Speedpainting Stuff!

Sedikit update untuk speedpainting exercise saya di sela-sela pekerjaan studio.

Durasi: 30 menit – 1 jam untuk tiap sketsa.

Tools: Photoshop CS6, Wacom Cintiq

23Juli19_confrontation23Juli19_GoroVSJohnnyCage23Juli19_hideandseek23Juli19_interogation24Juli19_drawing1

Advertisements

The Last of Us

Mari bicara mengenai videogame.

Satu topik yang jarang saya bahas, tapi kalau boleh jujur, video game merupakan alasan utama mengapa sejak semula saya akhirnya terjun ke dunia ini. Dunia kreatif. Dunia desain dan digital art. Dunia kaya imajinasi.

Dua puluh tahun lalu, sejak saya mulai bermain video game di berbagai konsol, entah itu Atari, Nintendo, Sega-Mega Drive, Dreamcast, XBOX, sampai Playstation 1, 2, 3, saya mendapati diri sebagai gamer tulen. Ya, saya pemain video game fanatik!

Singkat cerita, saya menemukan keseruan lain selain menjadi player (hanya sebagai pemain saja), yaitu bagaimana jika menempatkan diri sebagai creator atau game developer (pembuat game). Itulah awal bagaimana saya ingin masuk ke kampus saya dulu di Bandung. Meski gagal di pilihan pertama (DKV) dan malah masuk di Desain Interior.

Tapi, passion itu tetap ada. Saya ingin menjadi concept artist yang mampu membangun sebuah dunia imajinasi di sebuah video game, atau di industri lain yang sejenis.

Puluhan judul game sudah saya mainkan, dan tuntaskan. Sampai pada Juni 2013, muncullah game berjudul The Last of Us (TLOU) di Playstation 3. Karya studio Naughty Dog (kreator Jak & Daxter, Uncharted series, dll).

Sebuah game yang sungguh mengguncang dunia.

TLOU_BANNER

Mengubah mindset dan pemikiran bahwa game ‘hanya mainan’ dan tidak lebih dari itu. Justru, dari game TLOU inilah, menjadi titik balik krusial dalam industri video game dunia, khususnya bagi para pembuat game, bukan hanya sibuk menampilkan grafik indah dan gameplay menyenangkan saja.

Tapi, elemen kunci yaitu story mulai mendapat tempat maha tinggi di dunia video game. Bahkan story, kini, lebih utama ketimbang tampilan graphic indah dan detil pada sebuah game.

Menurut saya pribadi, TLOU menjadi juara, alasan utamanya adalah storydiikuti elemen lain yang juga memukau yaitu desain, gameplay, graphic, dan music. Silahkan buka link berikut untuk membaca lebih lengkap (LINK).

Pesan yang paling menyentuh bagi saya adalah bagaimana hubungan bapak dan anak perempuan (padahal semula orang asing satu dengan yang lain) dibangun dan makin kuat sepanjang petualangan mereka mencoba bertahan hidup di era post-apocalypse. Hingga akhirnya…. (Spoiler). Lebih baik, Anda membuka sendiri link diatas.

The Last of Us segera mendapat tempat di hati saya. Saya bahkan sampai menamatkannya 3x dan 1x masih on going (meski sudah berkeluarga, saya pernah begadang hanya untuk memainkannya, namanya juga gamer fanatik).

Kini, 2019, berita yang dinanti-nantikan seluruh penggemar TLOU itu masih misteri, yaitu kapan tanggal rilis dari bagian ke-2 cerita luar biasa TLOU ini.

Sebagai bentuk apresiasi, saya sempatkan membuat fanart dari Ellie, protagonis kisah ini.

Ellie_fanart

Foodie Art Challenge (part 1)

Dalam rangka menjaga otak tetap fresh dan kreatif, saya dan teman-teman di kantor, mengadakan office art challenge di bulan Mei ini. Dan tema yang dipilih adalah : makanan. Tema makanan ini tetap memberi kebebasan si seniman untuk berkreasi. Bisa menjadikan makanan sebagai character, props, dan bahkan bagian dari suatu environment.

Berikut beberapa update karya saya dalam seminggu ini. Menjadi kesempatan bagus untuk bereksperimen, keluar dari zona nyaman, mempertajam lagi coloring skill. Dan harus tetap dikerjakan dengan fun!

Ping Pong

Pada tahun 2016 lalu, kantor tempat saya berkarya mulai menyediakan satu unit fasilitas olahraga, yaitu meja ping pong di salah satu ruangnya. Tujuan utama adalah untuk memfasilitasi para karyawan dengan hiburan sekaligus alat olahraga yang diharapkan dapat meningkatkan chemistry antar pegawai, menopang gaya hidup sehat dan produktivitas dalam bekerja.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hanya butuh 2.5 tahun untuk mengubah cara pandang saya akan olah raga ini. Olah raga yang semula hanya sekadar permainan untuk senang-senang atau sekadar isi waktu, kini, sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya!

Diawali dengan rutin bermain di jam istirahat siang, meski dengan kemampuan sangat pas-pasan, tanpa modal pemahaman dan teknik bermain yang memadai (funfact: olah raga favorit saya selalu sepak bola, sebelumnya tidak pernah tertarik dengan ping pong), dan dikelilingi teman-teman yang juga awam dan pemula dengan olah raga ini, maka, seiring waktu, ketertarikan mulai muncul terhadap ping pong.

ilustrasi ping pong

Dengan modal nekad dan otodidak (belajar sendiri, tanpa pendidikan/ latihan formal), maka, tahun 2019 ini, saya sudah semakin menikmati permainan ini – meski belum bisa dikatakan mahir. Ping pong sangat adiktif dan menyenangkan! Selain itu, dengan ping pong yang reguler, saya bisa membakar kalori, mempererat pertemanan di kantor dan menjaga hidup tetap sehat.

Ini juga salah satu cara saya agar tidak terpaku duduk di depan monitor sepanjang hari selama bekerja. Lagipula, untuk hidup yang lebih sehat, kita harus terus bergerak, bukan?

Ya. Ping pong bukan lagi sekadar permainan. Ia sudah menjadi pemberi warna, pengisi hari, penyemangat, pendorong untuk tetap mengejar hidup sehat. Saya bersyukur bisa menikmati olah raga ini bersama teman-teman saya.

Apa olah raga yang teman-teman biasa lakukan di waktu senggang?

Selamat mengejar hidup sehat dan seimbang!

 

 

 

Draw 100 Somethings.. Food Truck

Di awal Januari lalu, saya memberanikan diri mengambil resiko gagal dalam sebuah art challenge yang bernama “draw 100 somethings”, yang digagas oleh Jake Parker. Ilustrator panutan saya yang terkenal dengan Inktober dan graphic novel Skyheart nya.

Dalam video berikut, dia mengisahkan perjalanan dirinya dalam menuntaskan sebuah art challenge nan ambisius, meski tergolong simpel dan relatif (tampak) mudah, draw 100 somethings

Didorong oleh keinginannya untuk berkembang semakin baik sebagai concept artist/ illustrator, dan sebagai cara mendisplinkan dirinya menggambar tiap hari. Maka, ia menemukan salah satu metode yang tepat dan manjur untuk membiasakan habit ini. Sebuah tantangan menggambar sebanyak 100 buah desain/ ilustrasi!

Tipsnya sederhana. Kita diharuskan menggambar satu tema yang sudah ditentukan (oleh kita sendiri), dan mengembangkan ide dan desainnya menjadi 100 macam variasi desain yang berbeda, tetapi tetap dengan ciri khas yang identik.

Tema spesifik. Sebaiknya tidak terlalu umum dan luas, misal: daripada memilih tema “pesawat”, yang memang sangat luas macamnya. Dapat dibuat lebih spesifik menjadi “pesawat tempur, dua kursi”. Maka, pengembangannya pun bisa lebih spesifik, tetapi semakin menantang dalam prosesnya.

Maka, saya pun memilih tema “FOOD TRUCK”. Alasannya sangat sederhana. Pertama, saya memang ingin belajar menggambar dan mendesain mobil. Khususnya food truck. Mengapa food truck? Karena, alasan kedua yaitu saya suka makan. Saya juga suka street food. Saya suka memperhatikan bagaimana sebuah kios atau makanan dijual, ditampilkan, didesain, agar menarik perhatian pengunjung. Jadi, tema ini mampu mengkombinasikan alasan-alasan tadi.

Saat artikel ini ditulis, saya baru saja menyelesaikan food truck ke-25. Sebuah milestone yang baik meski masih panjang perjalanan menuju angka 100. Mengingat saya mengerjakannya di tengah rutinitas harian sebagai full timer concept artist di sebuah perusahaan animasi, dan sekaligus membagi waktu dengan keluarga tiap harinya. Saya pun mengerjakannya (sering kali) di malam hari, sebelum tidur.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama proses mengerjakan tantangan ini. Saya berjanji akan membagikannya saat saya selesai menuntaskan ke-100 food truck buatan saya. Doakan saya!

 

Parenting and Art Career

Putri saya sudah hampir berusia 1.5 tahun. Tidak terasa. Perjalanan yang dilewati memang baru ‘seumur jagung’. Belum ada apa-apanya. Masih banyak kejutan dan pelajaran menanti di depan. Tapi rasa syukur harus terus dipanjatkan.

Dan saya kian menyadari betapa peran saya amat dibutuhkan di tengah kehidupan putri dan keluarga saya. Di lain sisi, profesi yang saya tengah jalani, yaitu concept artist, mendorong saya untuk tetap memperhatikan karir kreatif ini. Tetap harus dijalani dengan baik, profesional, dan tetap menajamkan diri dalam banyak aspek kreatif.

Disinilah tantangan itu muncul.

Bagaimana saya harus tetap bijak dan tepat dalam mengelola prioritas, berupa waktu, energi, dan perhatian saya, terhadap dua aspek tersebut. Secara seimbang.

20190126_035839

Komitmen utama saya adalah keluarga. Meski terkadang masih gagal dalam menjalankannya, tapi, setidaknya saya tahu apa yang paling utama dalam hidup saya. Bagaimana saya ingin seoptimal mungkin bisa tetap hadir dalam kehidupan keluarga saya. Kualitas hubungan dengan istri tercinta, dan juga dengan putri saya. Memandikan anak nyaris tiap pagi di sepanjang tahun sebelum berangkat kantor sudah menjadi sebuah habit dan “ritual” saya dalam memulai hari. Saya pun kian menikmatinya. Sebuah bonding tercipta di antara kami. Meski singkat, tapi, saya tahu tidak akan sia-sia.

Lalu, sudah menjadi bagian hidup saya untuk tetap menajamkan diri dalam berbagai aspek dan keterampilan sebagai seorang kreatif. Bagaimana mengejar konsistensi untuk berkarya, studi, belajar hal baru, observasi, dan terbuka dengan banyak inspirasi di luar sana. Sambil tetap bekerja fulltime sebagai concept artist di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Menantang. Khususnya agar semua berjalan dengan baik dan tetap seimbang. Tidak ada yang berat sebelah.

Peran ini akan saya jalani dengan rasa syukur, dan selalu meminta kekuatan dari Sang Ilahi. Saya tahu, kapasitas saya akan terus ditingkatkan-Nya dari waktu ke waktu. Bukan karena saya layak untuk itu, tapi karena Ia begitu baik bagi saya.