Studi color key Big Hero 6

Salah satu animasi terkeren menurut saya. Big Hero 6. Desain dunia yang wow! San Fransokyo! Lalu desain karakter yang super appealing dan lovable. Seperti Baymax, Hiro, dan para kru lainnya. Sangat berkelas dan menghibur, juga menyentuh.

big_hero_6_thumbnail

Saya mencoba menangkap mood, color, ambience, pencahayaan dan sedikit detil dari scene-scene menarik dari keseluruhan film. Banyak sekali scene keren untuk di-repaint, tapi inilah 9 panel scene yang menurut saya, sedikit menggambarkan cuplikan kisah animasi keren karya Disney ini. Maaf jika ada scene favorit teman-teman pembaca yang tidak tergambar disini.

Latihan yang seru, menantang, dan cukup sulit. Karena kompleksitasnya, detilnya, dan kadang perpaduan warna yang kaya dan sangat membingungkan. Bagaimana menemukan warnanya. Campuran warna apa saja yang ada di sebuah scene itu.

Saya memakai program Adobe Photoshop dalam semua proses digital painting ini. Dan SAMA SEKALI TIDAK menggunakan fitur eyedropper/ pick color, untuk mengambil sampel warnanya. Jadi saya ‘nekad’ meramu dan menebak sendiri paduan warna di tiap scene. Rata-rata waktu pengerjaan adalah antara 25 menit sampai 1 setengah jam per scene nya. Tapi ini sebuah latihan yang baik untuk, setidaknya, mencoba mendekati mood dan atmosfer dari scene yang dijadikan referensi. Scene mana dari film Big Hero 6 yang rekan-rekan pembaca paling suka?

color_key_big_hero_6_DONEcolor_key_big_hero_6_scene9color_key_big_hero_6_scene8color_key_big_hero_6_scene6color_key_big_hero_6_scene5color_key_big_hero_6_scene4color_key_big_hero_6_scene3color_key_big_hero_6_scene2color_key_big_hero_6_scene1color_key_big_hero_6_scene7

 

Advertisements

Follower (Likes) or Growth?

Saat seseorang ‘terjun’ ke dunia nan hiruk-pikuk bernama sosial media, maka hal berikut ini seringkali menghinggapi pikiran para penggunanya. Yaitu “adanya dorongan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin likes atau follower.” Mungkin hal ini tentu tidak serta merta dialami semua pengguna sosial media. Tapi harus diakui, saya salah satu orang yang sempat mengidapnya!

Sebagai seorang kreatif yang menggunakan platform sosial media sebagai wadah untuk memperkenalkan diri melalui karya-karyanya ke dunia (via internet), maka, parameter paling mudah untuk mengetahui apakah karya yang dihasilkan sebenarnya mendapat apresiasi atau setidaknya respon dari para pengguna lain, yaitu dengan menakar berapa banyak like atau follower yang sudah kita dapat.

Sampai akhirnya, saya tiba di satu titik dalam art journey sosial media saya, dimana saya sungguh mengevaluasi dan menanyakan pertanyaan kritis kepada diri saya sendiri.

Sebenarnya, untuk apa saya berkarya? Untuk apa saya memajang semua karya saya di dunia maya? Apakah sekadar mengharapkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan likes dan bertambahnya follower yang banyak? Atau sebenarnya, ada hal lebih penting dari itu semua, khususnya jika dilihat dari perspektif seorang artist yang sedang ingin terus belajar konsisten dalam berkarya dan berkembang dalam keterampilannya. Yang mengenal kata,” tidak pernah ada istilah berhenti belajar.”

Setelah merenungkannya, saya harus akui, jebakan “gila likes dan follower” tadi tanpa sadar telah menghambat dan sedikit menjadi distraksi bagi art journey saya. Semua dorongan yang kadang bisa positif tapi juga negatif ini telah memurnikan motivasi saya dalam berkarya.

“Apakah hanya mau berkarya demi meraih likes dan follower banyak? Bagaimana kalau hal itu tidak tercapai? Apakah jadi down, dan melupakan tujuan semula yaitu progres dan pertumbuhan? Bukankah progres atau growth seorang concept artist lah yang terutama? Apakah saya berkarya harus (selalu) mengikuti keinginan dari pasar? Dimanakah letak kesenangan dalam berkarya jika tuntutan-tuntutan seperti ini terus menerus menyetir kehidupan seorang artist?”

Tulisan ini berangkat dari penilaian jujur diri sendiri, melihat fenomena yang terjadi, khususnya apa yang telah saya alami belakangan ini. Sebagai seorang yang ingin terus berkembang, belajar, dan berkarya, saya harus tiba pada satu kesimpulan.

Pasar memang penting. Selera orang lain memang patut diperhatikan, tetapi bukan segalanya. Sedari awal, seni sudah seharusnya bisa dinikmati, baik oleh sang seniman itu sendiri dan oleh dunia. Sampai saat itu tiba, biarlah progres pertumbuhan seorang seniman juga harus mendapat porsi yang cukup, tanpa tergerus terus-menerus dengan tuntutan dan jebakan “likes dan follower” di dunia maya.

Selamat mengejar perkembangan dalam bidang apapun!

Ping Pong

Pada tahun 2016 lalu, kantor tempat saya berkarya mulai menyediakan satu unit fasilitas olahraga, yaitu meja ping pong di salah satu ruangnya. Tujuan utama adalah untuk memfasilitasi para karyawan dengan hiburan sekaligus alat olahraga yang diharapkan dapat meningkatkan chemistry antar pegawai, menopang gaya hidup sehat dan produktivitas dalam bekerja.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hanya butuh 2.5 tahun untuk mengubah cara pandang saya akan olah raga ini. Olah raga yang semula hanya sekadar permainan untuk senang-senang atau sekadar isi waktu, kini, sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya!

Diawali dengan rutin bermain di jam istirahat siang, meski dengan kemampuan sangat pas-pasan, tanpa modal pemahaman dan teknik bermain yang memadai (funfact: olah raga favorit saya selalu sepak bola, sebelumnya tidak pernah tertarik dengan ping pong), dan dikelilingi teman-teman yang juga awam dan pemula dengan olah raga ini, maka, seiring waktu, ketertarikan mulai muncul terhadap ping pong.

ilustrasi ping pong

Dengan modal nekad dan otodidak (belajar sendiri, tanpa pendidikan/ latihan formal), maka, tahun 2019 ini, saya sudah semakin menikmati permainan ini – meski belum bisa dikatakan mahir. Ping pong sangat adiktif dan menyenangkan! Selain itu, dengan ping pong yang reguler, saya bisa membakar kalori, mempererat pertemanan di kantor dan menjaga hidup tetap sehat.

Ini juga salah satu cara saya agar tidak terpaku duduk di depan monitor sepanjang hari selama bekerja. Lagipula, untuk hidup yang lebih sehat, kita harus terus bergerak, bukan?

Ya. Ping pong bukan lagi sekadar permainan. Ia sudah menjadi pemberi warna, pengisi hari, penyemangat, pendorong untuk tetap mengejar hidup sehat. Saya bersyukur bisa menikmati olah raga ini bersama teman-teman saya.

Apa olah raga yang teman-teman biasa lakukan di waktu senggang?

Selamat mengejar hidup sehat dan seimbang!

 

 

 

Menjadi Orang Tua yang Ekspresif?

Sudah 27 bulan lamanya (sejak istri mengandung 9 bulan + usia putri saya sekarang, 18 bulan), saya menjalani peran sebagai orang tua. Ada satu hal penting yang saya pelajari dari interaksi dan waktu yang dilewati bersamanya.

Tidak lain adalah bagaimana saya yang introvert dan cenderung tidak terlalu ekspresif ini, sedang dibentuk dan diajar untuk mau menjadi lebih ekspresif yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti kemampuan untuk tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan.

Ya. Tiap interaksi saya dengan putri saya, kini, haruslah lebih ekspresif. Saya harus mampu menampilkan gestur, gerakan, sikap, atau tingkah laku yang ekspresif, khususnya saat sedang bermain dengannya. Ini adalah sebuah kata kunci baru dalam perjalanan saya sebagai orang tua.

EKSPRESIF. 

Saya tidak perlu malu, saya tidak perlu jaim (jaga image) apabila di dekatnya. Saya bisa menjadi apa adanya saya. Bermain, menari, melakukan gerakan-gerakan lucu dan kadang tak terduga, mengeluarkan suara-suara aneh, hingga ekspresi wajah yang cenderung cartoony. Semua demi memperkuat bonding dan keintiman yang murni dengan sang buah hati. Ia akan melihat apa adanya saya. Tidak tertutup-tutupi. Inilah saya yang konyol, kocak, kaku, cartoony, bahkan garing (membuat lelucon yang kadang tidak lucu) di hadapannya.

Sketch_28_2_2018

“Apakah berarti orang tua yang tidak terlalu ekspresif bisa dikatakan tidak dekat dengan anaknya?”

Bukan demikian. Tentu saya percaya, kata ekspresif tidak serta merta menjadi rumusan yang berlaku baku dan wajib bagi semua orang tua. Tapi ini berlaku bagi saya. Kami berdua jadi lebih menikmati waktu bersama. Waktu membaca buku anak jadi lebih berwarna, lebih ceria, lebih hidup, lebih menyenangkan.

Membaca dengan intonasi yang dinamis, playful, bahkan diselingi bunyi-bunyian tertentu (misal: hewan kucing – meong, atau mobil – ngeeng, hingga traktor – dududududuk), akan membuat aktivitas membaca lebih seru! Tidak monoton.

Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana menjaga mood dan situasi hati untuk tetap konsisten menampilkan ekspresi yang hidup, semangat, dan menyenangkan bersamanya, ketika saya baru saja menghadapi hari yang berat (lalu lintas hectic, atau deadline pekerjaan kantor yang tidak terduga). Ini adalah tantangan setiap harinya.

Tapi, menjadi ekspresif adalah satu komitmen baru saya dalam menjalani peran sebagai bapak. Saya percaya, dengan menjadi orang tua yang ekspresif, jujur dalam menampilkan citra diri di hadapan anak, termasuk ketidaksempurnaan dan apa adanya diri saya, hubungan diantara kami akan semakin erat, dekat, dan mesra.

Biarlah masing-masing kita, sebagai orang tua, mampu lebih kreatif mengembangkan cara-cara untuk menjalin hubungan yang kuat dengan putra-putri kita. Semua tidak akan sia-sia.

Draw 100 Somethings.. Food Truck

Di awal Januari lalu, saya memberanikan diri mengambil resiko gagal dalam sebuah art challenge yang bernama “draw 100 somethings”, yang digagas oleh Jake Parker. Ilustrator panutan saya yang terkenal dengan Inktober dan graphic novel Skyheart nya.

Dalam video berikut, dia mengisahkan perjalanan dirinya dalam menuntaskan sebuah art challenge nan ambisius, meski tergolong simpel dan relatif (tampak) mudah, draw 100 somethings

Didorong oleh keinginannya untuk berkembang semakin baik sebagai concept artist/ illustrator, dan sebagai cara mendisplinkan dirinya menggambar tiap hari. Maka, ia menemukan salah satu metode yang tepat dan manjur untuk membiasakan habit ini. Sebuah tantangan menggambar sebanyak 100 buah desain/ ilustrasi!

Tipsnya sederhana. Kita diharuskan menggambar satu tema yang sudah ditentukan (oleh kita sendiri), dan mengembangkan ide dan desainnya menjadi 100 macam variasi desain yang berbeda, tetapi tetap dengan ciri khas yang identik.

Tema spesifik. Sebaiknya tidak terlalu umum dan luas, misal: daripada memilih tema “pesawat”, yang memang sangat luas macamnya. Dapat dibuat lebih spesifik menjadi “pesawat tempur, dua kursi”. Maka, pengembangannya pun bisa lebih spesifik, tetapi semakin menantang dalam prosesnya.

Maka, saya pun memilih tema “FOOD TRUCK”. Alasannya sangat sederhana. Pertama, saya memang ingin belajar menggambar dan mendesain mobil. Khususnya food truck. Mengapa food truck? Karena, alasan kedua yaitu saya suka makan. Saya juga suka street food. Saya suka memperhatikan bagaimana sebuah kios atau makanan dijual, ditampilkan, didesain, agar menarik perhatian pengunjung. Jadi, tema ini mampu mengkombinasikan alasan-alasan tadi.

Saat artikel ini ditulis, saya baru saja menyelesaikan food truck ke-25. Sebuah milestone yang baik meski masih panjang perjalanan menuju angka 100. Mengingat saya mengerjakannya di tengah rutinitas harian sebagai full timer concept artist di sebuah perusahaan animasi, dan sekaligus membagi waktu dengan keluarga tiap harinya. Saya pun mengerjakannya (sering kali) di malam hari, sebelum tidur.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama proses mengerjakan tantangan ini. Saya berjanji akan membagikannya saat saya selesai menuntaskan ke-100 food truck buatan saya. Doakan saya!

 

Parenting and Art Career

Putri saya sudah hampir berusia 1.5 tahun. Tidak terasa. Perjalanan yang dilewati memang baru ‘seumur jagung’. Belum ada apa-apanya. Masih banyak kejutan dan pelajaran menanti di depan. Tapi rasa syukur harus terus dipanjatkan.

Dan saya kian menyadari betapa peran saya amat dibutuhkan di tengah kehidupan putri dan keluarga saya. Di lain sisi, profesi yang saya tengah jalani, yaitu concept artist, mendorong saya untuk tetap memperhatikan karir kreatif ini. Tetap harus dijalani dengan baik, profesional, dan tetap menajamkan diri dalam banyak aspek kreatif.

Disinilah tantangan itu muncul.

Bagaimana saya harus tetap bijak dan tepat dalam mengelola prioritas, berupa waktu, energi, dan perhatian saya, terhadap dua aspek tersebut. Secara seimbang.

20190126_035839

Komitmen utama saya adalah keluarga. Meski terkadang masih gagal dalam menjalankannya, tapi, setidaknya saya tahu apa yang paling utama dalam hidup saya. Bagaimana saya ingin seoptimal mungkin bisa tetap hadir dalam kehidupan keluarga saya. Kualitas hubungan dengan istri tercinta, dan juga dengan putri saya. Memandikan anak nyaris tiap pagi di sepanjang tahun sebelum berangkat kantor sudah menjadi sebuah habit dan “ritual” saya dalam memulai hari. Saya pun kian menikmatinya. Sebuah bonding tercipta di antara kami. Meski singkat, tapi, saya tahu tidak akan sia-sia.

Lalu, sudah menjadi bagian hidup saya untuk tetap menajamkan diri dalam berbagai aspek dan keterampilan sebagai seorang kreatif. Bagaimana mengejar konsistensi untuk berkarya, studi, belajar hal baru, observasi, dan terbuka dengan banyak inspirasi di luar sana. Sambil tetap bekerja fulltime sebagai concept artist di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Menantang. Khususnya agar semua berjalan dengan baik dan tetap seimbang. Tidak ada yang berat sebelah.

Peran ini akan saya jalani dengan rasa syukur, dan selalu meminta kekuatan dari Sang Ilahi. Saya tahu, kapasitas saya akan terus ditingkatkan-Nya dari waktu ke waktu. Bukan karena saya layak untuk itu, tapi karena Ia begitu baik bagi saya.

New hobby in 2019: Making video!

Sudah sejak lama saya ingin belajar bagaimana membuat video. Entah video timelapse proses berkarya saya, atau sekadar video dokumentasi perjalanan bersama keluarga.

Entah mengapa, saya berpendapat bahwa media video merupakan cara paling lengkap dan akurat dalam menyampaikan berbagai macam gagasan, berupa visual, suara, narasi, ditambah efek tertentu. (Animasi juga bisa jadi alternatif!)

Karena sewaktu kuliah – jurusan desain interior- , saya tidak pernah mengetahui apapun perihal ilmu membuat video, maka, baru di era Youtube sekaranglah, dimana bertebaran segudang tips & trick (dari yang paling mudah hingga kompleks), juga tutorial dari orang-orang yang berbaik hati berbagi pengetahuan dan ilmu mereka, saya mulai memberanikan diri memulainya hobi ini.

Inginnya bukan sekadar asal membuat video. Tapi, minimal ada sedikit hal yang bisa dibagikan. Entahkah itu berupa tutorial, timelapse proses saya berkarya, atau sekadar video dokumentasi pribadi.

Dan dalam penggarapannya, saya merasa perlu memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar dalam membuat sebuah video agar lebih menarik. Saat pengambilan gambar – footage, program editing yang sesuai bagi saya, perlengkapan yang mendukung, belajar hal basic soal cinematography, seperti pengambilan angle, komposisi, dan lain sebagainya.

Ternyata hal-hal di atas sangatlah seru dan menyenangkan.

Semoga saya bisa terus bereksperimen, mencoba hal baru, tidak takut melakukan kesalahan, dan tidak terburu-buru ingin hasil maksimal, karena yang paling penting adalah menghargai proses sambil tetap menghasilkan sesuatu. Tetap mencoba. Terus belajar dan terbuka pada masukan juga kritik, demi perbaikan ke depannya.

Keep making something to inspire others! Happy creating!

Terimakasih sudah berkunjung di artblog ini!