Assassin’s Creed Fan Art painting

Saya bukan penggemar fanatik dari game karya Ubisoft ini. Saya sempat memainkan versi paling pertamanya, yaitu Assassin’s Creed beberapa tahun lalu. Tapi tidak sempat mengikuti atau selalu update dengan seri-seri terbarunya, apalagi seri Assasin’s Creed origin dan Odyssey.

Yang saya gemari dari game ini adalah kemampuan stealth dan parkour si jagoan utamanya yang hebat, yang saya yakini merupakan pioner dalam sebuah game action.

Lalu, hal yang selalu mengundang decak kagum saya adalah karya para concept artistnya dalam membuat visual konsep game tersebut. Dibuat dengan sangat baik, realistis, memadukan berbagai teknik dan ilmu digital art yang canggih dan efisien.

Maka, untuk menyambut rilisnya Assassin’s Creed Odyssey, saya mencoba membuat fan art painting dari seri ini. Belajar menerjemahkan mood, lighting, dan komposisi ke dalam satu environment painting. Thanks for visiting!

11 okt 1811 okt 18_BWBlack and white painting

This slideshow requires JavaScript.

Slideshow: step by step Assassin’s Creed fan art painting

Advertisements

Virtual plein air study 9 Oct 2018

9 okt 183158314407

Di studi kali ini, saya coba belajar beberapa hal:

  • komposisi
  • peletakkan focal point pada gambar (tampak pada gambar di bawah)
  • value hitam putih, dengan spot terang sebagai aksen
  • mengubah scene kompleks menjadi stylized

9 okt 18_flowSaya berusaha agar rumah tersebut menjadi focal point di gambar ini. Saya sengaja mengubah beberapa bentuk dari pohon dan objek sekitar, untuk mendukung upaya ini. Flow atau aliran pada keseluruhan layout, sengaja mengarah pada rumah putih tersebut. Ini adalah salah satu cara agar mata audience segera mengetahui apa dan dimana objek utama yang ingin ditonjolkan.

Diffused Neutral Light Study

Tiga hari terakhir, saya belajar bagaimana melukis (digital) image dan referensi foto maupun real life, dengan memperhatikan elemen pencahayaan yang sangat penting. Diffused Neutral Light.

Saya terinspirasi bagaimana artist ternama, ex-conceptor Disney Pixar, yaitu Robert Kondo dan Dice Tsutsumi (Tonko House studio) mampu menerjemahkan suatu scene yang kompleks (pencahayaan dan teknis lainnya), ke dalam suatu lukisan still life yang simpel, tapi tetap mampu menangkap mood, lengkap dengan diffused neutral light nya.

Alhasil inilah apa yang bisa saya hasilkan. Sebagai studi still life perdana lagi sejak masa kuliah 14 tahun lalu (yaiks!! Aku sudah semakin tua!), saya cukup puas. Karena ini bukan tentang hasil nya saja, apakah mirip atau mendekati hasil serealistis di foto referensi. Tapi terpenting adalah proses dan pembelajaran teknik yang jadi semakin kaya.

Studi 1 – Interior – Alat-alat baking di dapur

 

Studi 2 – Interior – Pojokan meja kantor

 

Studi 3 – Exterior – Cafe dari random internet photo

 

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!

Step by step : rework of Nicholas Koenig Muppets Treasure Island illustration

We had this assignment in May, our director gave all the trans studio staff to do this kind of exercise to improve our skill, drawing and coloring in particular. But first, we must try another approach of perspective. So, here it is my attempt to finish the assignment. Started from rough sketch, and done with photoshop.

We all used the reference from Nicholas Koenig (link) awesome concept art of PC video game Muppets Treasure Island. He was a designer, concept artist, and creative director, specialize in many areas of entertainment, includes video game, illustration, animation or cartoon, and of course theme park.

It was a good practice, though. I hope it can be useful for my work in the future.

Environment practice 21 Dec’11

Diawali dengan membangun bentuk persegi menggunakan software sketch up, menolong saya menentukan lay out awal kota. Sketch up juga memudahkan dalam mengatur perspektif yang diinginkan. Setelah itu, proses pun berlanjut ke tahap mewarnai hitam putih, menentukan arah sumber cahaya (pada gambar ini berada di sebelah kanan kertas), sampai ke tahap akhir. Menikmati prosesnya sekaligus melatih konsistensi menggambar tiap hari! (tak terlalu penting apakah menggambar hewan, karakter, pemandangan, robot, sampai karikatur, yang terpenting adalah menggambar tiap hari).

 

Shape game 16 Dec’11

Di tengah-tengah kesenggangan pekerjaan kantor, ada baiknya saya mulai disiplin dalam berlatih, baik sedang bersemangat ataupun tidak. Ini demi kebaikan saya dan perkembangan kemampuan menggambar saya. Huh, harus konsisten.

Kali ini bermain “bentuk” lagi, diawali browsing ‘random shape’ di google dan menemukan bentuk yang unik, kemudian mulai memikirkan akan dibawa kemana bentuk itu. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk melatih imajinasi sekaligus mewarnai hitam putih (value).

Bercerita tentang suatu desa kecil yang berada di hutan, dimana rumah mereka adalah pohon-pohon besar di sekelilingnya. Dan bentuk yang abstrak itu saya jadikan rangka menggambar sebuah menara pengawas yang terbuat dari kayu sederhana.

Amat menikmati prosesnya, semoga kian tajam, kian bersemangat untuk belajar. 🙂