengarah pada rumah putih tersebut. Ini adalah salah satu cara agar mata audience segera mengetahui apa dan dimana objek utama yang ingin ditonjolkan.

Advertisements

Drawing updates!

sagat_cdc_sketchesSagat

sarah's_room_1_TLOUThe best game ever, The Last of Us first location sketch

 

3 Sep 18Random imagination sketch

 

6 Sep 18Fantasy parade mood sketch

 

17.9Recent painting study

Terlibat di sebuah pementasan teater musikal Flower of Destiny!

Sejak April 2018 lalu, saya mendapatkan sebuah kesempatan langka untuk bisa berkontribusi di project kantor saya, yaitu teater musikal Flower of Destiny the Musical (link disini). Ini adalah debut dan karya perdana kami di bidang ini. Art, musik, cerita dan settingnya murni 100% dikembangkan sendiri oleh tim dimana saya bekerja setiap harinya. Diperkuat dengan aktor dan aktris teater muda berbakat yang telah di audisi, maka, kombinasi ini menghasilkan sebuah karya yang akan dipentaskan besok, 7 September 2018, di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, pada: Show 1 – pukul 16.00 WIB dan Show 2 – pukul 19.30 WIB.

Terdiri dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, semua bahu-membahu berkarya untuk menghasilkan produk-produk kreatif yang (semoga) bisa menginspirasi masyarakat Indonesia, baik anak-anak, hingga seluruh anggota keluarga. Harapannya melalui teater musikal bernuansa budaya Indonesia berbalut sentuhan fantasi ini, banyak nilai kehidupan dan pesan-pesan positif dapat diterima masyarakat Indonesia. Seperti keberanian, pengharapan, dan cinta.

Saya sendiri cukup beruntung dipercaya sebagai set designer/ stage concept designer. Dan ini adalah kali pertama bagi saya dalam mendesain mood, atmosfer, desain, dan detil di sebuah panggung pementasan teater musikal. Sebuah kesempatan yang menantang namun menggairahkan!

Doakan semoga pementasan besok sukses ya! Amin. Terimakasih sudah berkunjung!

Fod

 

 

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!

Gundala, Putra Petir, superhero asli Indonesia. Tidak kalah keren dari jagoan Marvel atau DC Comic!

Harus diakui, saya bukanlah kolektor atau pembaca setia komik superhero, entah itu Marvel, DC Comic, atau karya komikus Indonesia. Saya dulu malah lebih banyak membaca komik macam Doraemon, Detektif Conan, Detektif Kindaichi, dan tentu, Dragon Ball.

Tapi, belakangan ini, “serangan” bertubi-tubi tokoh superhero asal Amerika, datang silih berganti di layar bioskop kita, baik itu dari Marvel maupun DC. Semuanya begitu keren, begitu luar biasa, baik ceritanya maupun desain karakternya. Mereka berlomba-lomba merebut hati pasar Indonesia yang memang sudah pasti menggilai tiap karya mereka. Begitu pun saya. (Meski sejak ada baby, belum banyak lagi update film-film tersebut).

Sampai akhirnya, di bulan ini, rasa haus dan dahaga pecinta superhero akan dipuaskan dengan kehadiran sosok legendaris asli Indonesia. Dialah superhero lokal, Wiro Sableng, 212 warrior. Sebuah jawaban atas kerinduan masyarakat Indonesia untuk menyaksikan tayangan superhero lokal yang digarap dengan kualitas tinggi dan tidak kalah dari karya Hollywood. Must watch!

Tarik mundur jauh ke belakang. Ada satu sosok pahlawan asli Indonesia, yang diciptakan oleh almarhum Harya Suryaminata atau dikenal dengan nama Hasmi, yaitu Gundala Putra Petir (1969). Gundala diciptakan Hasmi menyusul populernya cerita pahlawan super di dunia komik pada tahun 1960-an. Ide kekuatan Gundala yang berupa petir menurut Hasmi didapat dari tokoh legenda Jawa Ki Ageng Sela yang diceritakan bisa menangkap petir. Sementara bentuk fisik Gundala sendiri mendapat inspirasi dari bentuk karakter The Flash ciptaan Gardner Fox dari DC Comics. (sumber: Wikipedia).

20161106184347_137

Berawal dari dirilisnya buku the Art of Wiro Sableng, 212 warrior, karya studio ilustrasi ternama Indonesia, Caravan studio, dimana ditampilkan berbagai konsep, sketsa, dan ilustrasi berkualitas dunia, dari proses pembuatan Wiro Sableng, dari awal hingga produksi. Yang semuanya dikerjakan oleh pemuda-pemudi asli Indonesia. Saya pun terinspirasi untuk “mencoba” bereksperimen dengan me-remake tokoh Gundala.

Saya mengandai-andaikan jikalau Gundala dibuatkan versi movienya, kurang lebih, seperti inilah tampilan yang bisa saya berikan (meski masih banyak kekurangan disana sini). Saya banyak mengacu pada konsep karakter dari Marvel Cinematic Universe (MCU), yang didesain oleh Andy Park (website) dan Ryan Meinerding (website). Dua artist milik studio Marvel yang karyanya sudah mendunia.

gundala_redesign_1

Saya iseng-iseng menggunakan wajah Iko Uwais sebagai model dan pemeran tokoh Gundala. Hm, apakah Gundala jadinya akan bertarung pencak silat juga? Kenapa tidak?

Yup, masih akan banyak belajar dari jago-jago gambar dari berbagai penjuru dunia. Tapi, satu yang pasti, Indonesia sudah dan sedang berjalan di track yang benar dalam meningkatkan industri kreatifnya. Memang, kita masih jauh ketinggalan dari Amerika dan Jepang. Tapi, lebih baik berusaha daripada menyerah sebelum bertanding bukan?

Terimakasih sudah membaca!

gundala_redesign_head

Paramore fanart

Saya penggemar dari Paramore. Band yang digawangi oleh Hayley Williams (vokalis), Zac Farro (drummer) dan Taylor York (gitaris) ini, menyita perhatian saya beberapa tahun lalu dengan hits nya “Misery Business” ketika saya sedang bermain game Saints Row di PS3. Memang cara yang sedikit unik dan aneh bagaimana akhirnya saya mengikuti sepak terjang band ini hingga kini. Band yang sudah bergonta-ganti personil ini tetap terus berkarya meski kali ini, di album After Laughter nya, membawakan nuansa dan atmosfer musik yang berbeda dari album-album sebelumnya.

paramore combi illustration_2

 

Fan art ini dibuat untuk menyambut konser Paramore beberapa waktu lalu, yang sayangnya terpaksa dibatalkan, akibat sang vokalis terkena penyakit serius di tenggorokannya. Tapi, bagi saya, meski akhirnya belum kesampaian menonton konsernya, tapi mendisiplin diri untuk tetap menyelesaikan apa yang sudah dimulai bagi seorang concept artist/ illustrator adalah suatu keharusan.

Semoga Paramore segera datang lagi ke Indonesia dan kali ini bisa terselenggara dengan baik.