Diffused Neutral Light Study

Tiga hari terakhir, saya belajar bagaimana melukis (digital) image dan referensi foto maupun real life, dengan memperhatikan elemen pencahayaan yang sangat penting. Diffused Neutral Light.

Saya terinspirasi bagaimana artist ternama, ex-conceptor Disney Pixar, yaitu Robert Kondo dan Dice Tsutsumi (Tonko House studio) mampu menerjemahkan suatu scene yang kompleks (pencahayaan dan teknis lainnya), ke dalam suatu lukisan still life yang simpel, tapi tetap mampu menangkap mood, lengkap dengan diffused neutral light nya.

Alhasil inilah apa yang bisa saya hasilkan. Sebagai studi still life perdana lagi sejak masa kuliah 14 tahun lalu (yaiks!! Aku sudah semakin tua!), saya cukup puas. Karena ini bukan tentang hasil nya saja, apakah mirip atau mendekati hasil serealistis di foto referensi. Tapi terpenting adalah proses dan pembelajaran teknik yang jadi semakin kaya.

Studi 1 – Interior – Alat-alat baking di dapur

 

Studi 2 – Interior – Pojokan meja kantor

 

Studi 3 – Exterior – Cafe dari random internet photo

 

Advertisements

Studi color key Big Hero 6

Salah satu animasi terkeren menurut saya. Big Hero 6. Desain dunia yang wow! San Fransokyo! Lalu desain karakter yang super appealing dan lovable. Seperti Baymax, Hiro, dan para kru lainnya. Sangat berkelas dan menghibur, juga menyentuh.

big_hero_6_thumbnail

Saya mencoba menangkap mood, color, ambience, pencahayaan dan sedikit detil dari scene-scene menarik dari keseluruhan film. Banyak sekali scene keren untuk di-repaint, tapi inilah 9 panel scene yang menurut saya, sedikit menggambarkan cuplikan kisah animasi keren karya Disney ini. Maaf jika ada scene favorit teman-teman pembaca yang tidak tergambar disini.

Latihan yang seru, menantang, dan cukup sulit. Karena kompleksitasnya, detilnya, dan kadang perpaduan warna yang kaya dan sangat membingungkan. Bagaimana menemukan warnanya. Campuran warna apa saja yang ada di sebuah scene itu.

Saya memakai program Adobe Photoshop dalam semua proses digital painting ini. Dan SAMA SEKALI TIDAK menggunakan fitur eyedropper/ pick color, untuk mengambil sampel warnanya. Jadi saya ‘nekad’ meramu dan menebak sendiri paduan warna di tiap scene. Rata-rata waktu pengerjaan adalah antara 25 menit sampai 1 setengah jam per scene nya. Tapi ini sebuah latihan yang baik untuk, setidaknya, mencoba mendekati mood dan atmosfer dari scene yang dijadikan referensi. Scene mana dari film Big Hero 6 yang rekan-rekan pembaca paling suka?

color_key_big_hero_6_DONEcolor_key_big_hero_6_scene9color_key_big_hero_6_scene8color_key_big_hero_6_scene6color_key_big_hero_6_scene5color_key_big_hero_6_scene4color_key_big_hero_6_scene3color_key_big_hero_6_scene2color_key_big_hero_6_scene1color_key_big_hero_6_scene7

 

Color key study “Meet the Robinsons”

Sebagai digital artist, saya harus terus menajamkan diri, baik sedang ada project atau tidak. Tidak boleh berpuas diri, atau sekadar duduk diam, menikmati hobi (walau terkadang saya sangat ingin menghabiskan banyak waktu menamatkan game-game di console seperti masa SMP dulu).

Jadi hal yang baru-baru ini kembali saya giatkan adalah belajar mengenai Color Key. Apa itu color key? Color key, biasa disebut juga Color Script, atau Color Scheme. Adalah kumpulan image dari sebuah film, baik live action, atau animasi, yang disusun dengan komposisi tertentu – menyerupai panel komik – sesuai urutan cerita di film tersebut. Dimana dengan mengamati color key pada tiap scene, sang director atau tim yang bertugas menampilkan visual di sebuah film, dapat melihat secara garis besar, mengenai mood, ambience, lighting, atmosfer di tiap scene ke scene berikutnya. Apakah sudah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau belum.

Ijinkan saya berbagi penemuan saya mengenai ini dari studi color key animasi Disney berjudul Meet the Robinsons. Sebuah film animasi yang memiliki cerita mendalam, seperti kebanyakan karya Disney. Dengan unsur komedi, keluarga, dan pesan-pesan yang menyentuh.

color_key_meet_the_robinson

Di scene pertama (kiri atas), ditampilkan suatu suasana yang tampak “gloomy”, suram, terkesan kuno, dan gelap. Sebuah lingkungan kota dengan gedung panti asuhan berada di tengahnya. Ternyata, cerita yang sedang digambarkan di scene tersebut adalah menjelaskan masa lalu Lewis, sang tokoh utama, yang masih bayi saat itu, telah dititipkan dengan sengaja oleh sang ibu di depan pintu Panti Asuhan.

Mood gloomy, malam hari, kelabu, dan sedikit hujan itu, dibuat sedemikian rupa oleh pihak Disney, untuk mendukung penyampaian scene mengharukan tadi. Bagaimana Lewis kecil memulai petualangannya dalam mengejar mimpi menjadi Inventor terkenal dari sebuah panti asuhan sederhana. Tanpa mengenal siapa ibu kandungnya.

Studi color key dari Meet the Robinsons ini mengajarkan saya banyak hal:

  • cerita (story) adalah tetap yang paling krusial dan penting dalam menentukan arah visual dan mood. Jika ceritanya ingin menampilkan situasi mencekam, maka penggunaan warna gelap dan cenderung suram akan dipilih, jika cerita ingin menampilkan adegan haru, hangat, dan sedikit dramatis, seperti scene ke-8 (mobil  berwarna biru), maka dipilihlah mood dengan pencahayaan romantis, berwarna merah muda agak ke jingga di sore hari. Dan seterusnya.
  • meski banyak film animasi ditujukan untuk keluarga, tetapi dalam penggarapan visualnya, tetap mengedepankan pencahayaan yang realistis.
  • pencahayaan, shadow, warna dan elemen-elemen di sebuah scene, HARUS mendukung cerita yang ingin disampaikan. Jangan sampai elemen tersebut justru mengaburkan inti cerita dan terlalu banyak ‘mencuri perhatian penonton’ (distraction).
  • Film Meet the Robinsons ini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan khas. Bisa dilihat bagaimana desain arsitektur dunia masa depan di masa keluarga Robinsons (panel ke-4 dan 6).

Overall, studi ini memberi saya banyak hal baru dalam memandang sebuah adegan di film. Berbagai elemen seperti pencahayaan, mood, siang/malam, komposisi, efek, dan bentuk-bentuk, didesain sedemikian rupa agar pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat tepat sasaran, sambil tetap mempertahankan elemen entertainment.

Terimakasih telah berkunjung!

Apa kanvasmu?

Tiap seniman identik dengan alat bernama kanvas. Kanvas adalah media yang digunakan para seniman dengan berbagai latar belakangnya untuk menyalurkan imajinasi, ide, dan khayalan mereka ke dalam bentuk yang dapat dinikmati banyak orang. Banyak seniman di seluruh dunia secara mengejutkan “keluar dari kotak” kebiasaan pada umumnya.

Kanvas tidak lagi harus di atas kertas. Kini, kanvas para seniman bisa dimana saja! Ya. Dimana saja! Berikut adalah temuan-temuan saya.

1. Asyera Bella (klik disini untuk lihat karya-karya hebat lainnya!)

Inilah seniman yang selalu mencoba hal baru, yang secara tidak kebetulan, ialah kakak kandung saya. Tidak cukup dengan kertas biasa, ia merambah dinding sebagai kanvas nya. Hmm. Kalau ini belum cukup, bagaimana dengan yang berikut?

Bagian dari telepon rumahan pun bisa menjadi kanvas yang unik.

2. Edgar Muller (kunjungi situs nya dan bersiaplah terkejut! Klik)

Seorang expert di bidang melukis di jalanan. Ya. Kanvas Edgar adalah jalan raya pada umumnya. Tak ada yang spesial dari jalan raya yang biasa kita lalui. Yang membedakannya adalah kualitas sang seniman. Takjub!

Percayalah. Gambar di atas adalah tidak benar adanya. Tidak ada sungai di tengah kota. Pria dan anjing di tengah jurang itu pun sebenarnya sedang tidak di ambang kejatuhan. Edgar hanya “memainkan” ilusi optik melalui karya spektakuler nya di jalan raya. Ya! Semua adalah lukisan!

Berhati-hatilah kalau berjalan. Jangan sampai anda terjatuh ke dasar jurang es! (Ilusi optik lainnya karya Edgar Muller).

3. Andres Amador (lihat situs nya disini).

Seorang seniman luar biasa yang melihat pasir di pantai sebagai kanvas nya! Sangat indah dan luar biasa!

4. Eric Grohe (lihat karya fantastis nya disini!)

Apakah anda melihat niagara di sana? Hm. Mungkin anda salah. Sebenarnya, tidak pernah ada Niagara di situ. Itu hanya kanvas milik Eric Grohe! Dinding dibawah adalah sebelum dilukis.

 

Jadi, apa kanvas mu?

Saya pribadi masih menikmati kanvas digital di media komputer. Pendekatan tiap karya di media-media tersebut dapat dipastikan selalu diawali sketsa kasar terlebih dahulu. Yang membedakannya adalah, di media apa kita akan berkarya? Dan sentuhan akhir macam apa yang ingin kita taruh di kanvas kita? Entah cat akrilik, pensil warna, cat air, cat tembok, kapur, sampai pasir sekalipun, semua hanya menunjukkan betapa kreatif nya manusia!

Sesuatu untuk direnungkan :

“Kalau manusia yang terbatas saja bisa sedemikian mengagumkan dalam kreatifitasnya.

Bagaimana dengan Pencipta manusia? Seberapa kreatifnya Sang Pencipta segala sesuatu?”