Daily Spitpaint – January 2nd, 2019

2 Jan 19_compile

Mencoba menggunakan waktu yang ada dengan melatih speed painting untuk Facebook grup “Daily Spitpaint.” Topik yang dipilih: “Ruined Cathedral” dan “Monster’s Snack.”

Masing-masing gambar dibuat dalam waktu 30 menit. Latihan yang bagus untuk memaksa diri tidak terjebak di detil, tetapi fokus pada mood, layout keseluruhan, komposisi, story telling, dan sekaligus latihan warna.

Advertisements

Daily Spitpaint – Unfinished Puzzle

DailySpitpaint_25Des2018

Belakangan saya merasa perlu untuk kembali melatih ‘digital speedpainting’ saya. Dan Facebook group “daily spitpaint” menyediakan wadah ini. Peraturan yang dibuat cukup ketat dan menantang:

  • Menggambar harus dalam waktu yang telah ditentukan – 30 menit,
  • Memilih satu tema yang tersedia (ada 4 opsi),
  • Tidak diperbolehkan menggunakan foto tekstur dari manapun, termasuk Photo-sampled.
  • Tapi texture brushes, masih diijinkan.

Video timelapse proses pengerjaannya ada di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=WKNTrToyC44

Terimakasih sudah berkunjung! Tetap berkarya, tetap positif!

Dunia Sophie

Saya dan istri sepakat untuk berkolaborasi.

Dia gemar membaca novel. Saya gemar menggambar.

Tugasnya sederhana. Memenuhi keinginannya atas visual dan imajinasi dari novel yang ia baca, dan saya yang harus menerjemahkannya dalam wujud digital painting atau ilustrasi.

Dunia Sophie, karya Jostein Gaarder ini, memiliki kisah yang penuh dengan elemen filosofis, serta memainkan daya nalar dan psikologis para pembacanya. Saya sendiri bingung dibuatnya. Tapi, yang penting, istri saya menyukainya! Dan tugas saya adalah untuk menghadirkan sedikit visual dari Dunia Sophie ini. Enjoy!

DuniaSophie_ilustrasi_1_V2

Inktober 2018 Summary

Inktober 2018 menjadi sebuah kesempatan buat saya untuk mengejar konsistensi dan berlatih menggambar environment/ layout/ background. Sebuah tema yang menurut saya amat sulit, sehingga saya harus terus belajar dan mencoba pendekatan-pendekatan baru, baik manual drawing atau sketsa digital. Berikut hasilnya! Enjoy!

Break the Routine

Saya adalah seorang yang menikmati adanya rutinitas dalam keseharian saya. Bangun pagi, mengantar istri ke stasiun, lalu segera pulang untuk memandikan anak saya atau setidaknya mengajaknya berjemur sekaligus jalan pagi.

Tapi, hari ini, saya mencoba menyisipkan satu aktivitas lain di pagi hari sebelum kembali ke rumah. Saya sarapan di luar rumah. Nasi uduk khas Betawi.

Bukan hal istimewa, tapi, adalah menarik bagi saya untuk sedikit keluar dari rutinitas dan pola yang sudah biasa tiap harinya. Saya jadi dapat melihat situasi jalan raya di pagi hari. Saya bisa mengamati aktivitas penjual nasi uduk yang makin siang akan semakin ramai dikunjungi pembeli.

Break_Routine1

Mengutip sebuah artikel mengenai ‘break the routine‘, yang berbunyi:

“Kadang-kadang melanggar rutinitas Anda bisa sangat penting. Terkadang kehidupan, energi, dan kreativitas justru ditemukan di luar rutinitas Anda yang biasa. (sumber)

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini!

Finished Not Perfect

Dalam perjalanan karir saya di bidang kreatif selama kurang lebih 7 tahun (2011 – hingga kini) – sebagai ilustrator dan concept artist, berbagai ilmu, inspirasi dan pembelajaran telah membentuk cara saya menghadapi sebuah persoalan dan penyelesaian terhadap sebuah masalah. Khususnya terkait dunia kreatif – desain, art, dan sejenisnya.

Para ilustrator dan concept artist dari belahan dunia lain, misalnya, telah mampu menjadi “mentor dunia maya” bagi saya, bukan karena saya telah mendaftar kelas online atau sekolah mereka, tetapi, karena akses yang kian mudah di zaman digital ini melalui Youtube, maka, saya dengan mudah dapat menyerap segala ilmu, prinsip, paradigma, dan filosofi yang mereka bagikan.

FUNFACTS: Saya belajar otodidak mengenai digital painting, concept art, dan ilustrasi. Karena saya lulusan desain interior, tentu hal-hal tersebut tidak pernah ada di mata kuliah manapun. 

Salah satu artist internasional yang menjadi inspirasi saya adalah Jake Parker (website), seorang ilustrator asal Amerika, yang juga kreator dari berbagai art challenge yang telah mendunia, salah satunya Inktober (website). Inktober adalah sebuah art challenge bersifat internasional yang mengharuskan tiap pesertanya menghasilkan sebuah karya setiap hari di bulan Oktober. 31 hari. 31 gambar sketsa menggunakan tinta (ink). Lalu mempostingnya di sosial media dengan tagar Inktober.

Dalam sebuah video di channel Youtube miliknya (link), ia membagikan salah satu prinsip atau filosofinya dalam mengarungi karir kreatif, di bidang ilustrasi (komik, buku anak, dan grafik novel).

Ia menamakannya: “Finished Not Perfect.”

 

Harus saya akui, filosofi sederhana itu telah membantu saya dalam berkarya akhir-akhir ini. Sudah bukan rahasia lagi, salah satu keunggulan yang juga kelemahan seorang artist atau desainer adalah adanya sikap perfeksionis yang kental dalam dirinya. Atau sikap mengejar hasil akhir yang sempurna. Perfect!

Perfeksionis bukanlah suatu kesalahan atau hal yang buruk. Tetapi, jika berbicara soal karir di industri kreatif – animasi, film, video game, dll – selalu memiliki yang namanya deadline atau tenggat waktu/ batas akhir sebuah proses produksi hingga sebuah karya dapat dirilis/ diterbitkan ke publik.

Deadline itulah yang mau tidak mau, menuntut para kaum kreatif tadi untuk memenuhi target yang harus dicapai dalam waktu tertentu. Alias, tidak bisa berkarya seenaknya saja, tanpa batasan waktu. Itu adalah hal mustahil dalam industri ini.

Menurut Jake, bukanlah hal utama untuk menghasilkan karya yang sempurna, tetapi tidak tuntas. Karena, yang lebih penting adalah kemampuan seorang artist untuk memulai dan menyelesaikan sebuah karya/ project hingga tuntas. Karena pada akhirnya, sesempurna apapun karya, kita tetap selalu tidak puas dan menemukan kekurangan dari karya tersebut. Hal itu terjadi, karena seiring waktu, kita semakin berkembang menjadi baik juga.

Jika kita menjadi takut melangkah karena rasa takut akan menghasilkan karya yang tidak sempurna, justru hal ini telah membatasi perkembangan seorang artist.  Jika ia menunggu timing terbaik, cara terbaik, kesempatan terbaik, style terbaik, atau metode terbaik untuk menghasilkan sesuatu, maka yang terjadi adalah ia tidak akan pernah melakukan dan menyelesaikan apapun itu!

Saya pribadi yakin, prinsip ini pun relevan diterapkan di berbagai aspek kehidupan lainnya.

Go out and do it!

Prinsip sederhana lainnya. Pergi keluar, eksplorasi dunia, dan lakukanlah! Mulai saja. Kejarlah apa yang ingin kamu lakukan. Entah itu membuat personal project seperti komik, grafik novel, bekerja di industri animasi, membuat lore fantasi di dunia buatan sendiri. Apapun itu, just do it. 

Bagi saya sendiri, kedua prinsip di atas sangatlah relevan. Bahkan saya tengah berjuang melakukannya. Saya sedang berusaha menyelesaikan dengan tuntas art challenge Inktober 2018 di tengah rutinitas kesibukan pekerjaan di kantor dan membagi waktu dengan keluarga terkasih. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah mencapai hari ke-24 dari total 31 hari di bulan Oktober. Harus semangat!

Harus saya akui. Betapa sering saya merasa tidak puas dengan karya-karya saya. Tapi ini bukan tentang mengejar kesempurnaan. Tetapi lebih utama adalah belajar konsisten dalam menuntaskan sebuah project. Menikmati proses. Memulai dan menuntaskannya. Belajar konsisten.

Akhir kata, mengutip kata Jake. Salah satu kunci sukses untuk menjadi seorang artist yang luar biasa adalah kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu. Bukan hanya memulai sesuatu. Finished not perfect.

Terimakasih telah membaca!

Selamat memulai sesuatu dan menyelesaikannya!