Dunia anak: Ekspresi dan Kebebasan

Menjadi orang tua yang berusaha menemani anak saat bermain dan melatih kemampuan motoriknya dengan menggambar dan mewarnai, mengajarkan saya suatu hal yang baru dan menyenangkan.

Hal itu adalah kebebasan dalam berekspresi. Saat melihat anak mencorat coret dengan bebas di kertas yang sudah disediakan, dia sama sekali tidak takut salah, tidak kenal batasan, tidak ada apapun yang menghalanginya dalam menuangkan kreativitasnya.

Intinya, bebas. Tak ada batasan. Tak kenal aturan.

Hal ini amat berlawanan dengan profesi saya. Sebagai orang yang harus mampu menyediakan konsep dan desain untuk kebutuhan industri animasi, saya dituntut bekerja menghasilkan karya yang memiliki aturannya tersendiri, seperti deadline tertentu, belum lagi ilmu dan pengetahuan dasar bagi seorang artist yang harus diperhatikan seperti kerapihan garis, perspektif, komposisi, appealing design, dll.

Tapi, dengan sejenak memasuki dunia kebebasan anak-anak dalam berkarya, kembali membantu saya untuk refresh, relax, santai, bebas, dan hanya menikmati kesenangan dari aktivitas menuangkan corat coret liar itu.

Ini bukan tentang selalu menghasilkan masterpiece, tapi ini tentang menikmati perjalanan menjadi seorang kreatif dalam berkarya. Layaknya seorang anak yang lugu dan polos. Yang hanya mau menuangkan apa yang ia rasakan, dengan cara yang ia suka, tanpa batasan, tanpa segala kerumitan aturan.

Belajar dari ekspresi bebas seorang anak. Sebuah inspirasi tak ternilai dalam kehidupan.

Kerapihan rumah vs eksplorasi anak

Sejak memiliki anak, banyak perubahan terjadi dalam hidup keluarga saya. Mulai dari pengembangan habit-habit baru, penetapan skala prioritas, hingga detil-detil kecil semacam perubahan layout rumah dan kompromi terhadap kerapihan rumah.

Sebagai alumni desain interior – meski dalam pekerjaan, tidak terlalu banyak berkecimpung lagi di dalamnya – , maka, keinginan untuk memiliki interior rumah yang rapi, clean, estetis, dan terkonsep, tentu masih ada – meski kadarnya sudah kian kecil.

Tetapi, belakangan, saya pun berlatih banyak soal kompromi terhadap aspek kerapihan ini. Kehadiran sang buah hati telah mengubahnya. Kehadiran anak di rumah kami telah mewarnai hidup kami, sekaligus telah membukakan mata saya mengenai apa value yang keluarga saya ingin utamakan – di fase tumbuh kembang anak kami.

Yaitu aspek safety (keamanan bagi si anak lebih utama), explorable (masih tetap rapih, tetapi bukan berarti super kaku, tetapi memberi kebebasan bagi si anak untuk menjelajah, bermain dan bereksperimen), dan juga siap kotor (misal, karena aktivitas karya seni, melukis, dll, tak sengaja dinding dicorat-coret, lantai kotor, dll).

Source: link

Bukan dalam artian negatif, tetapi justru, saya dan istri tengah belajar menyediakan suatu environment tempat tumbuh si anak yang ‘sehat’ dan ‘siap’ untuk di-explore, berantakin, di-semrawut-in, dan cenderung tidak terlalu fokus di keindahan lagi.

Lagipula, keindahan rumah masih bisa diusahakan lagi, sementara, momen krusial perkembangan dan pertumbuhan anak saat ia bermain, belajar, eksperimen dan bereksplorasi, tidak selamanya ada. Cepat atau lambat, ia akan tumbuh semakin besar dan meninggalkan rumah ini. Momen itulah yang tak ternilai harganya.

Tentu kami tetap mendorong dan mendidik dia untuk ikut menjaga kebersihan rumah, buang sampah pada tempatnya, mengembalikan mainan ke rak asalnya, dan berbagai disiplin lainnya. Tapi, karena fokus keluarga kami ‘tidak lagi’ mengutamakan keindahan di atas segalanya, maka, kompromi pun sudah kami lakukan sedikit demi sedikit.

Yang menarik, justru dengan aktivitas beres-beres pasca bermain dan bereksperimen, bisa membuat hubungan orang tua dan anak kian dekat, karena dilakukan bersama-sama sambil menanamkan value-value kehidupan. Semoga apa yang kami upayakan ini, bisa berguna bagi kehidupannya kelak.

 

 

 

Pentingnya Komunitas

Sebuah quote berikut, mengawali tulisan saya,

“Alone, we can do so little; together, we can do so much” – Helen Keller.

Perkataan singkat ini cukup bagi saya menangkap esensi dari pentingnya sebuah kelompok orang-orang yang memiliki satu arah, visi, tujuan, dan kesamaan, yang dikenal dengan istilah komunitas (community).

Sebagai seorang introvert level atas, dahulu, saya tidak menyadari betapa penting dan krusialnya peran sebuah komunitas dalam kehidupan seorang individu. Pada akhirnya, kita harus sadar, tiap kita – manusia, adalah makhluk sosial. Tidak pernah bisa hidup sendiri.

Maka, hadirlah berbagai jenis komunitas di dalam hidup tiap kita. Mulai dari komunitas terdekat dan terkecil, yaitu keluarga, lalu memasuki dunia sekolah, pekerjaan, dan terjun ke tengah masyarakat. Kita semua membutuhkan komunitas. Komunitas yang bisa menjadi sarana dan wadah untuk sama-sama tumbuh, berkembang, belajar, dan  sekaligus sebuah kesempatan berkontribusi (meski kecil) untuk memberi pengaruh dan dampak yang positif pada sekitar kita.

images (1)

Tapi, dalam perjalanannya, kita menyadari, bahwa kita tidak bisa ‘masuk’ dan ‘menyatu’ dengan sembarangan komunitas. Semua komunitas memiliki arah, visi, misi dan tujuan masing-masing yang unik dan berbeda. Tinggal bagaimana cermat dan bijaknya kita dalam memilih, menyeleksi dan memutuskan mau terlibat ke komunitas seperti apa, yang kemudian akan mempengaruhi perkembangan diri kita ke depannya.

Baru-baru ini, saya sedang bersemangat bersama rekan-rekan alumni yang berasal dari latar belakang berbeda, disiplin ilmu dan profesi berbeda, mengembangkan sebuah komunitas kreatif. Isinya adalah orang-orang muda yang ingin belajar dan bertumbuh bersama, dalam hal karakter, skill, dan pengetahuan soal dunia kreatif (entah itu membahas desain, cinematography, film, musik, atau lainnya).

Semoga komunitas ini, yang diawali dengan tujuan baik – yaitu berkolaborasi melalui kreativitas, untuk memberi impact positif ke tengah masyarakat – dapat berjalan konsisten, berkelanjutan, dan memberi growth yang baik bagi tiap individu di dalamnya.

Reflect. Create. Impact

Akhirnya, saya memberanikan diri membagikan perjalanan saya dalam berlatih membuat video dan konten, dengan merilis akun Youtube saya (link disini).

Motivasi utamanya adalah untuk mendorong saya agar terus berusaha menghasilkan sesuatu (berupa video dan konten), yang semoga dari waktu ke waktu, dapat kian meningkat kualitasnya, baik dari pesan yang dibagikan, dan soal teknik dan ilmu videography. 

Saya banyak terinspirasi dari sebuah channel Youtube bernama “New Age Creator” (link). Sebuah channel video yang dibuat oleh lima orang pembuat konten, yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka komit untuk membagikan video dan pesan yang unik dari tiap orang. Sekaligus menjadi wadah belajar videomaking dan berbagi value kehidupan.

Membuat video memang menarik. Karena, jenis konten ini mampu mencakup semua hal, seperti gambar, suara, gerakan, animasi, grafis, text, sesuai mood yang ingin disampaikan kepada audience.

Mengenai slogan ‘Reflect. Create. Impact’, saya ingin menjadikan channel ini menjadi sarana saya merefleksikan pemikiran dan ide saya, lalu dituangkan dalam wujud karya, yang (semoga) bisa memberi impact positif bagi tiap orang yang berkunjung di channel saya.

Saya masih terus belajar dan semoga bisa konsisten. Semangat!

Musik, Drum dan Berkarya

Meski blog ini bernama ‘artblog’, tapi, bagi saya, musik juga merupakan elemen penting dalam proses saya berkarya. Musik tidak bisa lepas dari hidup saya.

Sempat belajar alat musik bernama drum dan menjadi ‘anak band’ di era sekolah dulu, juga sempat 2.5 tahun terlibat di sebuah pelayanan gereja, membuat saya memang menjadikan musik, bukan hanya hobi, tetapi juga inspirasi, penghilang stres dan mood booster.

Begitu pun setelah berkarir sebagai digital artist/ illustrator. Spotify siap dengan daftar  playlist buatan, siap menemani selama saya memutar otak menghasilkan ide, konsep, dan desain-desain (entah di kantor, maupun rumah).

FUNFACTS: Karena kesibukan dan ketidakmampuan membeli drum set 1:1, saya bersyukur menemukan berbagai apps drum menarik dari smartphone. Dan itu cukup untuk mengobati kerinduan saya akan bermain musik, meski kali ini, tidak pernah terlibat lagi dalam sebuah band apapun.

Beberapa apps yang pernah saya mainkan (bahkan membantu saya saat harus latihan drum dari rumah, sebelum perform)

hqdefault

Real drum

images

Drum kits (classic & metal version)

FF VII Food Truck art collab!

Dengan antusias saya membagikan update terbaru ini. Yaitu sebuah kolaborasi menarik oleh saya dan Erick Sambora (portfolionya). Ia adalah rekan ilustrator, dan concept artist berbakat dengan style yang unik dan menonjol. Kami bekerja di studio yang sama hingga kini, sebagai environment concept artist.

Bermula dari kesamaan minat kami soal video game, playstation, dan Final Fantasy VII (game RPG produksi 1997 oleh Squaresoft – dulu, sebelum menjadi Square Enix), maka, kami sepakat melakukan kolaborasi untuk food truck hari ke-55 dari challenge Draw100somethings yang saya lakukan.

Sketsa oleh saya, dan pewarnaan dengan teknik 2D olehnya.

Gara-gara kolaborasi ini, keinginan bernostalgia memainkan game lawas macam FF7 pun tak terelakkan. Sebuah game yang akan selalu dikenang. Dan bukan suatu kebetulan. dalam waktu dekatpun, PS4 (konsol next-gen saat ini) bersiap merilis Final Fantasy VII Remake.

FF7_foodtruck_ColorFF7_foodtruck_TruckonlyFF7_foodtruck_Sketch

Connection before Correction

Baru-baru ini, saya berdiskusi dengan istri mengenai satu prinsip penting yang tanpa sadar, mungkin telah saya abaikan dalam relasi saya sehari-hari. Connection before correction.

Mudah untuk menegur, mengkritik, dan tergesa-gesa dalam menilai seseorang, entah itu pasangan, anak, rekan kerja, orang yang dimentor, sampai artis-artis di surat kabar, karena suatu kesalahan yang telah mereka lakukan. Kecenderungan kita tentu mudah terbawa dengan penggiringan opini yang terjadi nyaris tiap hari, tentang banyak topik, melalui berbagai media.

Mengkoreksi adalah tindakan yang menyatakan secara tidak langsung, bahwa, kita ‘lebih baik’ dari yang dikoreksi. Meski terkesan benar dan positif, tetapi, koreksi bisa jadi malah mempertegas kesan bahwa kita lebih pintar, lebih benar, lebih saleh, lebih dan lebih lainnya.

Apakah benar demikian? Apakah benar kita lebih unggul dari yang lain?

Yang lebih parah, kita menyampaikan koreksi kepada seseorang, tanpa terlebih dahulu mengedepankan faktor hubungan. Kita bahkan belum benar-benar connect dengan orang yang kita tegur. Tentu saja, orang tersebut cenderung akan defensif, tertutup, terganggu, dan menolak koreksi kita (meskipun positif, ada benarnya, dan konstruktif).

Semua dikarenakan hanya terlalu fokus mengkoreksi tanpa terlebih dulu membangun koneksi/ hubungan/ relasi (batin, hati, jiwa) dengan orang tersebut.

Bagi saya pribadi, prinsip connection before correction begitu penting dan dapat diterapkan di segala aspek dalam hubungan kita sehari-hari. Intinya, prinsip ini kembali mengingatkan manusia, untuk tidak lupa memanusiakan sesama manusia dalam hubungannya.

Jangan hanya tentang target-target. Espektasi. Goal. Objective. To-do-list. Program.

Harus berlatih lagi prinsip ini. Tidak boleh mengabaikan sisi kemanusiaan seseorang. Apa yang dipikirkannya. Apa perasaannya. Apa yang jadi keinginannya. Apa latar belakang kisahnya, dan sebagainya.

Selamat mencoba prinsip connection before correction!

connection before correction