Doktrin generasi ke generasi : menggambar pemandangan

Pagi ini, sebelum saya menaruh tas di meja kerja saya, saya mendapat kesempatan berbincang dan berdiskusi dengan senior saya, seorang ilustrator dan komikus berpengalaman yang saya kagumi, Bapak Nurmiadi Ambardi (link komik dan ilustrasi beliau).

Sebuah topik yang entah mengapa, kami jadikan bahasan pagi ini. Sebagai sesama pekerja yang bergerak di bidang kreatif dan seni (beliau adalah seniman senior, amat ahli dalam menggambar kartun, komik, dan berbagai macam ilustrasi baik dengan metode tradisional maupun digital dan saya ilustrator yang masih akan banyak belajar dalam beberapa tahun ke depan), kami menemukan adanya sesuatu yang ‘ganjil’ dalam perkembangan kreasi anak bangsa Indonesia.

Mengapa ganjil?

Saat beliau bercerita tentang kesempatannya untuk mengajarkan gambar pada anak-anak di dua kota besar di Indonesia yang berbeda, terpisahkan lautan, berbeda pulau, Bandung dan Makasar, beliau mendapati ada satu kesamaan ide dan karya yang sangat identik.

Kebebasan yang beliau berikan pada anak-anak untuk menggambar, dijawab dengan menggambar sesuatu yang amat familiar bagi kita semua…

Apakah anda mengenal pola gambar di atas?

Saya yakin, masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi amat mengenal gambar seperti ini. Bahkan sebagian besar pernah mengalami menjadi murid yang diminta oleh gurunya menggambar sama persis seperti gambar di atas.

Dua buah gunung. Jalan raya di tengah-tengah (sudut pandang perspektif), sawah dengan bentuk “V” dilengkapi burung-burung angka 3 juga tidak lupa letakkan sahabat mataharimu di antara dua gunung tadi. Jadilah karya yang paling identik dengan bangsa Indonesia.

Apakah ada yang salah dengan hal ini?

Tidak. Pola gambar pemandangan ini bahkan amat sangat kaya akan ide, kaya akan objek-objek yang menarik untuk digambar (sebut saja pegunungan, awan, pohon, persawahan, dan siapa yang tidak suka dengan matahari?).

Tetapi semua menjadi ‘ganjil’ saat kita mendapati dan menyadari, karya seperti ini begitu melekat di (nyaris) tiap imajinasi dan ide manusia Indonesia. Apakah mungkin hal ini bisa terjadi? Dari turun temurun, generasi ke generasi, semua manusia Indonesia “dituntun” ke arah yang sama. Membatasi kreativitas. Membatasi ide. Membatasi sisi liar dari imajinasi manusia yang berbeda satu dengan yang lain.

Saya amat mencintai dunia menggambar.

Dan saya pun mengalami masa-masa ini. Saat guru saya juga meminta murid-muridnya menggambar tepat seperti contoh di papan tulis. Yang tidak lain menggambar pemandangan.

Rekan saya, Gary (link karya-karyanya) bahkan bercerita pernah mengalami satu hal yang ironis semasa masih belajar menggambar. Saat itu, ia memiliki keinginan untuk ‘melakukan sesuatu yang tidak biasa’. Mewarnai gunung (masih bertema pemandangan), bukan dengan warna yang biasa. Tetapi warna merah. Sesuatu yang ‘ajaib’, unik, dan berbeda. Dan inilah respon gurunya saat melihat : “Kenapa warna gunungnya merah? Apa habis terbakar?”, dimana teman saya ini menangkap kesan ‘langkah yang saya ambil ini adalah salah’. Dan warna yang diinginkan sang guru adalah biru atau hijau. Tidak keluar dari warna-warna rekomendasi tersebut. Hmm. (Kalaupun anda mengalami kasus lain, setidaknya, tetap ada “warna yang benar” yang diajarkan).

Ya. Saat kita mencoba “sedikit nakal dengan kebebasan imajinasi dan kreativitas kita”, lucunya, kita akan mendapatkan respon demi respon yang seringkali berseberangan dengan maksud dan ide kita.

“Nak, kamu salah. Warna atap rumah sebaiknya merah dan bukan ungu.”

“Adik, supaya lebih bagus, warna pohonnya hijau saja, dan bukan ungu.”

“Mengapa warna gunungnya merah? Sebaiknya diganti biru atau hijau saja supaya lebih indah.”

Tiap kita mungkin pernah memiliki pengalaman yang berbeda dalam hal ini. Tetapi, tekad kita seharusnya, mulai dari sekarang, terus menerus mendukung segala bentuk kreativitas, gagasan, dan ide dari suatu karya anak bangsa kita. Khususnya generasi di bawah kita. Anak-anak kita. Murid-murid kita. Pelajar-pelajar kita.

Tidak mendikte. Tidak membatasi terlalu keras. Tidak mendoktrin (lagi). Tidak hanya menyalahkan. Tidak hanya mengkritik.

Tetapi membimbing. Mengarahkan agar tetap sesuai norma. Tetap memberi kebebasan. Memfasilitasi. Memberi kesempatan yang luas. Mendukung. Menyemangati. Memberi contoh-contoh yang baik dan tidak mengkotak-kotakkan “ini yang benar” dan “itu yang salah”. Tidak lagi demikian.

Menjadi pekerjaan rumah bagi kita yang rindu melihat kreativitas Indonesia dibawa ke tingkat yang semakin tinggi. Mari berjuang!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s