Indonesia: Not perfect. But it’s still awesome!

Sudah sejak lama saya menantikan ingin mengembangkan sendiri personal project untuk meningkatkan kemampuan dalam storytelling dan menggambar saya (khususnya, digital painting dan ilustrasi). Akhirnya, karya ini pun lahir: “Greet One Another” (menyapa satu dengan yang lainnya). Terinpsirasi dari kekayaan Indonesia, baik dari keramahan orang-orangnya, hingga keragaman profesi dan sosial-budayanya. Karya ini menjadi awal dari serial ilustrasi lainnya yang ingin saya kerjakan di sela-sela pekerjaan kantor saya. Semua bertemakan: Indonesia. Mengapa? Karena saya percaya, meski Indonesia tidak sempurna, tetapi tetap menakjubkan!

Sedikit proses pembuatan ilustrasi “Greet One Another.” Selamat menikmati.

ilustrasi_0_sketchilustrasi_1_sketch

ilustrasi_2_sketchilustrasi_3_sketchilustrasi_1

Happy New Year 2013!

Kiamat?

Suku Maya?

Kalender berakhir?

Apapun itu, nyatanya untuk kesekian kalinya, kepintaran manusia, hikmat dan kepandaian ilmu pengetahuan telah “membodohi” umat manusia.  Sampai beredar film box office “2012” yang menggambarkan akhir dunia. Apakah Anda sudah menontonnya? Saya sudah. Dan saya sedikit kuatir karenanya. Ya, saya akui saya sempat menjadi orang bodoh.

Tapi, untuk apa pusing memikirkan persoalan itu. Toh, hanya Tuhan satu-satunya Pribadi yang tahu kapan semua berakhir. Fokus kita hanyalah “HARI INI”.

Apakah hari ini saya sudah menjadi manusia yang lebih baik bagi diri sendiri dan sesama?

Daripada lelah. Daripada pusing. Daripada kuatir.

Alihkan fokus kita kepada sesuatu yang lebih nyata. Yaitu rasa syukur. Saya bersyukur masih bisa menulis blog ini di awal tahun. Segudang mimpi, cita-cita, resolusi, dan target kehidupan hadir dan siap diraih di tahun baru ini. Tapi, lagi-lagi, saya tidak mau tertipu dengan “ambisi besar meraih hal-hal besar dan luar biasa di depan sana”. Saya belajar bahwa, fokus dan konsistensi dalam hal kecil hari demi hari adalah lebih penting daripada selalu melihat gambaran besar (tidak salah, tetapi jangan terlalu terjebak olehnya).

Fokuslah dan tetapkan hati melihat “HARI INI” sebagai satu saat yang terpenting. Bukan masa lalu, bukan masa depan. Tapi gunakan masa lalu untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan, serta secara bijak menyiapkan diri untuk hari esok.

Tapi siapa kita dan siapa Anda di masa depan, ditentukan oleh tiap pilihan dan tindakan yang kita lakukan di HARI INI.

Akhir kata, selamat tahun baru 2013. Kalau ada orang berkata, “hidup cuma sekali, jadi nikmati dan bersenang-senanglah selagi bisa”. Hmm. Mungkin ada benarnya. Tapi saya lebih memilih “hidup cuma sekali, dan saya akan gunakan untuk Tuhan dan manusia”. Saya rasa itu lebih bernilai kekal.

Mari hidup dengan segala kepenuhan hidup itu sendiri!

Eksplorasi tiada henti!

Sore hari menjelang malam, sebelum saya pulang, atasan saya mengajak saya diskusi. Bukan hal yang istimewa, tetapi beliau lebih tertarik membahas sesuatu yang esensial bagi kami, orang-orang yang bekerja di balik layar sebuah theme park.

Melakukan hal kecil lebih penting daripada tidak melakukan sama sekali

Itu pesan beliau.

Penting buat kami para pembangun imajinasi ini untuk terus mengeksplorasi. Mengeksplor hal-hal kecil. Sayangnya, seringkali kami tidak melakukan hal tersebut dan lebih cenderung mempersiapkan diri untuk hal-hal besar.

Tapi, Walt Disney pun memulainya dari sesuatu yang amat kecil.

Jangan menjadikan Disney sebagai acuan, karena memang mereka sudah begitu mapan dan seribu langkah di depan kami. Tapi, satu yang saya nikmati dari diskusi kemarin malam adalah, jangan membandingkan diri dengan siapapun, jangan merasa kecil, jangan merasa tidak bisa berbuat sesuatu yang besar, tetapi lakukanlah apa yang kamu bisa lakukan. Lakukanlah dengan yang terbaik. Jadilah yang terbaik di bidang yang kamu bisa lakukan.

Beliau menceritakan pengalamannya, saat mencoba melakukan apa yang para pembuat Sushi (orang Jepang asli) biasa lakukan dengan cara mengolah makanan Jepang tersebut dengan lihai, cekatan, dan presisi. Beliau mendapati dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Betapa sulitnya membuat satu buah Sushi dengan tingkat kerapihan, kemiripan, dan kecermatan seperti karya pembuat Sushi asal Jepang itu. Itu dikarenakan, adanya persiapan panjang, adanya perlengkapan sebelum berkarya berupa latihan, eksplorasi, dan kedisplinan tinggi dalam diri pembuat Sushi itu, yang tidak dimiliki atasan saya.

Saya percaya, prinsip ini bisa diterapkan di semua bidang kehidupan manusia.

Eksplorasi = belajar. Belajar apapun dari hal-hal paling kecil sekalipun.

Dan belajar sudah seharusnya dilakukan tiada henti. Tidak berpuas diri, bukan untuk memupuk sisi ambisius manusia, tetapi tidak berpuas diri untuk membangun mental ingin menjadi yang terbaik dengan sikap selalu ingin belajar dan diajar.

Kerendahan hati adalah awal dari kemenangan. Mari belajar!

Ketekunan

Dalam segala bidang yang manusia lakukan di dalam kehidupan, diperlukan adanya ketekunan.

Ketekunan tidak hanya berbicara tentang kesetiaan, keuletan, dan konsistensi. Tapi lebih dari itu, ketekunan sendiri adalah sebuah usaha. Sebuah kerja keras. Bukanlah perkara ringan bagi kita yang sudah merasakan betapa sulitnya untuk tekun. Selalu bersemangat mengerjakan sesuatu yang seringkali hanya “on fire” di awal proses. Tetapi seiring waktu, semangat dan ketekunan itu pun memudar.

Dalam bidang yang saya tekuni, ilustrasi, hal serupa juga terjadi. Sebuah karya diawali dengan sangat baik, tapi ditengah jalan menemui kesulitan, dan pada akhirnya karya tersebut pun tidak diselesaikan. Yang paling penting bukan bagaimana kita memulainya, tetapi bagaimana kita menyelesaikannya.

Seorang pemuda mengawali hidup dengan gairah tinggi untuk mencapai kesuksesan, saat menemui hambatan, ia terpuruk, putus asa, menyerah dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tragis.

Mengejar kekasih pujaan dengan susah payah, dan setelah berhasil menjalin relasi yang lebih dekat dengannya, proses pun berlanjut ke tahap yang lebih serius yaitu pernikahan. Sayangnya, banyaknya kesulitan dan hambatan dalam pernikahan menggoyahkan proses yang sebenarnya diawali dengan sangat baik. Sesuatu yang begitu indah di awal, bisa berakhir dengan sembrono mengikuti hasrat pribadi. Perceraian yang tidak akan menjadi solusi suatu permasalahan. Suatu ego dan kebodohan manusia.

Tetapi sekali lagi, bukan bagaimana mengawali, tapi lebih penting adalah bagaimana menjalani proses bahkan mengakhirinya dengan baik.

Berada di tahap yang manakah kita sekarang? Semoga kita semua terus mengejar ketekunan untuk akhir pertandingan kehidupan yang baik.

Belajar dari kegagalan

Siapa yang suka gagal? Siapa yang suka kegagalan?

Gagal tidaklah menjadi topik yang menarik untuk dibahas atau diangkat ke permukaan. Manusia, sebagian besar, dan sewajarnya selalu lebih tertarik membahas keberhasilan dan bukannya kegagalan. Begitupun saya. Tapi, ternyata, kalau boleh diteliti lebih dalam, kegagalan sendiri adalah sebuah proses yang luar biasa dibutuhkan dan sangat penting bagi manusia dalam rangka mengejar keberhasilan.

Seorang ilmuwan yang sudah merasakan betapa pahitnya kegagalan demi kegagalan dalam percobaannya untuk menciptakan suatu penemuan, pada akhirnya berhasil bangkit dari semua kegagalan itu dan menjadi penemu ternama dunia yang kita kenal hingga kini.

Thomas Alva Edison, penemu 1000 macam penemuan (hak paten atas namanya), setelah mencoba 10.000 kali percobaan yang gagal, barulah akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Sebuah karya yang dihasilkan melalui proses panjang jatuh-bangun 9.999 kali!

Berikut komentarnya, “Saya bukan gagal, tetapi saya belajar banyak dari 9.999 percobaan-percobaan yang saya lakukan sebelumnya sehingga saya jauh lebih pintar dan lebih berpengalaman lagi daripada sebelumnya”.

Sama halnya dengan kasus Thomas Alva Edison, kita pun dalam berbagai profesi dan keahlian yang kita miliki sekarang ini harus terus belajar. Terus mencoba. Terus bangkit apabila gagal. Terus berjuang. Terus berharap akan adanya suatu perubahan yang positif walau sebelumnya terus-menerus gagal.

Saya menikmati dunia ilustrasi, konsep desain, dan karikatur. Tak terhitung berapa kali saya mencoba belajar bereksperimen, mencoba teknik-teknik menggambar baru, teknik mewarnai dari para ahli dengan memaksimalkan fasilitas dunia maya, saat bekerja pun, karya saya masih terus dikritik, dianggap kurang, dan selalu saja ada ketidaksempurnaan. Tapi disitulah intinya.

Tak ada perkembangan yang baik tanpa merasakan sakitnya kegagalan terlebih dahulu.

Apakah sebuah kegagalan menjatuhkan nilai dan harga diri manusia?

Sebagai pria, seringkali kita tidak pernah mau dicap “gagal”. Tapi, bagi saya, setangguh apapun pria, seharusnya dia tetap memiliki hati yang besar untuk menerima kegagalan. Karena seperti Thomas Alva Edison pun, manusia-manusia yang bangkit dan mau belajar dari kegagalan pada akhirnya memiliki kualitas diri yang kuat, pantang menyerah, dan dekat dengan keberhasilan.

Kantorku, Sekolahku

Mungkin judul postingan saya kali ini terdengar sedikit aneh. Namun memang demikianlah kenyataannya.

Kantor saya saat ini, Trans Studio, yang bergerak di industri pembuatan taman hiburan keluarga, telah menjadi ‘sekolah’ baru bagi saya. Espektasi saya akan dunia pekerjaan ternyata tidak selamanya benar. Saya sempat berpikir bahwa rutinitas bekerja amat melelahkan (dan memang benar adanya!), tetapi tetap ada sesuatu yang patut disyukuri dan diambil sisi positifinya. Yaitu, dunia pekerjaan menawarkan segudang mata pelajaran yang tidak bisa diberikan di bangku universitas dahulu.

Bagaimana harus bersikap dalam satu tim kerja, bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan yang ada, melatih sikap selalu ingin belajar hal baru, baik dari atasan, sesama rekan kerja, dan masih banyak lagi.

Tidak terhitung banyaknya ilmu yang sudah saya serap secara tidak sadar selama 5 bulan bekerja. Dan saya bersyukur pada Tuhan.
Teman-teman di sekitar saya selalu bersedia mengajari banyak hal. Membagi banyak ilmu. Dan semua itu merupakan hal yang sangat positif. Semoga sikap ingin belajar ini terus terjaga, baik dalam tahap sekarang maupun tahap-tahap kehidupan berikutnya.

Mengutip kalimat bijak khas almarhum Steve Jobs,” Stay hungry, stay foolish”.

Seberapa besar porsi latihan anda?

Saat saya berbicara latihan, ini bukan hanya berbicara dalam konteks seni atau kegiatan menggambar. Latihan yang saya bicarakan tentu mencakup arti latihan bagi semua segi kehidupan. Hampir tidak ada pencapaian, peningkatan, ataupun kesuksesan dalam bidang kehidupan manapun yang dapat diraih tanpa latihan (kecuali tentu dengan cara-cara instant, dan saya sedang tidak tertarik membahas hal ini). Kegiatan berlatih sendiri amat lekat dengan kata kedisiplinan. Dua hal yang tidak terpisahkan.

Setelah saya bekerja di Trans Studio, saya pun semakin mengerti arti pentingnya latihan. Berlatih menggambar, sketsa, konsep, dan karikatur hari demi hari. Sayangnya, dengan alasan kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan latihan pribadi, saya merasa adanya pengaruh yang kuat terhadap kebiasaan, keluwesan, dan kemampuan menggambar saya yang sedikit “canggung”. Tentu hal ini harus saya atasi sesegera mungkin. Berada di lingkungan kerja yang sangat kental dengan atmosfer kreatif, tentu menuntut saya harus (mau tidak mau) konsisten berlatih menggambar apapun kondisinya, hari demi hari.

Semua blog milik seniman-seniman yang saya kunjungi, selalu membahas hal ini. Bagaimana mungkin mereka dapat mencapai tingkat kualitas di atas rata-rata jika mereka hanya akan berkarya jika diberi tugas saja? Bagaimana mungkin mereka bisa mencapai tingkat imajinasi yang luar biasa jika setiap harinya mereka hanya duduk dan makan tanpa membuka buku, situs art, berkeliling kota, mendengar musik yang adalah gudang inspirasi manusia? Bagaimana mungkin seseorang dapat menghasilkan suatu karya menakjubkan jika yang ia lakukan tiap harinya hanya fokus pada kesukaannya yang lain dan bukannya melatih goresan tangannya?

Jadi, seberapa besar porsi latihan pribadi anda sebagai seseorang yang ingin meraih sesuatu amatlah menentukan seberapa cepat perkembangan kualitas yang anda miliki.

Tak ada atlet yang memiliki stamina teruji tanpa komitmen berlatih fisik.

Tak ada penulis yang mampu menghasilkan tulisan yang mengubah cara berpikir dunia tanpa terus berlatih menulis hari demi hari.

Tak ada musisi yang dapat terus konsisten menghasilkan karya-karya baru dan teknik-teknik mengagumkan tanpa berlatih musik hari demi hari.

Dan sebagai seorang yang ingin terus belajar dalam hal menggambar dan melukis, saya akan memberi porsi khusus pada latihan pribadi saya. Mengarahkan diri pada disiplin latihan dari waktu ke waktu. Saya percaya, “kecanggungan” dalam menggoreskan pensil yang saya alami pasti akan berkurang.