Pentingnya Komunitas

Sebuah quote berikut, mengawali tulisan saya,

“Alone, we can do so little; together, we can do so much” – Helen Keller.

Perkataan singkat ini cukup bagi saya menangkap esensi dari pentingnya sebuah kelompok orang-orang yang memiliki satu arah, visi, tujuan, dan kesamaan, yang dikenal dengan istilah komunitas (community).

Sebagai seorang introvert level atas, dahulu, saya tidak menyadari betapa penting dan krusialnya peran sebuah komunitas dalam kehidupan seorang individu. Pada akhirnya, kita harus sadar, tiap kita – manusia, adalah makhluk sosial. Tidak pernah bisa hidup sendiri.

Maka, hadirlah berbagai jenis komunitas di dalam hidup tiap kita. Mulai dari komunitas terdekat dan terkecil, yaitu keluarga, lalu memasuki dunia sekolah, pekerjaan, dan terjun ke tengah masyarakat. Kita semua membutuhkan komunitas. Komunitas yang bisa menjadi sarana dan wadah untuk sama-sama tumbuh, berkembang, belajar, dan  sekaligus sebuah kesempatan berkontribusi (meski kecil) untuk memberi pengaruh dan dampak yang positif pada sekitar kita.

images (1)

Tapi, dalam perjalanannya, kita menyadari, bahwa kita tidak bisa ‘masuk’ dan ‘menyatu’ dengan sembarangan komunitas. Semua komunitas memiliki arah, visi, misi dan tujuan masing-masing yang unik dan berbeda. Tinggal bagaimana cermat dan bijaknya kita dalam memilih, menyeleksi dan memutuskan mau terlibat ke komunitas seperti apa, yang kemudian akan mempengaruhi perkembangan diri kita ke depannya.

Baru-baru ini, saya sedang bersemangat bersama rekan-rekan alumni yang berasal dari latar belakang berbeda, disiplin ilmu dan profesi berbeda, mengembangkan sebuah komunitas kreatif. Isinya adalah orang-orang muda yang ingin belajar dan bertumbuh bersama, dalam hal karakter, skill, dan pengetahuan soal dunia kreatif (entah itu membahas desain, cinematography, film, musik, atau lainnya).

Semoga komunitas ini, yang diawali dengan tujuan baik – yaitu berkolaborasi melalui kreativitas, untuk memberi impact positif ke tengah masyarakat – dapat berjalan konsisten, berkelanjutan, dan memberi growth yang baik bagi tiap individu di dalamnya.

Connection before Correction

Baru-baru ini, saya berdiskusi dengan istri mengenai satu prinsip penting yang tanpa sadar, mungkin telah saya abaikan dalam relasi saya sehari-hari. Connection before correction.

Mudah untuk menegur, mengkritik, dan tergesa-gesa dalam menilai seseorang, entah itu pasangan, anak, rekan kerja, orang yang dimentor, sampai artis-artis di surat kabar, karena suatu kesalahan yang telah mereka lakukan. Kecenderungan kita tentu mudah terbawa dengan penggiringan opini yang terjadi nyaris tiap hari, tentang banyak topik, melalui berbagai media.

Mengkoreksi adalah tindakan yang menyatakan secara tidak langsung, bahwa, kita ‘lebih baik’ dari yang dikoreksi. Meski terkesan benar dan positif, tetapi, koreksi bisa jadi malah mempertegas kesan bahwa kita lebih pintar, lebih benar, lebih saleh, lebih dan lebih lainnya.

Apakah benar demikian? Apakah benar kita lebih unggul dari yang lain?

Yang lebih parah, kita menyampaikan koreksi kepada seseorang, tanpa terlebih dahulu mengedepankan faktor hubungan. Kita bahkan belum benar-benar connect dengan orang yang kita tegur. Tentu saja, orang tersebut cenderung akan defensif, tertutup, terganggu, dan menolak koreksi kita (meskipun positif, ada benarnya, dan konstruktif).

Semua dikarenakan hanya terlalu fokus mengkoreksi tanpa terlebih dulu membangun koneksi/ hubungan/ relasi (batin, hati, jiwa) dengan orang tersebut.

Bagi saya pribadi, prinsip connection before correction begitu penting dan dapat diterapkan di segala aspek dalam hubungan kita sehari-hari. Intinya, prinsip ini kembali mengingatkan manusia, untuk tidak lupa memanusiakan sesama manusia dalam hubungannya.

Jangan hanya tentang target-target. Espektasi. Goal. Objective. To-do-list. Program.

Harus berlatih lagi prinsip ini. Tidak boleh mengabaikan sisi kemanusiaan seseorang. Apa yang dipikirkannya. Apa perasaannya. Apa yang jadi keinginannya. Apa latar belakang kisahnya, dan sebagainya.

Selamat mencoba prinsip connection before correction!

connection before correction

 

Digital Parenting

Sejak mengemban tanggung jawab sebagai bapak, saya baru belajar apa yang namanya ‘mengasuh anak’. Ternyata mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sangat sangat melelahkan.

Mulai dari memandikan, memakaikan baju, mengoleskan minyak, gosok gigi, menggendong dan menina-bobokan, menjemur di panas matahari, memastikan nyamuk tidak mengganggu tidur si bayi, menjaganya saat merangkak (kini berlari), menyuapi makan, dan hingga menemaninya bermain (dalam dan luar rumah) dan belajar (kognitif, motorik, linguistik, dll).

Saya memang belum pernah benar-benar ditinggal berdua saja dengan sang buah hati di rumah, karena alasan kebutuhan ASI nya masih kentara di malam hari. Tapi, dengan hanya mencicipi “sedikit” saja peran mengasuh tadi, sudah cukup membantu saya mengerti mengapa gaji seorang baby sitter amatlah besar!

Jelas sebuah pekerjaan yang menantang. Betapa saya angkat topi bagi setiap ibu-ibu di luar sana, baik ibu rumah tangga, home-schooling, maupun ibu yang bekerja sekaligus mengasuh anak. Dan tentu kontribusi para orang tua, mertua, kakek-nenek, opung, eyang yang juga merelakan waktu, energi, dan perhatian untuk mengasuh cucu kesayangan mereka. Terimakasih!

Namun, jika bicara mengenai mengasuh anak, tentu harus pula membahas ‘cara’ atau ‘metode’ seperti apa dalam menjalankan peran tersebut. Demi kebaikan dan perkembangan yang positif dari sang buah hati, tentu kita seharusnya memilih cara terbaik yang bisa kita terapkan bagi mereka.

Dan kini, di era digital dan serba canggih ini, lahirlah satu metode pengasuhan anak yang tanpa sadar sudah menjadi bagian hidup kita, tak terkecuali keluarga saya. Teknologi, internet, dan gadget adalah media yang kini sudah melekat dan tidak dapat dihindari dari hidup manusia modern.

Berbagai penelitian ternyata menyatakan penggunaan gadget yang berlebihan dan sejak usia dini pada balita dan anak-anak, bukanlah merupakan hal positif (silahkan buka video A, video B, dan video C berikut). Meski terbukti sangat meringankan beban para pengasuh (seperti saat menidurkan, membuat anak bisa tenang saat disuapi makan, atau kemudahan lainnya), secara umum, justru memiliki dampak negatif. Bahkan, kategori kecanduan gadget (internet) yang ekstrim, bisa disamakan dengan kecanduan alkohol dan rokok!

Hal negatif yang muncul seperti rentannya anak sejak dini mengalami kegelisahan (anxiety) bukannya rasa aman, mudah murung (depressed) bukannya kebahagiaan, dan stres (stress) bukannya ketenangan. Sangat ironis dan memprihatinkan mendengar fakta ini. Sebuah hal yang harus menjadi perhatian serius para orang tua di jaman sekarang ini.

Saya dan istri pun masih terus berjuang keras dalam mengasuh anak, dengan seminim mungkin pengaruh gadget, khususnya TV dan smartphone. Godaan untuk mengambil shortcut mudah itu selalu muncul. Energi yang dihabiskan untuk menemani si buah hati tanpa adanya bantuan gadget terbukti amatlah melelahkan.

Kita dituntut untuk mau repot dan capek. Harus kreatif, dan mencoba hal baru. Entah itu dengan baca buku, corat-coret, menggambar, aktivitas kerajinan tangan, menari, menyanyi, goyang-goyang tubuh, berperan sebagai kuda (juga singa), main puppet (boneka), main di halaman komplek, belajar buat es batu dan lain sebagainya.

Semua hal yang dapat meningkatkan stimulus positif dari dalam diri si anak, yang (sesungguhnya) bisa dilakukan dengan mudah melalui HP, kini, digantikan dengan aktivitas fisik. Sebuah hal yang kian menantang, mengingat rutinitas pekerjaan, pulang kantor, macet di jalan raya, atau berdesak-desakkan di kereta, telah menggerus energi kita seharian.

Tapi, mari sama-sama merenungkan sejenak, sesungguhnya apakah yang paling dibutuhkan mereka, anak-anak kita, setiap harinya, di masa kecilnya? Apa yang menjadi kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, dan hal yang paling dinanti-nantikan oleh mereka setiap harinya?

Jawaban itu tidak lain adalah diri kita, para orang tua. Bapak, ayah, ibu, mama. Bersama kitalah, anak kita (di masa kecilnya) merasa amat bahagia, dan bukan bersama gadget. Menghabiskan waktu bersama kitalah, anak kita merasa paling disayangi, bukan dengan menghabiskan berjam-jam di depan monitor gadget. 

Saya tidak anti-gadget. Saya bahkan amat menggilai gadget. Saya memiliki laptop untuk bekerja tengah malam, atau smartphone yang menjadi alat meningkatkan produktivitas saya sehari-hari, Wacom Intuos untuk berkarya, belum lagi TV, dan PS3 yang adalah bagian dari kesenangan saya. Saya jelas seorang gadget freak dan pengguna rutin gadget!

Tetapi, jika karena benda-benda mati itu, kehidupan dan perkembangan anak saya akan mengalami gangguan karena pengaruh-pengaruh negatif. Saya berkomitmen (minimal untuk diri saya sendiri), agar sedapat mungkin, jika itu tergantung pada saya, maka saya akan dengan bijak menggunakan gadget di depan anak saya, dan lebih banyak memberi diri saya baginya, secara penuh, bukan setengah hati.

Pada masa kecilnya. Untuk masa depannya.

Semoga saya, dan istri, terus bisa “hadir” secara hati, jiwa dan fisik baginya. Buah hati kesayangan, yang adalah pemberian Tuhan.

ilustrasi quality time dengan anak

 

 

 

Perenungan di Usia Baru

Tulisan ini menandai perjalanan baru saya yang kian ‘matang’. Resmi 33 tahun sudah saya hidup di bumi. Sudahkah saya memberi sumbangsih yang positif bagi sesama?

Saya menyadari, betapa cepat dan dinamisnya kehidupan itu. Seperti perumpamaan sebuah bola. Ada saat mencicipi kebahagiaan – ketika sedang di bagian atas bola; ada saat menjemput kedukaan – ketika sedang di dasar bola. Itu yang baru saja komunitas tempat saya tumbuh dan hidupi selama ini, alami.

Ada keluarga yang berduka ditinggal anggota keluarga terkasih, ada keluarga muda yang baru menyambut sang buah hati yang terkasih. Kedua peristiwa ini, terjadi hanya dalam rentang waktu 24 jam.

Ilustrasi_roda_kehidupan

Itulah hidup. Realita yang tidak bisa dihindari umat manusia. Kebahagiaan dan kedukaan bisa datang silih berganti. Begitu dinamis. Begitu real. Apakah manusia sehingga bisa (seolah) mereka-reka nafasnya? Bisa menata rapi jalur usianya? Semua ini hanya anugerah dan suatu hak istimewa dari Yang Maha Esa. Bagaimana mempertanggungjawabkan nafas hidup hari demi hari.

Semoga saya bisa mengisi kehidupan dengan hal bermakna. Sebagai manusia yang banyak kekurangan, yang ingin terus belajar dan memberi impact positif bagi sekitar.

Terimakasih Tuhan untuk usia baru ini.

 

 

Leaving a Legacy

Beberapa hari terakhir, saya sedang memikirkan secara terus-menerus satu kata berikut: “Legacy”.

Legacy bisa berarti sebuah peninggalan. Bukan sekadar berupa materi fisik. Tetapi, lebih dalam dari itu. Sebuah dampak, impact, kontribusi, atau hal berharga yang diberikan oleh seseorang kepada umat manusia, yang masih terus terasa efeknya, meskipun, orang tersebut telah tiada.

Apakah Anda pernah memikirkan tentang meninggalkan ‘legacy’ bagi orang-orang disekitar Anda? Bagi pasangan Anda? Anak Anda? Komunitas Anda? Bagi umat manusia? Apa yang kira-kira akan orang lain katakan mengenai Anda pada waktu upacara pemakaman Anda kelak?

Saya memikirkannya. Dan berharap agar meski baru sekarang memikirkannya, semua belum terlambat.

Tetapi memikirkannya berlama-lama, tidak akan membuat saya ‘telah’ meninggalkan legacy itu. Saya harus keluar dan mulai melakukannya! Membangunnya, menyiapkannya.

Membangun legacy bukan mengenai membesar-besarkan diri sendiri. Tetapi lebih kepada menyiapkan sebuah hal yang bernilai abadi bagi setiap manusia yang pernah kita jumpai semasa kita hidup. Yang semoga, peninggalan itu bermakna positif dan berkesan mendalam bagi mereka. Entah karena apa yang telah dilakukan berupa kebaikan, persahabatan, ilmu, teladan, pemberian, pengetahuan, atau talenta.

Bagi saya, membangun legacy tidaklah harus dimulai secara ambisius untuk menjangkau dunia. Saya bukanlah Mother Teresa, yang menyentuh hati jutaan manusia dengan kebaikan hatinya yang luar biasa atau Steve Jobs, yang meski telah meninggal, tetapi selalu dikagumi karya dan idenya. Saya bukanlah Elon Musk, seorang ilmuwan modern yang visioner yang siap membawa umat manusia menuju planet lain. Mereka hanya sebagian dari orang- orang luar biasa yang telah memberi impact dahsyat bagi umat manusia.

Saya hanya seorang pria, suami, bapak dari seorang anak perempuan mungil, bekerja sebagai ilustrator dan concept artist di daerah Tangerang Selatan, penggila ping pong, dan The Last of Us. Tapi, ijinkan saya merajut legacy ini, diawali dari kehidupan paling sederhana tiap harinya. Bukan hal besar. Bahkan cenderung tidaklah istimewa.

legacy

Tapi, saya percaya, tidak ada legacy yang besar, tanpa diawali kesetiaan melakukan hal-hal kecil, seperti mengasihi, mencintai, setia, bersyukur, mengampuni, memaafkan, mengaku kesalahan, belajar berbagi, mendengarkan, menolong, empati, belajar dari kegagalan, dan selalu bangkit, tidak menyerah.

Selamat membangun dan meninggalkan legacy, rekan-rekan pembaca!

 

 

 

 

 

Follower (Likes) or Growth?

Saat seseorang ‘terjun’ ke dunia nan hiruk-pikuk bernama sosial media, maka hal berikut ini seringkali menghinggapi pikiran para penggunanya. Yaitu “adanya dorongan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin likes atau follower.” Mungkin hal ini tentu tidak serta merta dialami semua pengguna sosial media. Tapi harus diakui, saya salah satu orang yang sempat mengidapnya!

Sebagai seorang kreatif yang menggunakan platform sosial media sebagai wadah untuk memperkenalkan diri melalui karya-karyanya ke dunia (via internet), maka, parameter paling mudah untuk mengetahui apakah karya yang dihasilkan sebenarnya mendapat apresiasi atau setidaknya respon dari para pengguna lain, yaitu dengan menakar berapa banyak like atau follower yang sudah kita dapat.

Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik dalam art journey sosial media saya, dimana saya sungguh mengevaluasi dan menanyakan pertanyaan kritis kepada diri saya sendiri.

Sebenarnya, untuk apa saya berkarya? Untuk apa saya memajang semua karya saya di dunia maya? Apakah sekadar mengharapkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan likes dan bertambahnya follower yang banyak? Atau sebenarnya, ada hal lebih penting dari itu semua, khususnya jika dilihat dari perspektif seorang artist yang sedang ingin terus belajar konsisten dalam berkarya dan berkembang dalam keterampilannya. Yang mengenal kata,” tidak pernah ada istilah berhenti belajar.”

Setelah merenungkannya, saya harus akui, jebakan “gila likes dan follower” tadi tanpa sadar telah menghambat dan sedikit menjadi distraksi bagi art journey saya. Semua dorongan yang kadang bisa positif tapi juga negatif ini telah memurnikan motivasi saya dalam berkarya.

“Apakah hanya mau berkarya demi meraih likes dan follower banyak? Bagaimana kalau hal itu tidak tercapai? Apakah jadi down, dan melupakan tujuan semula yaitu progres dan pertumbuhan? Bukankah progres atau growth seorang concept artist lah yang terutama? Apakah saya berkarya harus (selalu) mengikuti keinginan dari pasar? Dimanakah letak kesenangan dalam berkarya jika tuntutan-tuntutan seperti ini terus menerus menyetir kehidupan seorang artist?”

Tulisan ini berangkat dari penilaian jujur diri sendiri, melihat fenomena yang terjadi, khususnya apa yang telah saya alami belakangan ini. Sebagai seorang yang ingin terus berkembang, belajar, dan berkarya, saya harus tiba pada satu kesimpulan.

Pasar memang penting. Selera orang lain memang patut diperhatikan, tetapi bukan segalanya. Sedari awal, seni sudah seharusnya bisa dinikmati, baik oleh sang seniman itu sendiri dan oleh dunia. Sampai saat itu tiba, biarlah progres pertumbuhan seorang seniman juga harus mendapat porsi yang cukup, tanpa tergerus terus-menerus dengan tuntutan dan jebakan “likes dan follower” di dunia maya.

Selamat mengejar perkembangan dalam bidang apapun!

Parenting and Art Career

Putri saya sudah hampir berusia 1.5 tahun. Tidak terasa. Perjalanan yang dilewati memang baru ‘seumur jagung’. Belum ada apa-apanya. Masih banyak kejutan dan pelajaran menanti di depan. Tapi rasa syukur harus terus dipanjatkan.

Dan saya kian menyadari betapa peran saya amat dibutuhkan di tengah kehidupan putri dan keluarga saya. Di lain sisi, profesi yang saya tengah jalani, yaitu concept artist, mendorong saya untuk tetap memperhatikan karir kreatif ini. Tetap harus dijalani dengan baik, profesional, dan tetap menajamkan diri dalam banyak aspek kreatif.

Disinilah tantangan itu muncul.

Bagaimana saya harus tetap bijak dan tepat dalam mengelola prioritas, berupa waktu, energi, dan perhatian saya, terhadap dua aspek tersebut. Secara seimbang.

20190126_035839

Komitmen utama saya adalah keluarga. Meski terkadang masih gagal dalam menjalankannya, tapi, setidaknya saya tahu apa yang paling utama dalam hidup saya. Bagaimana saya ingin seoptimal mungkin bisa tetap hadir dalam kehidupan keluarga saya. Kualitas hubungan dengan istri tercinta, dan juga dengan putri saya. Memandikan anak nyaris tiap pagi di sepanjang tahun sebelum berangkat kantor sudah menjadi sebuah habit dan “ritual” saya dalam memulai hari. Saya pun kian menikmatinya. Sebuah bonding tercipta di antara kami. Meski singkat, tapi, saya tahu tidak akan sia-sia.

Lalu, sudah menjadi bagian hidup saya untuk tetap menajamkan diri dalam berbagai aspek dan keterampilan sebagai seorang kreatif. Bagaimana mengejar konsistensi untuk berkarya, studi, belajar hal baru, observasi, dan terbuka dengan banyak inspirasi di luar sana. Sambil tetap bekerja fulltime sebagai concept artist di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Menantang. Khususnya agar semua berjalan dengan baik dan tetap seimbang. Tidak ada yang berat sebelah.

Peran ini akan saya jalani dengan rasa syukur, dan selalu meminta kekuatan dari Sang Ilahi. Saya tahu, kapasitas saya akan terus ditingkatkan-Nya dari waktu ke waktu. Bukan karena saya layak untuk itu, tapi karena Ia begitu baik bagi saya.