Follower (Likes) or Growth?

Saat seseorang ‘terjun’ ke dunia nan hiruk-pikuk bernama sosial media, maka hal berikut ini seringkali menghinggapi pikiran para penggunanya. Yaitu “adanya dorongan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin likes atau follower.” Mungkin hal ini tentu tidak serta merta dialami semua pengguna sosial media. Tapi harus diakui, saya salah satu orang yang sempat mengidapnya!

Sebagai seorang kreatif yang menggunakan platform sosial media sebagai wadah untuk memperkenalkan diri melalui karya-karyanya ke dunia (via internet), maka, parameter paling mudah untuk mengetahui apakah karya yang dihasilkan sebenarnya mendapat apresiasi atau setidaknya respon dari para pengguna lain, yaitu dengan menakar berapa banyak like atau follower yang sudah kita dapat.

Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik dalam art journey sosial media saya, dimana saya sungguh mengevaluasi dan menanyakan pertanyaan kritis kepada diri saya sendiri.

Sebenarnya, untuk apa saya berkarya? Untuk apa saya memajang semua karya saya di dunia maya? Apakah sekadar mengharapkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan likes dan bertambahnya follower yang banyak? Atau sebenarnya, ada hal lebih penting dari itu semua, khususnya jika dilihat dari perspektif seorang artist yang sedang ingin terus belajar konsisten dalam berkarya dan berkembang dalam keterampilannya. Yang mengenal kata,” tidak pernah ada istilah berhenti belajar.”

Setelah merenungkannya, saya harus akui, jebakan “gila likes dan follower” tadi tanpa sadar telah menghambat dan sedikit menjadi distraksi bagi art journey saya. Semua dorongan yang kadang bisa positif tapi juga negatif ini telah memurnikan motivasi saya dalam berkarya.

“Apakah hanya mau berkarya demi meraih likes dan follower banyak? Bagaimana kalau hal itu tidak tercapai? Apakah jadi down, dan melupakan tujuan semula yaitu progres dan pertumbuhan? Bukankah progres atau growth seorang concept artist lah yang terutama? Apakah saya berkarya harus (selalu) mengikuti keinginan dari pasar? Dimanakah letak kesenangan dalam berkarya jika tuntutan-tuntutan seperti ini terus menerus menyetir kehidupan seorang artist?”

Tulisan ini berangkat dari penilaian jujur diri sendiri, melihat fenomena yang terjadi, khususnya apa yang telah saya alami belakangan ini. Sebagai seorang yang ingin terus berkembang, belajar, dan berkarya, saya harus tiba pada satu kesimpulan.

Pasar memang penting. Selera orang lain memang patut diperhatikan, tetapi bukan segalanya. Sedari awal, seni sudah seharusnya bisa dinikmati, baik oleh sang seniman itu sendiri dan oleh dunia. Sampai saat itu tiba, biarlah progres pertumbuhan seorang seniman juga harus mendapat porsi yang cukup, tanpa tergerus terus-menerus dengan tuntutan dan jebakan “likes dan follower” di dunia maya.

Selamat mengejar perkembangan dalam bidang apapun!

Advertisements

Draw 100 Somethings.. Food Truck

Di awal Januari lalu, saya memberanikan diri mengambil resiko gagal dalam sebuah art challenge yang bernama “draw 100 somethings”, yang digagas oleh Jake Parker. Ilustrator panutan saya yang terkenal dengan Inktober dan graphic novel Skyheart nya.

Dalam video berikut, dia mengisahkan perjalanan dirinya dalam menuntaskan sebuah art challenge nan ambisius, meski tergolong simpel dan relatif (tampak) mudah, draw 100 somethings

Didorong oleh keinginannya untuk berkembang semakin baik sebagai concept artist/ illustrator, dan sebagai cara mendisplinkan dirinya menggambar tiap hari. Maka, ia menemukan salah satu metode yang tepat dan manjur untuk membiasakan habit ini. Sebuah tantangan menggambar sebanyak 100 buah desain/ ilustrasi!

Tipsnya sederhana. Kita diharuskan menggambar satu tema yang sudah ditentukan (oleh kita sendiri), dan mengembangkan ide dan desainnya menjadi 100 macam variasi desain yang berbeda, tetapi tetap dengan ciri khas yang identik.

Tema spesifik. Sebaiknya tidak terlalu umum dan luas, misal: daripada memilih tema “pesawat”, yang memang sangat luas macamnya. Dapat dibuat lebih spesifik menjadi “pesawat tempur, dua kursi”. Maka, pengembangannya pun bisa lebih spesifik, tetapi semakin menantang dalam prosesnya.

Maka, saya pun memilih tema “FOOD TRUCK”. Alasannya sangat sederhana. Pertama, saya memang ingin belajar menggambar dan mendesain mobil. Khususnya food truck. Mengapa food truck? Karena, alasan kedua yaitu saya suka makan. Saya juga suka street food. Saya suka memperhatikan bagaimana sebuah kios atau makanan dijual, ditampilkan, didesain, agar menarik perhatian pengunjung. Jadi, tema ini mampu mengkombinasikan alasan-alasan tadi.

Saat artikel ini ditulis, saya baru saja menyelesaikan food truck ke-25. Sebuah milestone yang baik meski masih panjang perjalanan menuju angka 100. Mengingat saya mengerjakannya di tengah rutinitas harian sebagai full timer concept artist di sebuah perusahaan animasi, dan sekaligus membagi waktu dengan keluarga tiap harinya. Saya pun mengerjakannya (sering kali) di malam hari, sebelum tidur.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama proses mengerjakan tantangan ini. Saya berjanji akan membagikannya saat saya selesai menuntaskan ke-100 food truck buatan saya. Doakan saya!

 

New hobby in 2019: Making video!

Sudah sejak lama saya ingin belajar bagaimana membuat video. Entah video timelapse proses berkarya saya, atau sekadar video dokumentasi perjalanan bersama keluarga.

Entah mengapa, saya berpendapat bahwa media video merupakan cara paling lengkap dan akurat dalam menyampaikan berbagai macam gagasan, berupa visual, suara, narasi, ditambah efek tertentu. (Animasi juga bisa jadi alternatif!)

Karena sewaktu kuliah – jurusan desain interior- , saya tidak pernah mengetahui apapun perihal ilmu membuat video, maka, baru di era Youtube sekaranglah, dimana bertebaran segudang tips & trick (dari yang paling mudah hingga kompleks), juga tutorial dari orang-orang yang berbaik hati berbagi pengetahuan dan ilmu mereka, saya mulai memberanikan diri memulainya hobi ini.

Inginnya bukan sekadar asal membuat video. Tapi, minimal ada sedikit hal yang bisa dibagikan. Entahkah itu berupa tutorial, timelapse proses saya berkarya, atau sekadar video dokumentasi pribadi.

Dan dalam penggarapannya, saya merasa perlu memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar dalam membuat sebuah video agar lebih menarik. Saat pengambilan gambar – footage, program editing yang sesuai bagi saya, perlengkapan yang mendukung, belajar hal basic soal cinematography, seperti pengambilan angle, komposisi, dan lain sebagainya.

Ternyata hal-hal di atas sangatlah seru dan menyenangkan.

Semoga saya bisa terus bereksperimen, mencoba hal baru, tidak takut melakukan kesalahan, dan tidak terburu-buru ingin hasil maksimal, karena yang paling penting adalah menghargai proses sambil tetap menghasilkan sesuatu. Tetap mencoba. Terus belajar dan terbuka pada masukan juga kritik, demi perbaikan ke depannya.

Keep making something to inspire others! Happy creating!

Terimakasih sudah berkunjung di artblog ini!