Musik, Drum dan Berkarya

Meski blog ini bernama ‘artblog’, tapi, bagi saya, musik juga merupakan elemen penting dalam proses saya berkarya. Musik tidak bisa lepas dari hidup saya.

Sempat belajar alat musik bernama drum dan menjadi ‘anak band’ di era sekolah dulu, juga sempat 2.5 tahun terlibat di sebuah pelayanan gereja, membuat saya memang menjadikan musik, bukan hanya hobi, tetapi juga inspirasi, penghilang stres dan mood booster.

Begitu pun setelah berkarir sebagai digital artist/ illustrator. Spotify siap dengan daftar  playlist buatan, siap menemani selama saya memutar otak menghasilkan ide, konsep, dan desain-desain (entah di kantor, maupun rumah).

FUNFACTS: Karena kesibukan dan ketidakmampuan membeli drum set 1:1, saya bersyukur menemukan berbagai apps drum menarik dari smartphone. Dan itu cukup untuk mengobati kerinduan saya akan bermain musik, meski kali ini, tidak pernah terlibat lagi dalam sebuah band apapun.

Beberapa apps yang pernah saya mainkan (bahkan membantu saya saat harus latihan drum dari rumah, sebelum perform)

hqdefault

Real drum

images

Drum kits (classic & metal version)

Apa kanvasmu?

Tiap seniman identik dengan alat bernama kanvas. Kanvas adalah media yang digunakan para seniman dengan berbagai latar belakangnya untuk menyalurkan imajinasi, ide, dan khayalan mereka ke dalam bentuk yang dapat dinikmati banyak orang. Banyak seniman di seluruh dunia secara mengejutkan “keluar dari kotak” kebiasaan pada umumnya.

Kanvas tidak lagi harus di atas kertas. Kini, kanvas para seniman bisa dimana saja! Ya. Dimana saja! Berikut adalah temuan-temuan saya.

1. Asyera Bella (klik disini untuk lihat karya-karya hebat lainnya!)

Inilah seniman yang selalu mencoba hal baru, yang secara tidak kebetulan, ialah kakak kandung saya. Tidak cukup dengan kertas biasa, ia merambah dinding sebagai kanvas nya. Hmm. Kalau ini belum cukup, bagaimana dengan yang berikut?

Bagian dari telepon rumahan pun bisa menjadi kanvas yang unik.

2. Edgar Muller (kunjungi situs nya dan bersiaplah terkejut! Klik)

Seorang expert di bidang melukis di jalanan. Ya. Kanvas Edgar adalah jalan raya pada umumnya. Tak ada yang spesial dari jalan raya yang biasa kita lalui. Yang membedakannya adalah kualitas sang seniman. Takjub!

Percayalah. Gambar di atas adalah tidak benar adanya. Tidak ada sungai di tengah kota. Pria dan anjing di tengah jurang itu pun sebenarnya sedang tidak di ambang kejatuhan. Edgar hanya “memainkan” ilusi optik melalui karya spektakuler nya di jalan raya. Ya! Semua adalah lukisan!

Berhati-hatilah kalau berjalan. Jangan sampai anda terjatuh ke dasar jurang es! (Ilusi optik lainnya karya Edgar Muller).

3. Andres Amador (lihat situs nya disini).

Seorang seniman luar biasa yang melihat pasir di pantai sebagai kanvas nya! Sangat indah dan luar biasa!

4. Eric Grohe (lihat karya fantastis nya disini!)

Apakah anda melihat niagara di sana? Hm. Mungkin anda salah. Sebenarnya, tidak pernah ada Niagara di situ. Itu hanya kanvas milik Eric Grohe! Dinding dibawah adalah sebelum dilukis.

 

Jadi, apa kanvas mu?

Saya pribadi masih menikmati kanvas digital di media komputer. Pendekatan tiap karya di media-media tersebut dapat dipastikan selalu diawali sketsa kasar terlebih dahulu. Yang membedakannya adalah, di media apa kita akan berkarya? Dan sentuhan akhir macam apa yang ingin kita taruh di kanvas kita? Entah cat akrilik, pensil warna, cat air, cat tembok, kapur, sampai pasir sekalipun, semua hanya menunjukkan betapa kreatif nya manusia!

Sesuatu untuk direnungkan :

“Kalau manusia yang terbatas saja bisa sedemikian mengagumkan dalam kreatifitasnya.

Bagaimana dengan Pencipta manusia? Seberapa kreatifnya Sang Pencipta segala sesuatu?”