Komparasi

Komparasi atau membanding-bandingkan, merupakan suatu hal yang sering terjadi di antara hubungan sesama manusia. Entahkah orang muda, orang tua, laki-laki, atau perempuan, semua ‘rentan dan gampang tergoda’ untuk melakukannya.

Apakah komparasi atau membanding-bandingkan berarti salah dan berdosa?

Terlalu jauh jika kita terburu-buru menilainya demikian. Tetapi, sejauh pengamatan saya selama ini, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, seringkali malah mengarah ke hal negatif dan bukannya membangun (konstruktif). Tetapi ini kembali pada tiap individu dalam menyikapi kebiasaan komparasi ini.

Jika komparasi dengan orang lain menjadi amunisi bagi seseorang untuk berkembang dan berusaha agar menjadi lebih baik, maka, ini masuk dalam kategori positif. Tapi, jika komparasi yang dilakukan justru membuat seseorang merasa selalu kurang, minder, tidak melihat hal baik dalam diri, dan sulit bersyukur, maka, ini sudah menjadi hal negatif dalam hidup seseorang.

Komparasi sendiri banyak saya dengar dari berbagai topik pembicaraan sehari-hari, di segala tingkatan usia, dan di segala fase kehidupan. Tanpa sadar, habit ini bahkan sudah dimulai sejak usia dini di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, seorang anak yang tinggal di sebuah komplek perumahan, menyadari bahwa tetangganya sudah punya suatu fasilitas (mainan/ handphone/ kendaraan) yang baru, dimana ia tidak memilikinya. Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang “lebih punya”, akan menimbulkan rasa iri, cemburu, dan mulai tidak bersyukur. Dengan segera, si anak tadi mendatangi orang tuanya, dan mengadukan soal “betapa ia menginginkan apa yang tetangganya miliki.” Sang orang tua pun jika tidak cukup bijak, akan segera memenuhinya, demi supaya menghentikan kerewelan anaknya. Padahal yang sebenarnya, jika anak itu – di usia mudanya – sudah memiliki fasilitas tadi, ternyata malah tidak baik dan membahayakan. Ini hanya satu contoh.

Di dunia pekerjaan juga tidak berbeda. Menjadi tidak penting seberapa besar gaji Anda,  jikalau kita selalu membandingkan apa yang sudah kita terima dengan orang lain yang (ternyata) “lebih” dari kita. Baik itu gaji, fasilitas, kesempatan, dan lainnya. Kita akan merasa diri “selalu kurang” dan lupa bahwa sebenarnya apa yang kita sudah terima, kita miliki ini adalah sebuah kebaikan demi kebaikan yang datangnya dari Atas.

Sebagai orang tua bagi putri saya yang berusia 14 bulan, Tabitha, saya juga terus belajar mengenai hal ini. Bagaimana bisa menjaga hati dan motivasi yang benar agar tidak terjerumus ke dalam habit ‘membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain’. Hidup bertetangga misalnya, dengan mudah kita bisa mengetahui perkembangan apa saja yang anak tetangga sudah lewati, sementara anak kita belum. Atau justru jatuh ke dalam kesombongan yang tidak penting karena mengetahui anak sendiri sudah unggul dalam hal motorik dari anak orang lain. Dan seterusnya.

Mengapa membandingkan?

Mengapa hal ini menjadi lumrah di kehidupan antar manusia?

Apakah hal ini sehat atau justru kontra-produktif?

Di sebuah pertemuan ibu-ibu, yang sudah memiliki cucu, mereka berbagi kisah dan update kehidupan mereka. Satu topik yang ‘tak terhindarkan untuk dibahas’ adalah update cucu-cucu mereka. “Hai, Jeng, cucumu sudah bisa apa?”, atau “Eh, cucuku sudah makin pinter deh, dia sudah bisa lari, padahal usia baru X bulan. Kalau cucumu sudah bisa apa?”, dan seterusnya.

Tidaklah salah jika kita ingin berbangga dan mensyukuri tiap perkembangan anak/ cucu/ orang yang kita sayangi. Tetapi, mulai menjadi sesuatu yang berbahaya, jikalau ini digunakan untuk meninggikan diri atau merasa diri lebih dari orang lain.

Sebagai seorang pekerja kreatif di negara yang sedang berkembang industri kreatifnya, saya juga tidak luput dari jebakan ‘komparasi’ ini. Bagaimana dengan mudahnya saya merasa tidak bisa mengejar pencapaian (kualitas, karya, teknik, teknologi, kesempatan-kesempatan) pekerja-pekerja kreatif di negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang memang sudah lebih unggul dalam kemajuan industri kreatif nya (animasi, theme park, dan video game) dibandingkan Indonesia.

Tapi, jika saya hanya berkubang dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa minder hingga tidak bersyukur dan tidak melakukan sesuatu, maka  segala hal menjadi tidak berguna. Menjadi sia-sia.

Daripada mengambil sisi negatif dari suatu komparasi, lebih baik fokus di hal positif. “Bagaimana aku bisa belajar dari orang ini agar bisa menggambar lebih baik?, “Wah, artist ini sudah begitu menguasai teknik ini, bagaimana cara agar aku bisa mengikuti caranya untuk perbaikan karya-karyaku berikutnya?”, dan seterusnya.

Komparasi, membanding-bandingkan, dan ‘melihat rumput tetangga yang lebih hijau’ tidaklah salah. Tetapi, bagaimana bisa tetap sadar bahwa apa yang sudah kita terima dan miliki, sesungguhnya merupakan suatu kebaikan Tuhan dan bekal untuk kita berkembang menjadi lebih baik. Dan mampu menyerap, belajar, dan memperbaiki diri setelah melihat orang-orang hebat di luar sana. Bukannya malah menjadi minder, malas berbuat sesuatu, pasrah, menyerah sebelum berperang, tidak bersyukur dan memupuk iri hati.

Selamat menyerap inspirasi dari segala hal, dan menggunakannya untuk membawa diri menuju level yang lebih tinggi! Thanks for visiting, friends!

ilustrasi komparasi

Advertisements

Look and feel illustration for Flower of Destiny the Musical

Saya merasa beruntung dan bersyukur bisa mendapat kepercayaan menjadi schenographer sekaligus set designer untuk karya teater musikal perdana tempat saya berkarya, PT. Puncak Keemasan Dunamis Indonesia yaitu Flower of Destiny the Musical yang baru saja pentas pada 7 September 2018 lalu di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Sebuah pengalaman berharga dan banyak kesempatan belajar selama prosesnya. Dengan tidak adanya pengalaman sama sekali di bidang musikal teater, dan juga show performance apapun, saya harus belajar dari semua sumber yang ada. Belajar dari bagaimana Disney mengatur visual shownya agar indah dan menarik, belajar dari Broadway bagaimana menata komposisi sebuah stage, dan seterusnya. Wow. Belajar dan belajar banyak hal baru. Such a fun journey!

Alhasil, selama 3 bulan di awal pembuatan set dan mood Flower of Destiny, saya coba menyediakan mood atau tampilan visual yang diharapkan saat pementasan nanti. Dan berikut adalah konsep visual yang kemudian diterjemahkan dengan sangat baik oleh tim stage dan lighting director. Meski terdapat sedikit perubahan di saat pementasan, misalnya di-take-out nya sejumlah props, tapi semua tetap dalam satu nuansa yang tidak jauh berbeda dari konsep awal. Sebuah kolaborasi yang mengasyikkan. Semua yang terlibat adalah talenta-talenta muda berbakat Indonesia. Sama-sama belajar hal baru demi tujuan yang sama: mengasilkan sebuah tontonan berkelas, indah dan memiliki pesan mendalam yang positif bagi seluruh penikmat seni teater dan musik di Indonesia.

Semoga pengalaman ini menjadi modal untuk terus berkembang dalam aspek desain dalam industri hiburan di Indonesia! Enjoy.

FodSinopsis cerita:

Selamat datang di Kerajaan Destindra!

Sang pewaris tunggal Destindra, Putri Aquilla, tumbuh dalam lingkup istana yang sarat berbagai aturan dan tata cara. Menjadi ratu pertama Destindra adalah suratan takdirnya. Kendati demikian, jiwa sang putri tidak dapat mengingkari hasratnya yang rindu akan kebebasan dan petualangan.

“Menjadi cahaya Destindra adalah suratan takdirmu… memimpin bangsamu ialah kehormatan di pundakmu…”, pesan ayahnya, Sang Raja Agung. Beliau mengajarkan Aquilla bahwa cahaya sejati yang bersinar dari dalam hati takkan pernah bisa dikalahkan kilau harta dunia. Kesempurnaan dan ketenangan hati Putri Aquilla terusik kala kekuatan dari kegelapan menyusup dan menggoncang seluruh Destindra, menghabisi setiap pancaran jiwa rakyat!

Akankah Sang Cahaya Destindra, Putri Aquilla, mampu mengalahkan kegelapan? Inikah akhir dari Destindra?

 

scene_1_ratu_melahirkanScene pertama. Saat sang Ratu menyerahkan putri yang baru dilahirkannya kepada sang Raja. Momen pembukaan yang mengharukan!

 

scene_2_raja_dan_aquillaScene kedua. Aquilla, sang putri Raja, sudah beranjak dewasa. Sang Raja memperkenalkannya pada bunga abadi. Makna mendalam akan arti keindahan sejati yang tidak diukur dari tampak luarnya, tapi dari dalam diri seseorang.

 

scene_3_funeralScene ketika Raja telah wafat di medan perang dan dimakamkan. Konsep semula adalah adanya penggunaan props peti di tengah panggung, tapi kemudian, mengalami perubahan.

 

scene_4_Aquilla melarikan diriMomen yang tidak mudah bagi Aquilla, yang baru saja ditinggal sang ayah, dan kini, mendapat banyak cibiran bernada pesimistis akan kepemimpinannya di Kerajaan Destindra. Ia pun memutuskan lari dari semua tekanan ini.

 

scene_7_Aquilla beradaptasiAquilla pun tiba di pusat perkotaan, di area pasar. Banyak hal baru yang ia temui, seperti suasana yang berbeda, lebih hidup, dinamis, berwarna, dan semarak. Tapi terutama karena keunikan dan kehangatan tiap warga Destindra yang ada.

 

scene_8_Belajar bertarungAdegan dimana Aquilla berjumpa Raka dan para orphans. Akibat kejadian di pasar yang kurang mengenakkan saat Aquilla digoda seorang pria mabuk, maka, Raka memutuskan mengajarinya ilmu bela diri.

 

scene_9_Romantisme_alt5Salah satu scene paling mengharukan dan penuh romantisme. Saat Raka dan Aquilla mulai tumbuh rasa saling menyukai satu sama lainnya. Tetapi, hanya sebatas angan-angan mereka saja.

 

IMG-20180906-WA0048Foto saat pementasan: Raka di atas atap panti asuhan, melamun, mulai jatuh hati pada Aquilla. Raka diperankan dengan sangat baik oleh William Wira.

 

scene_10_Aska mencari AquillaScene mencekam saat ditampilkan penjahat sebenarnya dari kisah ini, yaitu panglima tertinggi Kerajaan Destindra, yaitu Aska. Ia merencanakan sesuatu kejahatan untuk menguasai kerajaan dan membinasakan Aquilla.

 

IMG-20180906-WA0049Foto saat pementasan. Mood dan pencahayaan, dibuat sedekat mungkin dengan ide awal. Menambah kuat atmosfer antagonis dari karakter.

 

scene_11_Penduduk membatu_rev1
Scene ketika Aquilla mendapati para penduduk kota, termasuk anak-anak Orphans sudah menjadi batu akibat rencana biadab Aska yang menyebarkan batu bertuah ke seluruh penjuru kota.

 

scene_12_Final battle_rev1Aquilla dan Raka pun segera mendatangi istana yang telah dikuasai Aska. Pertarungan terakhir pun tak terhindarkan.

 

scene_13_EndingScene terakhir. Momen dramatis dimana cinta dan bunga abadi milik Aquilla yang mampu mengembalikan kondisi seperti sedia kala.

 

Jangan lupa untuk kunjungi dan follow Instagram @flowerofdestinythemusical, Akan banyak kejutan di depan! Semua demi kemajuan industri kreatif di Indonesia! Terimakasih sudah berkunjung!

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!

Gundala, Putra Petir, superhero asli Indonesia. Tidak kalah keren dari jagoan Marvel atau DC Comic!

Harus diakui, saya bukanlah kolektor atau pembaca setia komik superhero, entah itu Marvel, DC Comic, atau karya komikus Indonesia. Saya dulu malah lebih banyak membaca komik macam Doraemon, Detektif Conan, Detektif Kindaichi, dan tentu, Dragon Ball.

Tapi, belakangan ini, “serangan” bertubi-tubi tokoh superhero asal Amerika, datang silih berganti di layar bioskop kita, baik itu dari Marvel maupun DC. Semuanya begitu keren, begitu luar biasa, baik ceritanya maupun desain karakternya. Mereka berlomba-lomba merebut hati pasar Indonesia yang memang sudah pasti menggilai tiap karya mereka. Begitu pun saya. (Meski sejak ada baby, belum banyak lagi update film-film tersebut).

Sampai akhirnya, di bulan ini, rasa haus dan dahaga pecinta superhero akan dipuaskan dengan kehadiran sosok legendaris asli Indonesia. Dialah superhero lokal, Wiro Sableng, 212 warrior. Sebuah jawaban atas kerinduan masyarakat Indonesia untuk menyaksikan tayangan superhero lokal yang digarap dengan kualitas tinggi dan tidak kalah dari karya Hollywood. Must watch!

Tarik mundur jauh ke belakang. Ada satu sosok pahlawan asli Indonesia, yang diciptakan oleh almarhum Harya Suryaminata atau dikenal dengan nama Hasmi, yaitu Gundala Putra Petir (1969). Gundala diciptakan Hasmi menyusul populernya cerita pahlawan super di dunia komik pada tahun 1960-an. Ide kekuatan Gundala yang berupa petir menurut Hasmi didapat dari tokoh legenda Jawa Ki Ageng Sela yang diceritakan bisa menangkap petir. Sementara bentuk fisik Gundala sendiri mendapat inspirasi dari bentuk karakter The Flash ciptaan Gardner Fox dari DC Comics. (sumber: Wikipedia).

20161106184347_137

Berawal dari dirilisnya buku the Art of Wiro Sableng, 212 warrior, karya studio ilustrasi ternama Indonesia, Caravan studio, dimana ditampilkan berbagai konsep, sketsa, dan ilustrasi berkualitas dunia, dari proses pembuatan Wiro Sableng, dari awal hingga produksi. Yang semuanya dikerjakan oleh pemuda-pemudi asli Indonesia. Saya pun terinspirasi untuk “mencoba” bereksperimen dengan me-remake tokoh Gundala.

Saya mengandai-andaikan jikalau Gundala dibuatkan versi movienya, kurang lebih, seperti inilah tampilan yang bisa saya berikan (meski masih banyak kekurangan disana sini). Saya banyak mengacu pada konsep karakter dari Marvel Cinematic Universe (MCU), yang didesain oleh Andy Park (website) dan Ryan Meinerding (website). Dua artist milik studio Marvel yang karyanya sudah mendunia.

gundala_redesign_1

Saya iseng-iseng menggunakan wajah Iko Uwais sebagai model dan pemeran tokoh Gundala. Hm, apakah Gundala jadinya akan bertarung pencak silat juga? Kenapa tidak?

Yup, masih akan banyak belajar dari jago-jago gambar dari berbagai penjuru dunia. Tapi, satu yang pasti, Indonesia sudah dan sedang berjalan di track yang benar dalam meningkatkan industri kreatifnya. Memang, kita masih jauh ketinggalan dari Amerika dan Jepang. Tapi, lebih baik berusaha daripada menyerah sebelum bertanding bukan?

Terimakasih sudah membaca!

gundala_redesign_head

Keseimbangan Hidup

Pembelajaran dan refleksi diri saya belakangan ini adalah mengenai keseimbangan hidup.

Apakah saya sudah sungguh-sungguh berusaha mengejar keseimbangan hidup? Atau terjebak dalam rutinitas tanpa makna? Terlalu fokus di satu aspek hidup hingga mengabaikan, bahkan mengorbankan aspek hidup lainnya?

ilustrasi keseimbangan hidup

Saya terus berusaha menyeimbangkan tiap aspek kehidupan pribadi saya. Dan saya mendapati, saya masih amat kurang dalam banyak hal.

Aspek hubungan (menurut saya) memegang prioritas terpenting. Baik hubungan saya dengan Sang Pencipta, yang masih harus terus di-maintain meski sesibuk apapun, (karena ini pusat dan inti dari segala sesuatu), lalu hubungan dengan istri juga anak. Betapa penting dan krusialnya untuk selalu berusaha menyediakan waktu bagi mereka. Bukan waktu sisa, tapi quality time yang intim dan terbuka.

Baru-baru ini kami berdua (saya dan istri) sengaja mencari waktu nge-date berdua saja, agar jiwa, hati, dan pikiran ini kembali disegarkan dan disatukan setelah melalui bulan demi bulan tantangan di pekerjaan dan dunia parenting. Menyadari pentingnya hal ini, saya yakin, Tabitha pun kelak akan turut bahagia dan senang mendapati bapak dan ibunya terus mesra seiring pertumbuhannya.

Bermain dengan anak juga waktu yang amat penting. Bukan cuma “hadir secara fisik”, tapi juga “hadir secara hati, mental, dan jiwa”. Sungguh menikmati momen yang ada, meninggalkan sejenak distraksi akibat gadget dan hobi. Masih suatu yang menantang bagi saya.

Belum lagi kehidupan sosial. Bercengkrama dengan teman kantor (bukan melulu soal pekerjaan, tapi soal hidup, hobi, kesenangan, dll). Juga belajar hidup bertetangga. Terlibat dalam komunitas yang positif dan membangun. Sangat menarik untuk bisa sharing dan saling membantu satu sama lain sebagai makhluk sosial di tengah masyarakat yang beragam ini.

Dalam aspek pekerjaan, saya terus berusaha berkarya, berlatih, berkreasi, berimajinasi sesuai profesi saya sebagai concept artist (digital artist). Dalam aplikasinya, hal ini amat menuntut waktu, tenaga, dan pikiran agar karya yang dihasilkan semakin baik dan mampu menjadi solusi suatu permasalahan desain yang ada (baik di kantor maupun project pribadi). Tidak jarang saya jadi begadang karenanya.

Di tengah kesibukan pekerjaan, muncullah aspek kesehatan yang belakangan ini, saya terus coba beri porsi khusus. Yaitu dengan bermain ping pong rutin di jam istirahat kantor. Ping pong merupakan olahraga yang jika diseriusi, bisa menghasilkan keringat dan membakar kalori dalam jumlah yang lumayan besar. Saya cukup beruntung, kantor saya menyediakan fasilitas ini. Saya tinggal memaksimalkannya.

Betapa pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Di era yang serba cepat dan instant ini, semoga kita bisa makin bijak dalam membagi waktu yang ada, agar dapat memprioritaskan aspek hidup yang terpenting, sambil tetap menjaga aspek hidup lainnya, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Selamat mengejar keseimbangan hidup! Terimakasih telah mengunjungi artblog ini!

 

 

 

 

 

 

Hidup adalah anugerah

Sketch_4_3_2018_tribute_to_davide_astori

Di tiap malam weekend, seluruh penggila sepakbola di dunia tengah bersiap untuk menyaksikan tayangan pertandingan sepakbola klub favoritnya. Berbagai liga dunia, dari Liga Spanyol, Liga Inggris, sampai liga-liga eropa lainnya telah melangsungkan pertandingan-pertandingan yang menarik untuk disaksikan.

Salah satunya liga Italia Seri-A, salah satu liga terbaik di dunia ini juga turut menyelenggarakan pertandingan rutin seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, semua berjalan rutin, pertandingan besar, pertandingan reguler, semua tim bersiap untuk berusaha meraih hasil maksimal demi mengejar prestasi terbaik di musim kompetisi 2017/2018 ini.

Tapi, bak petir di siang bolong, sebuah kabar duka datang menyergap salah satu liga paling populer di dunia ini, saat dikabarkan oleh media setempat, bahwa kapten tim sekaligus pemain kunci tim bernama Fiorentina – salah satu klub besar di Liga Italia yang sempat memiliki penyerang terbaik dunia beberapa tahun lalu, yaitu Gabriel Batistuta –  yaitu Davide Astori (31 tahun), bek tangguh timnas Italia ini telah ditemukan tak bernyawa saat sedang tidur terlelap menjelang beberapa jam sebelum pertandingan melawan Udinese. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan serangan jantung.

Sontak saja, seluruh tim Fiorentina, dan terutama keluarga pasti shock dan terkejut dengan berita mendadak ini. Seorang atlit profesional yang pastinya bugar dan memiliki pola hidup sehat, ditemukan meninggal dunia saat sedang tidur? Seperti hal yang mustahil untuk terjadi, tapi memang demikianlah berita yang disampaikan.

Alhasil, jajaran petinggi organisasi yang mengatur jalannya pertandingan di Liga Italia Seri-A memutuskan untuk membatalkan semua jadwal pertandingan yang seharusnya digelar pada sabtu – senin ini, demi menghormati dan menunjukkan simpati dan belasungkawanya pada keluarga pemain, tim, dan seluruh pendukung. Sikap yang luar biasa, dan menunjukkan betapa sepakbola bukan sekadar tayangan hiburan, tetapi juga membuktikan betapa berharganya tiap individu yang terlibat di dunia sepakbola itu sendiri. Semua turut berduka. Semua turut bersedih atas tragedi mengejutkan ini.

Saya sendiri bukanlah pendukung Fiorentina. Saya Interisti (sebutan untuk pendukung klub Inter Milan) sejati sejak 1998 lalu. Tapi, rasa belasungkawa dan apresiasi pada almarhum Davide Astori patut ditunjukkan. Karena, dia tetaplah seorang manusia yang memiliki keluarga dan kehidupannya. Sketsa ini adalah ungkapan rasa belasungkawa saya pada beliau. Semoga inspirasinya melalui profesionalisme dan kualitas di lapangan tetap dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.

Pelajarannya: Hidup tidak pernah dalam kendali kita, manusia yang sangat lemah ini dan tak mampu memprediksi masa depan. Memang manusia bisa berusaha, merencana, dan membuat berbagai tujuan hidupnya.

Tapi, hidup yang kita miliki ini hanya anugerah dari Yang Maha Kuasa. Selagi mampu hidup, mari mengisi hari-hari yang ada dengan hal-hal yang positif, berpengaruh baik bagi sekitar, dan mampu membangun sesama dan lingkungan menjadi lebih baik.

Ciao Davide! Tuhan memberi kekuatan dan ketabahan bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.

Paramore fanart

Saya penggemar dari Paramore. Band yang digawangi oleh Hayley Williams (vokalis), Zac Farro (drummer) dan Taylor York (gitaris) ini, menyita perhatian saya beberapa tahun lalu dengan hits nya “Misery Business” ketika saya sedang bermain game Saints Row di PS3. Memang cara yang sedikit unik dan aneh bagaimana akhirnya saya mengikuti sepak terjang band ini hingga kini. Band yang sudah bergonta-ganti personil ini tetap terus berkarya meski kali ini, di album After Laughter nya, membawakan nuansa dan atmosfer musik yang berbeda dari album-album sebelumnya.

paramore combi illustration_2

 

Fan art ini dibuat untuk menyambut konser Paramore beberapa waktu lalu, yang sayangnya terpaksa dibatalkan, akibat sang vokalis terkena penyakit serius di tenggorokannya. Tapi, bagi saya, meski akhirnya belum kesampaian menonton konsernya, tapi mendisiplin diri untuk tetap menyelesaikan apa yang sudah dimulai bagi seorang concept artist/ illustrator adalah suatu keharusan.

Semoga Paramore segera datang lagi ke Indonesia dan kali ini bisa terselenggara dengan baik.