Dunia Sophie

Saya dan istri sepakat untuk berkolaborasi.

Dia gemar membaca novel. Saya gemar menggambar.

Tugasnya sederhana. Memenuhi keinginannya atas visual dan imajinasi dari novel yang ia baca, dan saya yang harus menerjemahkannya dalam wujud digital painting atau ilustrasi.

Dunia Sophie, karya Jostein Gaarder ini, memiliki kisah yang penuh dengan elemen filosofis, serta memainkan daya nalar dan psikologis para pembacanya. Saya sendiri bingung dibuatnya. Tapi, yang penting, istri saya menyukainya! Dan tugas saya adalah untuk menghadirkan sedikit visual dari Dunia Sophie ini. Enjoy!

DuniaSophie_ilustrasi_1_V2

Advertisements

Another entry for “The Dark Knight Rises T-shirt contest”

Kali ini, saya berkolaborasi dengan Yosua Adi (lihat karya-karya hebatnya di link ini). Dia yang mengerjakan line art, dan saya melanjutkan dengan sedikit pewarnaan.

Tarikan garis yang amat luar biasa dari Yosua, saya coba berikan atmosfer warna monokromatik, dan sedikit cahaya highlight di bagian bawah dari Bane, sang antagonis utama. Dengan harapan dapat memberikan kesan sedikit suram, gelap, dan mencekam, karena disini digambarkan Batman sedang berada di ambang kematiannya. Desain ini memang tidak berhasil menembus babak selanjutnya, tetapi kami berdua cukup puas karena sudah mencoba memberi yang terbaik. Kontes ini diadakan dalam rangka menyambut diputarnya episode terakhir dari trilogi “The Dark Knight : Rises” dalam waktu dekat ini. Espektasi amat tinggi. Jutaan penggemar batman akan menanti, akan seperti apa akhir dari Batman, sang prajurit kegelapan.

Kolaborasi Sidauruk Bersaudara!

Sudah saya katakan, saya selalu bangga dengan kakak kandung saya, terlepas dia “setengah sadar” (check out her blog http://wanitasetengahsadar.tumblr.com/) dan artwork blog nya (http://www.asyerabellas.com/) yang selalu mengejutkan tiap kali dikunjungi!

Walau sudah lewat 5 hari, kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu seharusnya memang tidak pernah dijadikan sekadar formalitas bangsa ini. Terlepas dari betapa membanggakannya Indonesia dari segi prestasi anak-anak bangsanya dalam pendidikan, atau kejuaraan demi kejuaraan (dimana Indonesia sudah menjadi langganan peraih medali emas beberapa cabang pendidikan!), bangsa ini tetap memiliki berbagai kelemahan. Satu hal yang mencolok tentu adalah kemerosotan moral. Tidak usah langsung mengarahkan pandangan pada para pejabat negara, kita pun sebagai warga negara seringkali juga tidak memberikan perbedaan yang berarti. Kita masih harus belajar.

Bangsa ini tetaplah bangsa yang membanggakan. Tetap memiliki harapan. Tetap memiliki orang-orang yang luar biasa untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Sayangnya kita masih cukup egois untuk terus membesarkan diri dan golongan sendiri, tanpa berbelaskasihan kepada sesama lagi. Ini titik kejatuhan Indonesia di mata saya.

Kasihilah sesama kita seperti diri kita sendiri.

Selamat merdeka Indonesia! Merdekalah dalam tiap aspek kehidupan, jangan puas hanya merdeka dari para penjajah saja.

Ini kolaborasi saya dan kakak saya, Asyera Bella dalam memeriahkan HUT RI ke-66. Enjoy!

Saya menggambar bagian bawah, dan kakak saya dengan ciri khasnya yang kental, menampilkan gambar wanita di bagian atas lengkap beserta latar belakang, menggambarkan bangsa ini harus sedikit demi sedikit bangkit, terutama dalam memerangi KORUPSI yang merajalela.

Bersyukur bisa kolaborasi dengan kakak kandung sendiri 🙂

Manusia dan Mengantri

Setiap orang hidup dalam keterburu-buruan. Bahkan kita tidak saling tahu kepentingan siapa yang seharusnya didahulukan. Presiden mengurusi rakyatnya. Dokter mengurusi keselamatan jiwa pasiennya. Polisi mengejar buronan. Anak sekolah menghindari terlambat datang ujian demi kebaikan masa depannya.

Semua terdengar penting dan mendesak. Namun agar sistem yang ada tidak menjadi rusak dan kacau (chaos), setiap orang harus terbiasa menunggu gilirannya. Jika setiap orang menuntut didahulukan dan merasa urusannya lebih penting, itu sama saja dengan egois.

Maka dari itu mari kita semua tertib menunggu giliran kita masing-masing atau yang biasa disebut mengantri, baik saat di ATM, di jalan raya, di mal, di bandara, di restoran, di loket karcis dan banyak tempat lainnya di dunia ini.

Mari jangan mau menjadi bulan-bulanan para hewan yang memang terbukti bisa memberi contoh budaya antri berbaris lebih teratur dari kita, manusia. Yuk, mengantri yang tertib demi kepentingan bersama!

Tulisan : Dwi Ratih Perbawati Hutapea, Tigor Boraspati S.

Ilustrasi : Tigor Boraspati Sidauruk

Pekerjaan Mulia

Setiap orang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Itulah salah satu wujud tanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga kepada orang-orang di sekitar. Namun setiap orang punya alasan dan motivasi yang berbeda dalam memilih suatu pekerjaan atau perusahaan. Bisa alasan materi, passion, nasionalisme, atau bahkan alasan sosial.

Pada umumnya orang-orang akan memilih pekerjaan yang menjanjikan income besar dan fasilitas ekstra. Siapa yang tidak mau, hal itu sangat bisa dimaklumi dan manusiawi. Karena manusia memiliki kekuatiran akan masa depannya dan ketika ia bisa memperoleh jaminan untuk hidup berkecukupan dan nyaman, hal tersebut membawa ketenangan dan kelegaan tersendiri.

Belum lagi ditambah dengan pride yang diperoleh jika dapat bergabung di salah satu perusahaan hebat. Kebesaran perusahaan tersebut ternyata membawa pengaruh secara langsung kepada kebesaran nama baik pribadi juga. Lalu masyarakat akan memandangnya dengan tatapan berbeda dan memberi cap “orang sukses”.

Saya mulai sedikit ragu dengan tulisan saya. Pemahaman saya tentang kesuksesan itu sendiri pun masih blur. Orang tua-orang tua jaman dulu sih merumuskan kesuksesan dengan formula yang sederhana saja, orang sukses = kerja mapan + harta berlimpah + keluarga baik-baik.

Lalu bagaimana dengan kasus ini. Di tempat saya bekerja, ada seorang satpam usia paruh baya. Saya hampir tidak pernah melihat beliau cemberut dan mengeluh. Selalu tersenyum dan menyapa, di pagi hari maupun di siang hari bahkan sampai di jam pulang kantor. Beliau sudah bekerja di sini dalam waktu yang cukup lama. Beliau makan siang setelah seluruh karyawan selesai makan siang. Dan beliau dengan setia menjaga di depan pintu kantor dari pagi hingga malam, di saat karyawan-karyawan lain sudah pulang.  Mungkin gajinya tidak seberapa dan entah bagaimana hari tuanya nanti. Tapi saya salut dan respek dengan bapak ini. Saya menghormati dia dengan loyalitas dan keceriaannya. Menurut saya, beliau sudah mencapai kesuksesan dalam pekerjaannya. Beliau sudah melakukan suatu pekerjaan mulia, bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk melayani banyak orang.

Kemuliaan suatu pekerjaan seharusnya tidak diukur dari seberapa besar gaji yang diperoleh, seberapa megah gedung kantor, atau seberapa bergengsi nama perusahaan tempat bekerja. Tetapi kemuliaan suatu pekerjaan bergantung pada orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan itu, dengan motivasi dan kesediaan bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri, namun untuk melayani sesama.

Jangan sampai anda merasa menyesal di kemudian hari karena kesuksesan anda (berdasarkan definisi orang tua jaman dulu), menyisakan rasa hambar di dalam hati karena anda lupa melakukan satu elemen penting dalam bekerja, yaitu melayani sesama.

Kolaborasi kembali aktif! 🙂

Tulisan : Dwi Ratih Perbawati Hutapea (http://dwihutapea.wordpress.com)

Ilustrasi : Tigor Boraspati Sidauruk (http://marikarikatur.tumblr.com)

Woman’s Life

Para wanita di jaman modern ini bermimpi untuk menjadi mandiri dan dapat hidup berkelimpahan dengan uang hasil keringat mereka sendiri. Hidup mereka dipicu dengan menjadikan Louis Vuitton, Gucci, Hermes, dan teman-temannya sebagai motivasi. Mereka ingin terlihat mapan dan trendy.

Wanita menjadi sangat kompetitif di segala bidang. Kaum pria tidak bisa lagi melihat wanita dengan sebelah mata saja. Dalam beberapa kasus, wanita menjadi lebih unggul dibandingkan pria. Wanita bisa menguasai berbagai bidang seperti bisnis, politik, pendidikan, dan sebagainya. Setiap wanita bercita-cita dan berlomba menjadi wanita karir yang disegani, dihormati, dan kaya.

Sekarang mari kita melihat kesederhanaan wanita dibalik kemegahannya dalam berkarir. Setinggi apa pun jabatannya dalam perusahaan, segemerlap apa pun prestasinya di dunia kerja, dia tetap menjadi seorang ibu di rumah tangganya sendiri. Wanita yang sebenarnya adalah wanita yang melayani keluarganya dengan hati yang penuh kasih dan kesabaran. Wanita yang menjadikan keluarga sebagai prioritas dalam kesehariannya.

Dia memasak. Membersihkan rumah. Mengurus anak-anak. Belanja keperluan sehari-hari. Tampil menarik untuk sang suami. Dan pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengenal jam kerja. Bahkan tidak ada insentif jika terjadi lembur atau over-time. Dia lelah namun tak mengeluh. Dan mengerjakan aktivitas harian yang kelihatannya “sepele” ini menjadi rutinitas untuk mengekspresikan cinta kepada keluarganya.

Rumah seharusnya menjadi kantor pusat dari kesibukan wanita.

Anak-anak dan suami seharusnya menjadi klien utama untuk menjadi perhatiannya. Jika Anda wanita yang berkarir, jangan lupa bahwa wanita adalah pilar yang berperan membuat rumah tangga tetap berdiri teguh. Anda bisa memilih untuk menjadikannya lebih kokoh, atau menghancurkannya.

(Tulisan dan perenungan : Dwi Hutapea. Ilustrasi : Tigor Boraspati)