Color study from Movies

Belakangan ini saya sedang menikmati belajar speedpainting sambil melatih kepekaan saya akan warna dan pencahayaan dari cuplikan film-film box office. Akan mencoba konsisten melatih hal ini di sela-sela kesibukan rutinitas. Semoga bisa!

avatar_color_studythor_ragnarok_color_studyvenom_color_study

*saya memulai dengan riset cepat di Youtube, mencari scene film apapun yang keren dan memiliki pencahayaan yang menarik. Lalu, print screen cuplikan tersebut, kemudian masukkan hasil print screen itu ke Photoshop dan mulai menggambar cepat semua adegan film dengan alat gambar Wacom.

Advertisements

#artvsartist movement, April 2018

Pada april 2018, terdapat gerakan yang lumayan ‘booming’ di kalangan para seniman (artist) di berbagai belahan dunia, khususnya melalui dunia maya. Cukup menyertakan 8 karya pilihan, lalu letakkan foto selfie di tengah, dan jangan lupa ketik #artvsartist, maka anda telah resmi bergabung di gerakan “dadakan” ini.

tes

*melihat banyaknya karya dengan tema environment (background painting) yang pernah saya buat, membuktikan saya semakin mencintai bagian ini! Sesuatu yang sebelumnya hanya ada di luar imajinasi saya.

 

Saat cinta kami harus dipisahkan karena….. cacar air!

Sekitar 3 hari lalu, Dwi sudah menunjukkan gejalanya. Demam, batuk, pilek, dan diakhiri munculnya bentol-bentol di sekujur tubuh dan wajah. Saat dipastikan oleh dokter bahwa dia kena cacar air, berbagai cara pun kami lakukan agar kondisi rumah (khususnya karena ada baby) tetap steril dan meminimalisir penularan – kami memutuskan untuk tidak perlu opname, tapi menyediakan kamar di rumah untuknya tetap “terisolasi” dari lingkungan sekitar.

Meski saya sudah terkena cacar di waktu kecil, disarankan oleh dokter, tetap waspada dan jaga jarak terhadap pengidap cacar. Bahasa kami yang adalah quality time dan sentuhan pun harus disesuaikan karena penyakit ini. Huh!

Tidak mudah buat saya dan Tabitha, harus menjaga jarak dari orang yang begitu kami kasihi, istri dan ibu. Kami berjuang agar Dwi segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

ilustrasi gara-gara cacar airCacar! Segeralah pergi dari wanita yang kami kasihi ini! Biarkan dia sembuh dan kembali menikmati kebersamaan tiap hari bersama kami yang selalu mencintainya.

*NB: sketsa dibuat di jam istirahat makan siang. Hfft..

Perjalanan menjadi orang tua selama 7 bulan ini

Tak terasa, sudah 7 bulan kami diberi kepercayaan Tuhan menjadi orang tua bagi anak pertama kami, Tabitha. Bersyukur untuk semua ini!

Meski seharusnya hal ini bukanlah alasan mengapa saya tidak lagi sering mengupdate blog ini (baik lewat tulisan maupun gambar), tapi memang, kapasitas dalam membagi waktu keluarga dan pribadi (update blog) tetap begitu menantang untuk dijalani.

Tapi semoga ke depan, bisa mulai konsisten lagi mengupdate blog, meski hanya sesuatu yang sederhana.

Selama bulan-bulan tersebut, satu hal krusial yang menjadi poin penting dalam kami menjalankan peran sebagai orang tua (yang keduanya bekerja) dengan segala keberhasilan dan kegagalan – memang masih awal (menuju 5 tahun pernikahan dan anak yang usia 7 bulan), tapi sudah mencoba mengevaluasinya secara reguler – adalah betapa pentingnya arti komunikasi di antara sang suami dan istri tersebut.

Komunikasi ini meliputi segala hal, dari hal paling sederhana dalam kehidupan berkeluarga, sampai aspek penting dalam menentukan arah dan langkah ke depannya.

Kehadiran sang buah hati tidak boleh menjadi alasan ‘kurangnya kualitas hubungan dan komunikasi’ di antara suami dan istri. Jikalau anak diijinkan menjadi ‘sekat’ bagi hubungan yang seharusnya terus intens antara sang bapak dan ibu, maka, kalau saya amati, sebenarnya kita sedang menyiapkan bom waktu dalam kehidupan berumahtangga.

Kesediaan menyediakan waktu untuk mendengarkan, curhat, sharing, ngobrol, atau membagikan update masing-masing di tengah rutinitas bekerja sambil merawat dan mengasuh anak memang sangatlah menantang. Bersyukur ada orang tua istri yang juga membantu mengasuh anak.

Sangat menantang? Bagaimana tidak? Sudah lelah bekerja seharian, apakah masih ada kapasitas untuk sharing dan komunikasi? Belum lagi suara kita (orang dewasa) bisa membangunkan waktu tidur si anak. Jadi betapa langkanya kesempatan berkomunikasi bagi suami dan istri.

Namun, saat kami mulai menyepakati untuk tetap menyediakan waktu berkomunikasi (dari hal sepele sampai penting) setiap harinya, bisa di pagi hari saat menunggu kereta istri datang, atau di saat prime time di ruang tv (tanpa menghidupkan tv), maka bonding dan kesehatian di antara kami tetap terjaga – ini yang saya amati.

Membesarkan anak tidaklah mudah. Bukan pekerjaan satu pihak saja. Ini melibatkan kedua belah pihak, suami dan istri secara berkesinambungan, intens, kontinyu, dan tidak ada saling melempar tanggung jawab, ditambah anggota keluarga lain yang terlibat di dalamnya (orang tua, saudara, dll). Keberhasilan si anak, adalah keberhasilan kedua orang tua. Ini kerja sama. Ini aktivitas “saling”. Saling back-up, saling support, saling mengisi, saling menopang, saling mengingatkan, saling berbagi informasi berguna, dan saling-saling lainnya.

Jadi, dua poin utama ini: komunikasi dan kerja sama yang menjadi highlight saya dalam terus belajar menjalankan peran sebagai bapak dan suami di keluarga.

Oh, saya hampir melupakan satu poin lainnya yang tidak kalah penting. Justru (ternyata) ini yang paling penting. Hal itu adalah..

“Peran Tuhan sebagai Pusat di sebuah rumah tangga (keluarga).”

Apa maksudnya?

Saat dua orang dewasa, suami istri, yang penuh kelemahan dan kekurangan, yang jauh dari kata sempurna ini akan berusaha membesarkan seorang manusia baru, tentu tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil melakukannya. Bagaimana bisa menjadi penghasil manusia – bukan dimaksudkan sebagai pabrik produksi anak, tapi lebih pada seorang yang bertanggungjawab menghasilkan generasi muda berikutnya dalam kehidupan – yang baik jika pada dasarnya, sang suami dan istri adalah dua manusia yang juga sangat banyak kekurangan (kelalaian, kekurangsigapan, ketidakadaan pengalaman, egois, keras hati, cuek, dll)? Maka, disinilah maksud pentingnya menjadikan Tuhan Pusat dalam keluarga.

Semua dari Tuhan dan sesungguhnya dikaruniakan Tuhan.

Jadi, betapapun kesanggupan orang tua kelak dalam membesarkan anak, tidak ada celah untuk suami dan istri dalam meninggikan diri dan mengklaim, “keberhasilan ini adalah karena kehebatan/ kecakapan saya sebagai orang tua” dan seterusnya. Sikap ini bisa menjauhkan dan mengecilkan peran Tuhan yang (sesungguhnya) sangat besar dalam kehidupan keluarga, dan dalam pertumbuhan si anak. Dan ini adalah suatu sikap yang keliru.

Pada akhirnya, semoga keluarga ini bisa terus berjalan ke arah yang diinginkan Yang Maha Kuasa. Berperan di dunia ini sesuai apa yang digariskan-Nya, dan terutama, meninggalkan generasi penerus yang takut akan Tuhan dan mencintai sesama. Karena, betapa berbahagianya orang tua yang mengetahui bahwa anak-anaknya hidup dalam kebenaran.

Terimakasih sudah membaca!